Senin, 04 Mei 2015

Tiada Letih di Ciletuh

HASRAT menggebu-gebu di akhir pekan demi melihat air terjun. Air yang terjun bebas rasanya mewakili suasana hati yang sedang gundah gulana, dilema galau perkara ditinggal pergi calon bini. Peringatan! Air terjun hanya untuk dilihat saja, jangan sampai ikutan terjun. Bisa runyam.

Jaman SD pernah saya dijelaskan tentang air yang mengalir dari sumber mata air di gunung hingga bermuara di laut. Selewat saja. Baru lantas belakangan ini ingin sekali melihat hulu air nun di puncak gunung sana, atau minimal air terjunnya. Doa saya terkabul, ada Rombongan Remaja Setengah Baya ibukota yang berencana mengunjungi Ciletuh di Jawa Barat. Konon di Ciletuh banyak sekali ditemukan air terjun. Saya ikut Rombongan Remaja Setengah Baya itu. Berburu air terjun.



Berlandaskan azas Pergi Murah Pulang Selamat, kami menyewa sebuah mobil carteran kapasitas sepuluh kursi menuju Cibadak Sukabumi. Harga yang di banderol oleh sang empunya mobil adalah dua juta rupiah, sudah termasuk tetek-bengek segala ongkos toll, parkir, bensin, jasa supir, tips supir, bebas nyasar, tapi tidak bebas macet. Pergi pulang. Menjelang tengah malam kami bertolak menuju Cibadak.



Akhir pekan baru saja lewat dua jam ketika mobil sampai di Cibadak. Di sana telah menunggu sebuah Land Rover tahun 70-an yang siap menggantikan peran mobil carteran menuju Ciletuh. Mobil ini akan setia bersama kami selama dua hari ke depan menjelajah hutan dan perbukitan di Ciletuh, menemani berburu air terjun.



Tengah malam budeg itu kami lalui bagaikan mimpi buruk terkonclang kanan-kiri di dalam Landy, panggilan kesayangan kami untuk si Land Rover. Jalanan yang dilalui dari Cibadak menuju Ciletuh hanya tiga setengah jam saja. Artinya selama itu pula lah kami akan tidur-tidur tahi ayam sambil terpental-pental perkara jalanan berlubang selebar tempayan.

###

Kontur tanah di kecamatan Ciemas memang sudah sejak dulu terjal seperti itu. Saya taksir, perkara internet-lah yang menjadikan kontur tanah di Ciemas menjadi sorotan. Entah siapa yang duluan mengunggah air terjun dan patahan di kecamatan Ciemas. Walhasil sedikit demi sedikit, unggahan foto air terjun di Ciletuh, menjadikannya tenar. Kawasan Ciletuh yang sekarang berusaha go internesyenel dengan membubuhi nama belakangnya dengan Geopark. Kawan, rasanya di zaman yang serba kekinian seperti sekarang ini, jika kalian belum bertandang ke Ciletuh Geopark dan melakukan wefie alias foto rame-rame, niscaya kekinian kalian patut dipertanyakan. Sedih memang, sayangnya kami juga melakukannya. Biarlah, kami memang begitu anaknya.



Mendung menggantung ketika kami berada di Panenjoan. Sebuah areal di atas patahan Ciletuh plateau yang langsung menghunus ke arah pantai. Jurang menganga lebar sedalam 300 meter dengan rentang berbentuk huruf U yang saya kira panjangnya lebih dari 10 kilometer, menggelorakan semangat untuk melihat lebih dekat seperti apa air terjun yang keluar dari sela-sela patahannya.



Tujuan pertama kami Curug Awang. Walau hujan turun deras, bukanlah masalah. Kami berpedoman pada teknologi canggih, jas hujan. Rupanya di musim penghujan tabiat Curug Awang benar-benar perkasa. Dia menggelontorkan seluruh aliran agar air bisa terjun bebas dari segala penjuru. Kawan, jangan sekali-kali mencoba bermain pancur pada saat air terjun sedang berada di musim penghujan. Ini sekedar nasehat saja.



Semakin tinggi dan deras debit air yang terjun, semakin deras dan tinggi pula air yang memercik. Curug Awang tahu betul bagaimana memesonakan orang-orang yang melihatnya. Percikan air di Curug Awang sekonyong-konyong membentuk lengkungan pelangi. Curug Awang boleh jadi merupakan tempat turunnya bidadari yang perosotan dari khayangan melalui pelanginya. Ketika bidadari mandi, maka si Jaka Tarub mengambil selendangnya. Meminjam kisah Jaka Tarub tadi, kira-kira saya harus mengeceknya, mungkin masih ada bidadari di bawah sana.



Bidadari tidak ada, yang ada di bawah Curug Awang adalah buledari. Canada punya. Bersama dengan si buledari tadi, kami basah kuyup terkena percikan air terjun yang terpantul-pantul setelah menghempas batu. Percikannya menghasilkan lengkungan pelangi. Indah tak terperi.

###

Hujan semakin deras di Ciletuh. Landy mengerem berdecit menuruni jalan terjal menuju Curug Sodong. Dari kejauhan Curug Sodong sudah terlihat menggoda. Semakin dekat, semakin kami bersemangat untuk menyapa Curug Sodong. Rupanya pemandu kami di Ciletuh sudah tahu betul bagaimana harus memarkir Landy dengan pose pas di bawah Curug Sodong. Siang itu hanya rombongan kami yang bersua dengan Curug Sodong.



Debit air Curug Sodong sedang meriah-meriahnya. Di tengah Curug Sodong ada sebongkah batu yang entah bagaimana bisa tersangkut pas di tepian. Ibarat telur di ujung tanduk, batu itu bertahan sekuat tenaga menahan kerasnya dorongan air Curug Sodong. Gigih, gigih sekali.



Kawan, jika kalian bertandang ke Ciletuh dan tidak menggemari nuansa alam dan air terjun, saya sarankan lebih baik tidak pergi kesana. Jika jiwa-jiwa kalian memilih menyukai pusat perbelanjaan daripada menontoni aliran air yang sering dianggap sebagai kegiatan bikin-capek-badan, sekali lagi, tidak perlu ke Ciletuh.

###

Landy kembali meraung-raung menaiki bukit ketika keluar dari Curug Sodong. Kami meluncur menuju pantai yang berbentuk tapal kuda. Pantai itu melengkung nyaris menyerupai huruf U sempurna. Jalanannya tidak usah dirisaukan, masih lubang selebar tempayan mengangga gembira. Kami ajrut-ajrutan di tepi pantai.



Di ujung jalan, Landy menepi di sebuah warung. Kami rehat sejenak mencicipi gorengan pisang. Ternyata di balik warung itu ada jalan setapak menuju Curug Cimarinjung. Melewati pematang sawah dan melompati pinggiran irigasi kami tiba di Curug Cimarinjung.



Entah bagaimana semua air itu bisa mengucur deras bak bendungan Katulampa di musim penghujan yang siap membanjiri Jakarta. Rasanya Curug Cimarinjung saat itu agak menyeramkan juga. Debit air sangat ganas bergelora. Berbekal pisang goreng sebagai pengganjal perut, kami nekat mendekat ke arah dua batu besar yang menjadi ciri khas Curug Cimarinjung. Hanya demi mengabil secuplik-dua cuplik gambar di tengah intensitas air yang begitu bergemuruh. Kami memang begitu anaknya. Kekinian sekali.

###

Sempat kami berdiskusi apakah kami akan langsung menuju Puncak Dharma atau harus kembali ke homestay. Saat itu, posisi kami di Curug Cimarinjung sudah dekat jika ingin mendaki ke Puncak Dharma. Puncak Dharma adalah sebidang tanah dimana bisa mengamati lengkungan pantai berbentuk tapal kuda dengan gegap gempita. Penuh pertimbangan, kami putuskan naik ke Puncak Dharma saat itu juga.



Semua bersiap di dalam Landy, karena setelah ini akan ada guncangan dahsyat untuk menuju Puncak Dharma. Roda Landy berputar bergerak pelan, merangkak naik ke bukit terjal di hadapannya. Kami berpegangan pada apa saja yang bisa di raih. Teraduk-aduk di dalam Landy.

Guncangan hebat lumayan membuat punggung, pundak dan bokong bermanuver sembarangan. Landy menikung ke kiri, kami terhempas ke kanan. Landy menukik ke kanan, kami miring ke kiri. Terpental-pental sesuai besaran batu nan terjal yang berhasil diterjang. Hingga bunyi merepet dan teriakan keras semua penumpang. Landy berhenti total. Terjerembab dalam kubangan lumpur. Posisi miring, sungsang di tengah jalan. Kami semua melompat keluar.

Sang Pemandu menyarankan agar kami terus mendaki menuju Puncak Dharma dengan berjalan kaki. Landy harus dikeluarkan dari dalam lumpur. Kami meninggalkan Landy, mendaki mengikuti gemericik jejak air yang membentuk aliran jalan setapak. Semakin keatas, batu semakin terjal, hingga kami tiba di Puncak Dharma.



Selayaknya adegan tiba di puncak gunung, tidak ada lagi aktivitas lain selain mengabadikan momen-momen sepuasnya. Diatas  Puncak Dharma kami waswas. Landy tak kunjung menyusul. Terpaksa kami turun kembali menengok nasib Landy.

Landy masih terjerembab seperti sedia kala. Beramai-ramai kami dorong Landy agar terbebas dari jerat kubangan lumpur. Berat sekali. Semangat bersatu mendorong Landy berhasil memisahkan roda dengan tanah berlumpur. Landy terseok-seok meluncur kembali.



Mempertimbangkan aral terjal dan keselamatan, kami biarkan Landy menuju Puncak Dharma tanpa muatan. Kami mendaki lagi untuk kedua kalinya menuju Puncak Dharma. Bahagia rasanya.

@arkilos

*Tips Ciletuh ala-ala:
1. Cari angkutan apapun sampai di Cibadak Sukabumi. Tentukan tempat janjian, bisa di depan RS, Ruko, Pom Bensin, Kantor Polisi. Pilih tempat ramai karena Landy akan menunggu dini hari.
2. The more the merrier. Pergi rame-rame lumayan hemat, patungan karena sewa Landy dua hari semalam plus akomodasi bisa habis sekitar 4 juta-an.
3. Mau coba tanpa Landy menyusuri Ciletuh. Silahkan saja. Siap-siap jika as roda patah.
4. Bawa air minum minimal seliter setiap orang. Di Ciletuh ada mini market, santai.
5. Pastikan segala gadgets yang mendukung fungsi kamera sudah terisi baterai penuh, dan dilindungi anti air. Bakalan basah.
6.  Peralatan renang silahkan dibawa, jika beruntung bisa lah se-celup dua celup di air terjun sana.
7. Sensasi mengunjungi di musim hujan, debit airnya deras, warna air coklat. Tidak disarankan renang.
8. Berkunjung di musim tidak hujan, debit airnya sedikit, warna air jernih. Tinggal pilih waktu yang pas sesuai selera.