Senin, 26 Januari 2015

Melintasi Tanah Surga

BUS yang saya tumpangi berlari seperti kuda larat musabab jalanan yang rusak parah. Lubang-lubang selebar tempayan menganga bak kubangan sapi dikala musim hujan. Gambaran ini pernah saya lihat ketika menonton film Tanah Surga, dimana aspal dan tanah saling bersenjangan. Kini saya rasakan. Konon kabarnya jalanan rusak ini merupakan tanah surga. Saking penasarannya, saya tandaskan jalan Lintas Malindo hingga tak bersisa, sampai saya tiba di sebuah tempat bernama Entikong. Melewati  Entikong, habis sudah Indonesia, pagar pembatas menyortir satu-persatu pelintas batas. Bagi penerabas tak berizin lengkap paling hanya bisa lari lingkang pukang berkejaran dengan petugas karena masalah sepele, yakni  gagal menyelundupkan narkotika.




Panas menjerang di Pontianak melengkapi suasana seharian berkeliling menyusuri sungai Landak. Hilir sungai Landak ternyata bertemu di sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia. Kedua sungai bermuara menjadi satu, bersama menuju laut, seolah membelah Pontianak menjadi dua. 


Ada garis imajiner bernama khatulistiwa dianugrahi Tuhan untuk Pontianak. Garis yang membelah bumi menjadi sama besarnya itu persis melintas di sisi utara sungai Kapuas. Sebuah kayu ulin pun ditancapkan untuk menandai keberadaan garis khatulistiwa. Penanda mana bumi bagian utara dan selatan. Konon pada tanggal tertentu, muncul fenomena yang disebut ekinoks, bayangan benda niscaya hilang karena matahari benar-benar berada diatas, vertikal tegak lurus. Bukan main.




Menurut saya, entah kenapa suasana di tempat kapal-kapal berlabuh selalu suram. Selalu terasa panas, keras, kasar dan penuh marabahaya. Malam ini saya sedikit beruntung, mendapatkan penginapan di dekat pelabuhan. Artinya harus ekstra waspada. Benar saja, baru lima menit berada di kamar, sosok seseorang yang mengikuti dari warung tadi, sudah mengetuk pintu. Bisa-bisanya penginapan ini dimasuki orang dengan bebas.



Saya tidak membukakan pintu, karena saya tahu betul siapa yang ada dibaliknya. Pelacur kelas teri yang mangkal di pelabuhan itu rupanya mengikuti setelah saya selesai membeli air minum. Sempat saya melirik tadi, rok mininya membalut ketat di atas paha,  kaus merah jambunya pun model “you can see” sesuai motto hidupnya you can see everything. Dia berharap bisa mengundang berahi dengan wajah berdempul bedak dan mengurai rambut hingga sepanjang ketiak. Bahkan saking tingginya hak sepatu yang dia pakai, saya khawatir dia akan jatuh terjerembab ketika berjalan perkara kakinya tidak bisa mengatup rapat. Saya kunci pintu kamar dan berdoa, karena dia terus mengetuk seraya memanggil dengan suara yang jauh dari nada sopran. Dia berusaha keras menyembunyikan kontur suaranyanya yang nge-bass. Sepenuh jiwa dia berusaha menyamarkan getaran suara yang hasilnya terdengar tidak lebih dari tipikal suara bariton sedang melenguh. Oh, pagi cepatlah datang.



Resepsionis penginapan tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya dia biang keladi teror semalam. Lepas check-out, saya bersumpah tidak akan tinggal di penginapan itu lagi. Resepsionis meminta maaf dan mengantarkan menuju ke agen bus antar negara untuk membayar penyesalan. Bus antar negara Damri akan membawa saya menuju Serawak.




Batang Tarang adalah desa pertama yang dilalui bus dengan aspal yang mulai bergeronjalan. Tabiat asli jalan raya Malindo mulai menampakan diri. Lepas dari Batang Tarang, bus masuk ke desa Senbayang kemudian menuju Sosok, lalu lanjut masuk ke Kelompu. Makin jauh makin rusak. Hingga bus berhenti di Sekayam Pedalaman demi mengecek as roda. Selagi berhenti, saya manfaatkan untuk mencoba durian di pedalaman Kalimantan. Rasanya amboi, legit tiada tara. Perbatasan sudah tidak jauh lagi, setelah Sekayam muncullah Entikong. Salah satu ujung Indonesia. Saya bermalam di bus menunggu pagi. Menunggu imigrasi buka jam 5 subuh.



Antrian kendaraan menuju Serawak Malaysia sudah mengular. Padahal hari masih gelap. Saya bersama ratusan orang lain mengantri –tapi-tidak-rapi di mulut Imigrasi Indonesia. Menyodorkan paspor untuk mendapat izin keluar negara. Beberapa meter ke depan, saya akan meninggalkan tanah surga. Apakah saya akan masuk neraka?




Apapun yang terjadi pada dirimu jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini. Genggam erat cita-cita mu. Katakan pada dunia dengan bangga, kami bangsa Indonesia” – Pejuang Indonesia




Lompat dari pagar Indonesia, saya merasa peradaban langsung maju beberapa puluh tahun. Dimana jalan aspal mulus kembali tersaji. Ah, pasti saya bukan di Neraka. Tapi katanya tadi saya berasal dari tanah surga. Ah, tidak tahulah, yang saya tahu Indonesia tanah surga. Pejuang Indonesia pernah berpesan apapun yang terjadi pada dirimu jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini. Genggam erat cita-cita mu. Katakan pada dunia dengan bangga, kami bangsa Indonesia. Halo Kuching!


@arkilos



**Sedikit tips semoga berguna ketika lapar di Pontianak:

1. Kudu wajib nyobain Chai Kue Pontianak. Bentuknya mirip dimsum, isinya ada bengkuang, ku chai, keladi, kacang dan rebung. Dimakan pas hangat, meleleh di tenggorokan. Dijamin.
2. Pas bengong sore-sore di pinggir sungai Kapuas, jangan lupa bekel kue Bingke. Rasanya ada yang original yaitu berasa butter dan ada yang sudah ditambah rasa ini itu macam pisang, nanas, nangka, durian, dll. Paling pas ditemani teh panas.
3. Kepanasan di Pontianak? Pastinya. Supaya gak kegerahan, coba tenggak minuman khas Pontianak yaitu Es Lidah Buaya. Niscaya buaya-buaya sungai ikutan jinak dikasi minuman ini :)