Selasa, 01 November 2016

an Indonesian in Indochina (babak #7)



BERBICARA mengenai target, tidak akan lepas dari yang namanya tujuan. Lantas bagaimana jika target telah terpenuhi? Lantaskah semua selesai? Ternyata tidak. Itulah manusia, selalu tidak puas. Hanya mau, mau, dan mau lagi. Sudah lebih dari duapuluh tahun lalu ketika saya mencanangkan target untuk mengunjungi negara-negara di Asia Tenggara. Waktu itu saya masih duduk di Sekolah Dasar, ingusan pula. Kali ini saya berhasil, tuntas mencapai target mengunjungi Asia Tenggara secara paripurna. Filipina menutup rangkaian perjalanan saya di Asia Tenggara. Tapi tunggu dulu, saya akan kembali lagi ke Filipina karena di Filipina semuanya lebih menyenangkan. Namun walaupun begitu, Indonesia negara saya, tetaplah tiada duanya.


Marietta sedang duduk tertidur sambil memeluk kardus bawaannya yang tertulis jelas nama lengkapnya. Sengaja dibuat besar tulisan nama depan dan belakangnya agar mudah dikenali. Marietta Romero. Kardus dalam dekapannya seolah tahu bahwa sang majikan tidak mau kehilangan dirinya. Rupanya Marietta terlelap kelelahan di sudut bandara karena baru saja mendarat dari Davao City nun di selatan Filipina. Ketika dia terjaga, -saya yang juga sedang selonjoran di sebelahnya-, langsung berinisiatif membuka obrolan ringan pada tengah malam budeg. Ketika bercengkerama dengan Marietta yang berparas manis macam Maribeth jaman ABG pada dini hari itu, Manila masih belum bangun. Manila masih tertidur nyenyak di ruang kedatangan Bandara Internasional NAIA. Kok rasanya dalam obrolan ini, saya ingin didendangkan lagu Denpasar Moon sebagai penghantar musik latar belakang.

Manila City Bay


Alamak, ternyata Marietta baru saja putus cinta dengan kekasihnya yang bernama Roberto di Davao City. Merasa dikhianati dan tak ada tambatan hati, Marietta lantas memilih mudik ke kampung halamannya di Isabela, nun di utara Filipina sana. Entah bagaimana wujud Davao City dan Isabela, terpaut jauh utara dan selatan, hanya saja pagi itu saya merasa terkesiap laksana berada di tengah-tengah adegan telenovela yang penuh dengan nama-nama nuansa Amerika Latin. Saya simak cerita Marietta sambil mengerjap-ngerjapkan mata, bahwa saya sedang tidak bermimpi, bahwa saya sedang berada di Manila. Bahwa Maribeth versi ABG sedang ngobrol dengan saya. Mabuhay.

Mengikuti saran Marietta tadi, ketika saya keluar dari bandara, saya menumpang bus menuju EDSA. Wajah Manila menampakan wujudnya. Padat, sibuk, kotor, macet, kusam, ramai, kesan pertama saya ketika tiba di tengah-tengah EDSA.

One of Manila's corner

EDSA merupakan salah satu persimpangan sibuk di Manila. Pangkalan bus semrawut, stasiun kereta kumuh, pedagang kaki lima ramai riuh rendah. Saya pun baru tahu bahwa kota Manila terdiri dari beberapa distrik yang pembangunannya timpang antara satu distrik dengan distrik lainnya. Dari EDSA saya memutuskan untuk mengambil arah ke utara. Entah apa alasannya, hanya saja saya ingin menuju ke bagian utara Manila.

Setelah beberapa stasiun pemberhentian, Pedro Gil mencegat saya ditengah-tengah perjalan menggunakan kereta commuter. Tahukah kawan bahwa Pedro Gil ini sesangar namanya. Pedro Gil ini adalah sebuah stasiun yang terletak di depan Universitas De La Salle, terlihat kotor dan agak kumuh. Saya tetap putuskan turun dan mencari penginapan di sekitar Pedro Gil. Di daerah kampus begitu, semoga ada penginapan murah meriah, begitu saja perkiraan saya.



Ternyata kesimpulan saya benar. Di Pedro Gil, yang termasuk kedalam distrik Manila City, terdapat beberapa penginapan ala kadarnya. Dormitory berhasil saya dapatkan hanya seharga 400 peso, karena mba-mba resepsionis memberikan diskon, musabab kasihan melihat saya yang berkeluntang-lantungan di pagi hari. Jadilah malam itu saya menginap berbagi kamar dengan sepuluh pejalan lainnya.

Funny Guest House in Pedro Gil

Armando, orang Filipina tapi bukan berasal dari Manila, sibuk dengan gadget yang dicolokkan di lobby guesthouse kami. Dia memperkenalkan diri, dan mengira saya berasal dari Jepang, perkara mata saya berbentuk garis walau sudah berusaha melotot. Armando laksana kepala suku di guesthouse dan memperkenalkan dengan penghuni yang lain. Dia mengaku sudah 3 malam tinggal di guesthouse ini, lantas menasbihkan dirinya sebagai senior penguasa lobby dan area sarapan. Walau lagaknya sedikit tengik tapi si Armando ini baik, selalu berusaha membagi informasi tentang negaranya kepada pejalan yang kebingungan akan melihat dan melakukan apa di Manila.

Obrolan di guesthouse tidak jauh-jauh dari skema penggunaan angkutan lokal khas Manila bernama Jeepney. Sebenarnya sih ini angkot, tapi tampilannya menyerupai odong-odong. Prosedur membayar ongkos Jeepney pun sama persis ketika kita naik Angkot. Naik di belakang, bilang stop kalau mau berhenti, turun dan berikan ongkos melalui jendela depan ke supir. Namun hanya tampilan Jeepney saja mirip bemo, tepatnya bemo yang pergi ke Mak Erot. Jadi ukurannya lebih panjang.

What to do

Beberapa orang asing menganggap sistem pembayaran tunai ke supir merupakan ritual unik, terutama bagi bule-bule yang memang di kampungnya tidak ada metode pembayaran angkutan manual macam itu. Dibandingkan di Indonesia, tetap saya lebih suka angkutan di Indonesia, musabab penumpangnya berdoa dulu sebelum menjejakkan kaki ke dalam angkot atau bus. Seolah memasrahkan nasib kepada pengemudi yang tabiatnya ugal-ugalan.

Jeepney's serious driver

Lantas berapa yang harus dibayar ke pak Supir Jeepney? Murah, hanya 7-10 peso sekali naik. Jauh dekat ya segitu. Tinggal berikan uang 10 peso, bersyukurlah kalau ada kembalian, kalau supir tidak memberikan kembalian ikhlaskan saja.



Jeepney membawa saya ke Kota Tua nya Manila. Berkeliling jalan kaki di sekitar Kota Tua Manila, lumayan memberikan sensasi mundur beberapa abad kebelakang. Bangunan cantik terawat baik yang difungsikan menjadi cafe, toko souvenir, museum. Ada yang gratis untuk melihat isi dalamnya, ada juga yang harus bayar. Kawan, kalau saya sarankan pergilah ke Kota Tua ini di pagi hari, karena masih sepi dan tidak terlalu panas. Mirip-mirip sedikit lah dengan Kota Tua yang ada di Semarang.

Old City Main Gate

Dari Kota Tua bisa sekalian mengintip ke Rizal Park yang termasyhur di Manila. Layaknya sebuah taman kota besar, hiruk pikuk dengan orang-orang berbagai aktivitas. Sedikit agak kurang bersih tapi lumayan untuk ngadem-ngadem di siang bolong.

Alvarez, kawan lama saya orang Filipina yang tinggal di Cebu, tiba-tiba mengirim pesan singkat. Entah kebetulan, entah karena Alvarez mengetahui posisi saya yang sedang berada di negaranya akibat saya terlalu narsis di media sosial. Bunyi pesan singkat Alvarez adalah tawaran menginap di sebuah hotel mewah di daerah Bonafacio Manila. Gratis.



Saya mengenal Alvarez ketika saya membatalkan perjalanan saya menuju Bagan di Myanmar. Saat itu saya terserang diare ditambah musim Moonsoon sedang melanda di Myanmar. Terdamparlah saya di losmen murahan di Yangoon yang berada disekitar kuil Sule Paya. Meratapi nasib tertinggal bus menuju Bagan. Dalam pada itu, munculah Alvarez tergopoh-gopoh keluar dari taksi. Meminimalisir kuyupnya guyuran hujan, Alvarez langsung menuju meja resepsionis losmen. Taksi pun meluncur menerabas lebatnya hujan.

Kami berkenalan dan ngobrol, lalu drama dimulai. Alvarez baru menyadari bahwa telepon genggamnya tidak ada di sakunya. Dia ingat tadi mengeluarkan telepon di dalam taksi dan meletakan di jok, terburu-buru keluar taksi demi menghindari hujan. Tertinggal lah telepon genggamnya. Alvarez gundah gulana, meminta bantuan kepada resepsionis hotel untuk menelepon perusahaan taksi tadi. Saya menemaninya kembali lagi ke terminal bus Aung Mingalar, tempat dia menyetop taksi demi mencari telepon genggamnya yang hilang. Alvarez berharap bisa menemukan sang sopir yang mangkal di Aung Mingalar.Tapi nihil.


Pesan singkat yang saya baca dibawah rindangnya pohon di Rizal Park sangat menggembirakan. Alvarez mengirim kode voucher yang dapat saya gunakan untuk bermalam di Hotel Ascott Bonafacio dan menyarankan agar saya mencoba Balut. Memang rezeki tidak pernah salah alamat.

Balut adalah telur bebek berusia 18 hari yang akan menetas dalam 3 hari lagi. Telur ini lantas direbus setengah matang lengkap dengan embrionya. Makanan eksotis dari Filipina. Jijik, pasti. Tapi orang-orang di Manila terbiasa menyantap Balut terutama setelah makan malam. Uji nyali kalau buat saya.

Balut, dare to try?

Adalah hotel Ascott Bonafacio yang saya datangi. Sesuai tulisan pada voucher yang berbunyi Ascott. Perjalanan ngegembel saya malam ini terasa naik kelas sedikit. Penuh percaya diri tanpa grogi, celana jeans sobek-sobek yang saya kenakan terasa seperti katun murni model pantalon ketika saya melangkahkan kaki menuju lobby hotel. Kondisi saya bisa dibilang sangat prima sekali. Ternyata ketika menanyakan reservasi saya, Hotel Ascott yang dimaksud bukanlah yang di Bonafacio, tapi yang di daerah Macati. Pesan moral adalah jangan terlalu percaya diri kalau mau check in di hotel. Balik kanan bubar jalan.



Petugas hotel terlihat lebih ramah ketika dirinya mendapatkan kepastian bahwa saya akan menginap di hotelnya. Padahal sesaat sebelumnya, sempat saya meminta izin untuk pinjam stopkontak di lobby hotel demi mengisi daya telepon genggam yang nyaris habis. Petugas hotel terlihat seperti tidak iklas dan mengira saya gembel dari mana bisa nyasar di hotel mewah. Kawan, roda itu berputar begitu juga hidup. Begitu saya keluarkan voucher sakti, barulah petugas hotel terlihat lebih beramah tamah. Mimik muka yang bisa saya gambarkan adalah Oy malih, nih gw nginep disini, mana kamar terbaik lu, gw bayarin. Lagak lo juga sekalian, sini gw bayarin.



Malam terakhir saya di Manila, saya habiskan dengan ngemil popcorn Manila yang enaknya minta ampun dan menikmati fasilitas hotel. Tahukah kawan, bahwa voucher yang diberikan Alvarez itu sebenarnya bisa untuk tiga malam lagi, tapi sayang keesokan harinya saya harus meninggalkan Manila menuju Boracay.  Bisa runyam urusannya kalau saya tertinggal pesawat menuju Kalibo City. Sesuatu yang menggembirakan sudah menunggu di Boracay. It’s more fun in the Philliphines!

Souvenir pic from Manila. See ya in Boracay!