Kamis, 24 September 2015

an Indonesian in Indochina (babak #6)

MENJADI warga mayoritas adalah bagian hidup saya. Tinggal di pulau Jawa, berasal dari suku Jawa pula –walau mata saya sipit, apalagi jika tertawa, tinggal segaris, sering disapa Koh daripada Mas-, lahir dan hidup di ibukota negara, bersekolah dan bekerja. Semuanya mayoritas. Agama saya pun agama mayoritas yang dianut paling banyak oleh penduduk Indonesia. Hidup serasa mudah saja. Perayaan hari raya, beribadah, bersekolah dan bersosialisasi, semuanya mudah saja, aman, damai, tenteram, loh jinawi. Budaya yang saya anut pun budaya mayoritas, ah nikmat mana lagi yang harus saya dustakan. Kawan, jika kalian berada di posisi saya, pernahkah kalian membayangkan apa yang dirasakan kaum minoritas? Saya tidak pernah membayangkannya hingga saya tiba di Yangoon.


Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibukota. Buktinya adalah anak-anak nun dari desa Taunggyi yang berjarak lebih dari sepuluh jam perjalanan menggunakan bus dari Yangoon, dipaksa untuk datang ke ibukota. Demi bekerja, demi uang, demi mencari kehidupan. Walau begitu, mereka pantang mengemis.

Kawan, lihatlah itu siapa yang tertidur pulas di area tunggu keberangkatan bandara KLIA2. Tertutup sarung, demi menyumpal pori-pori tubuh akibat hawa dingin bandara sejak tengah malam. Kalau dulu Kuala Lumpur terasa jauh dan asing, tapi kini, saya justru merasa bandara ini adalah homebase sebelum menuju destinasi lain. Jadi saya sama sekali tidak berkeberatan untuk ngampar alakadarnya menunggu jadwal penerbangan lanjutan.



Sejak saya mengenal Association of South East Asian Nations atau yang biasa disingkat ASEAN, ketika zaman di Sekolah Dasar dulu, maka sejak itu pula lah saya jatuh cinta dengan negara-negara ASEAN. Nilai ujian saya selalu melambung tinggi bak balon yang baru diisi helium setiap kali ditanya kelima negara pendiri ASEAN. Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Sebab pertanyaan yang ditanyakan pasti itu lagi-itu lagi, seputar nama Ibukotanya dan nama perwakilan delegasi ASEAN. Baru kemudian Brunei Darussalam ikut bergabung. Menjadi enam negara. Semakin lama, jumlah negara ASEAN pun bertambah. Ikutlah Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar menyemarakan keluarga ASEAN.



Kegiatan organisasi ASEAN juga semakin beragam, yang saya ingat adalah adanya ASEAN Games di Chiang Mai tempo hari. Waktu itu saya hanya menerka-nerka saja dimana itu letak ChiangMai. Bahkan cara menuju ke negara-negara ASEAN itu dibutuhkan paspor pun, saya tidak mengerti. Udik sekali.

Depok, Indonesia
Masa Sekolah Menengah Pertama

Dia baru tiba dari Finlandia, kurus tinggi semampai untuk anak usia SMP sepantaran. Berkulit sawo matang dengan andeng-andeng di pergelangan tangan kanan. Wajahnya manis campuran Jawa dan sedikit, -sedikit sekali-, bercitarasa India. Rambutnya panjang, dikepang satu sepinggang. Senyumnya renyah, menyembulkan gingsul malu-malu. Ketika dia bangun dari kursi dan maju ke depan kelas, selalu menyilangkan tangan berandeng-andengnya kebelakang pinggang. Seolah ingin memperlihatkan kepada saya, yang duduk tepat di belakangnya. Gerak jalannya ketika dia bangun dari duduk, mengambil kapur, menulis di papan tulis, sampai duduk kembali di kursinya, saya hapal betul adegan itu secara paripurna. Kawan, tahukah kalian ini yang disebut ganjen tingkat menengah pertama sedang melanda anak baru gede.

Monik, menyapa ramah di hari pertama kepindahannya ke sekolah saya. Tahun ini tahun terakhir kami mengenyam pendidikan wajib belajar sembilan tahun sesuai program pemerintah. Lalu kenapa Monik bisa nysar dari Finlandia sampai ke Depok, apakah dia datang khusus untuk menemui saya? Kemudian sengaja duduk di depan kursi saya tanpa mengacuhkan kalau sejak saat itu saya merasa lebih bahagia daripada anak SMP manapun di planet bumi.

Ik ben Monik, hoe is het ermee? kemudian dia mengulurkan tangan. Apa itu ikben? Kacamata riben? Ternyata wahai orang udik, itu adalah Bahasa Belanda yang saya tidak tahu bagaimana menuliskannya secara benar. Hanya terdengar di telinga saya menyerupai ikben dan huisetdermey yang berkesan mewah ningrat ala bangsawan, artinya: nama saya adalah Monik, apa kabar? Kalau Monik tidak cepat-cepat tertawa menghilangkan ragu dan gugup di wajah saya, hampir saya menjawab sapaannya dan mengenalkan bahwa Nama Saya Budi, gagap, gagap gampita. Alamak, mulai saat itu saya bersumpah akan mencintai bahasa-bahasa lain selain Bahasa Indonesia.

“Hoe is het ermee?”
-Bahasa belanda, artinya: apa kabar?, biasanya digunakan untuk menyapa orang yang seumuran-

Setahun terakhir masa di SMP itu adalah masa paling indah. Monik, yang kaos kakinya paling panjang daripada pelajar putri lainnya hingga menutupi seluruh betis, selalu mengajarkan bahasa asing hingga kami mempunyai bahasa rahasia yang disebut Bahasa Sentringen. Jika diucapkan, seolah-olah kami berdua fasih berbahasa Jerman. Monik sungguh jenius bisa menguasai banyak bahasa. Tentunya dia juga sangat manis, baik hati, ramah, dan tidak sombong. Kawan, jika ada istilah cinta monyet, bolehlah dikatakan saya sedang dilanda cinta monyet itu. Tidak, bahkan lebih besar lagi daripada cinta monyet. Cinta beruk pun boleh. Ah, tidak cinta gorilla lebih baik. Tunggu bukankah paling besar kingkong. Sebut saja, saya sedang dilanda demam cinta kingkong. Besar, besar sekali.

Setahun rasanya cepat saja. Setelah ujian akhir sekolah, saya tidak pernah lagi bertemu Monik. Entah bersekolah dimana dia. Apakah kaos kakinya masih panjang macam kaos kaki Napoleon Bonaparte? Apakah kembali ke Finlandia atau justru ke Belanda, negeri impiannya? Satu hal yang pasti, sejak saat itu, saya sangat tergila-gila dengan bahasa asing dan luar negeri. Entah dimana letak luar negeri, setiap kali mendengar kata luar negeri, semangat saya membuncah. Dulu saya tidak tahu alasan apa sebenarnya hingga saya mampu menghafal kosakata beragam bahasa. Ah, kawan tahukah kenapa? Sini saya beritahu, sebenarnya saya belajar berbagai bahasa agar bisa lagi bertemu dengan Monik. Suatu hari nanti.

Yangoon, Myanmar
2015

Sule Paya menjulang angkuh ditengah kota. Sambil masih kikuk karena baru turun dari bus bernomor 51, seluruh Pagoda Sule Paya itu berhasil dua kali saya kelilingi. Beberapa saat sebelum itu, pesawat nyaris gratisan yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur mendarat di Yangoon. Saya berjalan kaki keluar bandara, menuju jalan raya demi mencari bus bernomor 51 atau 53. Ternyata angka yang tertulis di kaca depan bus menggunakan Bahasa Burma. Runyam sudah.



Begitu mendapatkan bus bernomor 51, -hasil jerih payah tanya orang kanan kiri-, saya menangkap sesuatu yang ganjil.  Bus itu, dan mayoritas kendaraan di Yangoon, meletakkan setirnya di sisi kanan. Ajaibnya lagi, mereka berkendara di sisi kanan juga. Sehingga jika penumpang ingin naik kendaraan harus agak memutar sedikit, karena pintu masuknya berada di sisi kiri. Oh, lucunya kota ini.



Rencana saya adalah langsung mencari bus menuju Bagan. Ibarat menggarami lautan, sia-sialah rencana saya, sebab tak  ada lagi bus yang berangkat kecuali malam nanti. Itu pun harus dari terminal bus Aung Mingalar yang penuh perjuangan untuk menuju kesana. Semangat tetap berkobar melihat Bagan.



Menunggu waktu berangkatnya bus ke Bagan, saya mencoba Athoke. Sejenis mie lokal yang cara penyajiannya harus dicampur dengan tangan terlebih dahulu. Memang Athoke, secara harfiah berarti ‘mencampur’. Jadi mie kuning itu dicampur dengan daun teh, kacang-kacangan serta bumbu-bumbu lainnya menggunakan tangan. Tingkat kepedasan pun bisa diatur sesuai minat pembeli. Jangan tanya saya tentang higienisme dari masakan itu. Sebagai gambaran, saya tidak melihat adanya itikad baik dari sang penjual Athoke untuk membersihkan tangannya terlebih dahulu atau membalutnya dengan plastik sebelum melumuri Athoke dengan berbagai bumbu.


Kesempatan tidak datang dua kali. Athoke pun harus dirasakan, maka saya coba pesan satu porsi, mengumpulkan nyali, menyiapkan keberanian, dan mengatur strategi agar bisa menikmati makanan yang dicampur legit dengan tangan itu. Rasanya tidak terlalu spesial, Athoke yang saya cicipi lebih terasa menggunakan penyedap rasa yang berlebihan.

###

Suatu kali guru matematika saya di SMP pernah mengatakan kepada murid-muridnya kalau kalian nanti akan tiba pada masa untuk tidak mendapatkan apa yang benar-benar kalian inginkan, sesuatu yang kalian cita-citakan. Jangan bersedih, jangan berputus asa, sebab kehidupan di dunia ini sudah dihitung sedemikian cermatnya oleh Tuhan hanya untuk kalian. Namun begitu, tetapah terus bermimpi dan melakukan yang terbaik. Saat itu saya hanya melompong bengong, baru belakangan menyadari makna pesan mendalam guru matematika saya yang bernama ibu Dra. Wiwi Gustiwi.

“Jangan bersedih, jangan berputus asa, sebab kehidupan di dunia ini sudah dihitung sedemikian cermatnya oleh Tuhan hanya untuk kalian.”
–Guru matematika SMP, yang menjabat wali kelas-

Akibat derasnya hujan di Yangoon, saya harus membatalkan rencana perjalanan saya menuju Bagan. Ditambah lagi saya diare setelah mengudap Athoke, padahal saya sudah cuci tangan, tapi penjual Athoke tidak cuci tangan rupanya. Saya harus melakukan sesuatu di Yangoon ini.



Lelah berjalan tak tentu arah di kala musim penghujan, membawa saya tiba di sisi barat Merchant Road. Rupanya Pagoda Sule ini dijadikan penanda sisi mata angin di Yangoon. Beberapa blok di sisi barat Yangoon telah saya telusuri demi mencari penginapan murah yang menyediakan sarapan lezat bergizi. Tibalah saya di Okinawa Guesthouse di blok ke-32. Di lorong inilah saya mencatat kekejaman yang dilakukan ibukota terhadap anak-anaknya.



###

Saya perhatikan banyak sekali pekerja di Yangoon yang masih anak-anak. Mereka bisa berprofesi menjadi penjaga toko kue, mengamplas batu di toko las bubut, bantu-bantu di toko elektronik, pembantu merangkap resepsionis di penginapan dan paling banyak bekerja sebagai pelayan restoran. Tapi tidak banyak yang memilih profesi sebagai pengemis. Disitulah saya langsung teringat perempatan-perempatan di Indonesia. Bocah-bocah kurang beruntung di negara yang paling saya cintai ini, lebih memilih menjadi pengemis. Mungkin pendapatan mereka lumayan karena orang Indonesia memang terkenal dermawan.



Kawan, salah dua bocah itu bernama Mambo dan Paiso. Mambo berusia 14 tahun dan Paiso 10 tahun. Kakak beradik. Mereka berdua laksana komandan bagi beberapa bocah lain seusianya yang juga bekerja di Okinawa. Awalnya saya acuh saja kenapa banyak anak-anak yang bekerja di penginapan ini. Tidak kah mereka pergi sekolah. Iseng saya tanya-tanya mereka.

Mambo sudah hampir dua tahun bekerja di Okinawa. Itu berarti usianya baru 12 tahun ketika pertama kali tiba di Yangoon. Dia berasal dari sebuah desa nun di Taunggyi sana. Lebih dari sepuluh jam perjalanan dari Yangoon, menggunakan bus. Jika menggunakan kereta akan lebih lama lagi. Jika kalian mencoba bepergian dengan kereta di Yangoon, jangan berharap akan membeli karcis di stasiun. Tiket kereta di Yangoon dijual terpisah dengan stasiunnya. Entah unik atau justru merepotkan.



Mambo sang pekerja keras awalnya hanya bekerja sebagai babu serabutan di Okinawa. Membersihkan tempat tidur, bersih-bersih ruangan, memasak, membantu menjaga resepsionis. Begitu terus dari pagi hingga malam. Hingga besok pagi. Hingga besok paginya lagi. Hingga hampir dua tahun sudah.



Melakukan ritual kerja sedemikian serabutannya, dalam usia yang masih belia, menjadikannya tangkas dalam urusan menerima tamu asing, berbenah dan remeh-temeh urusan per-resepsionis-an. Penguasaan bahasa inggrisnya pun lumayan mahir untuk anak seusianya. Dalam pada itu, saya jadi tersipu malu, bila teringat ketika saya seusia Mambo, masih saja senang merengek dan sibuk dengan demam cinta kingkong. Murahan, murahan sekali.

Mambo yang gemar mengenakan Longyi, ternyata disusul oleh adiknya Paiso ke ibukota. Alasan klasik, orang tua mereka tidak mampu membiayai kehidupan keluarga. Terpaksa kedua kakak-beradik itu harus merantau sejak dini. Putus sekolah. Ketika saya bertanya pada Mambo, seberapa sering mereka pulang kampung, maka jawaban Mambo hanya mengacungkan tiga jari.



Saya pikir, dengan jarak perjalanan hanya 10 jam saja menggunakan bus, mereka mudik setiap 3 minggu sekali di akhir pekan. Ternyata Mambo menggeleng. Bukan 3 minggu sekali atau 3 bulan sekali. Tapi 3 tahun sekali. Itu artinya sejak kedatangannya ke ibukota, belum pernah sekalipun dia pulang ke rumah. Kawan, tidakkah ibukota itu kejam?

I wish I could buy them a back home bus ticket, so they can meet their family. But they said: No time, very busy with working. Oh, God.

###

Jika kawan bernasib sama dengan saya, kaum mayoritas yang hidup disuatu tempat, merasakan kenyamanan hidup yang tersedia lahir batin. Tidak suka diganggu oleh konflik-konflik murahan dari para kaum minoritas apalagi yang berbau SARA, kalau boleh saya sarankan, cobalah berkunjung ke destinasi dimana mayoritas-isme yang kita rasakan berubah menjadi minoritas. Berani? Jujur, saya tidak berani. Tidak mau lebih tepatnya. Tapi pengalaman di Yangoon memberikan pelajaran baru tentang apa yang kaum minoritas rasakan, akhirnya saya rasakan juga.



Saya dibesarkan dengan budaya keramah-tamahan ala timur, keramah-tamahan ala Indonesia. Rasanya hanya tersisa ketika saya sampai di usia jenjang SMA. Semakin kemari, keramahan tulus ala Indonesia makin berkurang. Bukan hilang, bukan tidak ada lagi, masih ada keramahan itu. Tapi berkurang kadarnya. Dulu, dulu sekali banyak testimoni dari turis asing yang melancong ke Indonesia atau paling sering ke Bali, mengatakan kalau orang Indonesia itu ramah-ramah.  Ah, saya sebagai orang Indonesia, melambung harga dirinya karena menjadi bagian dari keramahan orang Indonesia. Tapi sekarang, coba kawan berkunjung ke Bali, ibarat menyalahkan globalisme dan akulturasi budaya, keramahan yang hilang itu dianggap wajar saja. Jakarta, rasanya sekarang  sangat tidak ramah, walaupun saya mencintai ibukota, tapi saya harus mengakui bahwa ibukota memang kejam.

“Jakarta, rasanya sekarang  sangat tidak ramah, walaupun saya mencintai ibukota, tapi saya harus mengakui bahwa ibukota memang kejam.”

Keramahan di Yangoon, masih patut diacungi jempol. Entah karena saya termasuk orang asing disana, atau memang semua orang di Yangoon memang ramah. Mulai dari bertanya jalan, makan, berbelanja, beribadah, semua orang yang berkomunikasi dengan saya menunjukkan antusiasme keramah-tamahan luar biasa. Bertanya jalan, saya diantarnya hingga ketujuan, padahal saya hanya bertanya arah. Makan, saya dibayari, padahal harga makanan emperan yang saya beli takut memberatkan mereka. Berbelanja, saya mendapatkan asistensi pelayanan luar biasa, bahkan ketika diluar toko turun hujan, disuruhnya saya membawa payung mereka agar terlindung hujan, tentu saja saya tolak. Paling membahagiakan adalah ketika beribadah.



Saya yang terbiasa bebas berkunjung ke Masjid manapun di Indonesia, kapan saja, harus menunggu hingga waktu dibukanya Masjid di Yangoon yang disesuikan dengan jam sholat. Padahal jadwal sholat saya pun masih belang-belang, tapi justru ketika masjid itu susah dicari, entah mengapa saya malah rajin menunggu waktu beribadah. Suara azan yang kerap terdengar 5x sehari di Jakarta, tidak begitu saja dikumandangkan bebas di langit Yangoon.

Bisik-bisik azan terdengar, hanya keras berbunyi di dalam masjid. Samar terdengar dari luar. Tapi justru disitulah entah kenapa saya lebih menikmati momen beribadah. Rindu rasanya. Seolah ibadah tidak perlu digembar-gemborkan, ini urusan saya dan Tuhan saya.

Menjadi seorang muslim dari Indonesia yang berada di Yangoon pun sangat terasa spesial ketika bertandang ke dalam masjid. Jemaah kebanyakan adalah orang Burma, keturunan dari Pakistan dan Bangladesh atau negara sekitar Myanmar. Saya seperti alien berada diantara mereka, kulit saya, wajah saya, postur tubuh saya, gerak-gerik saya, semuanya menjadi minoritas. Tapi ada satu kesamaan saya dengan mereka, sesama muslim. Disitulah spesialnya, mendadak saya diperlakukan bak pejabat ibukota yang datang sowan kedaerah terpencil. Kalaupun ada karpet merah, pasti sudah tergelar demi menyambut saya.



Where are you from? Seorang pengurus masjid menyambut saya dimuka pintu. I am from Indonesia. Langsung pengurus masjid itu berbinar-binar, laksana kedatangan tamu spesial. Padahal saya mah hanya apalah-apalah.

Perasaan ‘brother muslim’ itu benar-benar membuat saya terharu.  Kasak-kusuk mulai terdengar disudut-sudut masjid, hanya kata Indonesia yang berhasil saya tangkap. Selebihnya kasak-kusuk dalam bahasa Burma. Ketika saya menitipkan sandal dan payung, tidak diberinya nomor loker sandal. Seolah sendal jepit saya sesuatu yang keramat dan spesial, berasal dari nun jauh dari negara di seberang sana, tidak akan tertukar apalagi hilang. Jadi, jangan macam-macam dengan sandal tamu Indonesia ini. Kira-kira begitulah bunyi raut wajah penunggu loker, jika bisa saya terjemahkan dengan kata-kata.

“Ibadah tidak perlu digembar-gemborkan, ini urusan saya dan Tuhan saya.”

Setelah berganti dengan sarung, -Pria Burma mengenakan sarung dalam kehidupan keseharian mereka, yang disebut Longyi-, saya duduk menunggu dimulainya sholat berjamaah. Begitu rokaat pertama dimulai dan imam selesai membaca surat Al Fatihah, di langit masjid itu terdengar suara amin panjang. Hanya terdengar dari suara seseorang. Seseorang yang datang nun dari Indonesia sana. Melengking.

Rupanya adab sholat di Yangoon tidak mengenal aamiinn yang dibunyikan keras dan panjang seteleh imam membacakan Al Fatihah. Mulut ini yang terbiasa menunggu amin setelah kata Walladhooliiin, sontak membeku menahan malu. Tapi kawan, sekali lagi ibarat tabiat pejabat ibukota, tidak ada yang salah. Semuanya wajar, tidak ada pejabat yang salah. Padahal kalau ada lubang, rasanya saya ingin terjun kedalam situ.

###

Tidak banyak yang saya kunjungi selama berada di Yangoon. Sebagian besar hanya bangunan tua dan Pagoda yang menjadi ciri khas Yangoon. Shwedagon Pagoda misalnya, diperlukan 8 USD untuk dapat mengintip masuk kedalam. Ini berlaku bagi turis asing saja. Mengingat tampilan saya yang bisa disesuaikan dengan penduduk setempat dan berbekal sarung Longyi, melengang lah saya masuk ke Shwedagon Pagoda. Gratis.



Berbagai pagoda di negara-negara Indochina yang saya kunjungi, tidak saya temukan esensi perbedaannya. Mereka semua indah, berkilau dan sakral. Tidak banyak yang saya lakukan ketika mengunjungi Pagoda selain mengambil secuplik gambar.



Tempat lebih menarik di Yangoon, menurut saya adalah Dawgyi Kan atau danau Kandawgyi. Letaknya persis bersebrangan dengan Shwedagon Pagoda. Konon di tempat ini adalah tempat terbaik untuk memotret Shwedagon Pagoda diwaktu matahari terbenam. Sebab, kilauan emas Shwedagon akan terefleksikan di danau Kandawgyi, memantul sempurna. Saya belum beruntung mengabadikan momen itu, perkara monsoon. Tapi saya akan kembali lagi ke Myanmar suatu hari nanti.



** Sedikit tips ala-ala semoga berguna:
1.      Berkunjung ke Myanmar, perhatikan musim hujan atau yang disebut monsoon. Waktu terbaik adalah di bulan Maret-May (musim panas) dan November-Januari (musim dingin). Jangan seperti saya datang di bulan September, lebih baik siapkan ember.

2.      Tidak perlu membawa kartu kredit, karena pembayaran di Yangoon, dilakukan menggunakan tunai. Ada satu hotel mewah yang saya kunjungi demi menumpang ke toilet bernama Park Royal, saya taksir di hotel inilah kartu kredit akan diterima. Itu pun dengan komisi charge 12%.



3.      Tur jalan kaki seputaran Sule Paya Pagoda wajib dilakukan. Banyak bangunan tua, kuil, gereja, masjid, dan hotel lawas. Cobalah makanan lokal sepanjang pinggir jalan. Mulailah dari Sule Paya ke arah Selatan, Sungai Burma, hingga berakhir ke utara di Pasar Bogyoke Aung San.



4.      Jika anda beragama Budha, negara ini sangat pas sekali untuk anda. Anda bisa sekaligus wisata religi. Banyak kuil dan pagoda yang sangat indah bertebaran seantero kota.

5.      Jika anda beragama muslim, cobalah kunjungi beberapa masjid yang ada di Yangoon yang terdapat di beberapa sudut kota. Pengalaman lain beribadah akan anda rasakan.



6.      Dari Bandara menuju pusat kota bisa ditempuh menggunakan taksi atau bus kota. Taksi mulai dari 8000 kyatt dan bus 200 kyatt saja.

7.      September 2015, saya anggap 1 kyatt senilai dengan 10 rupiah. Jadi hitung sendiri ya.

8.      Jika ingin menggunakan bus dari bandara ke pusat kota atau sebaliknya, yang harus anda lakukan adalah pergi keluar bandara. Susuri jalan sekitar 1 km menuju jalan raya. Ikuti alur kendaraan, mereka semua menuju jalan raya. Jika anda tidak yakin, bisa tanya orang. Cukup sebut Se Mi yang berarti Ten Miles. Disana tempat bus kota nomor 51 dan 53 mangkal.



9.      Dari Se Mi (yang diucapkan seperti Damai), naiklah bus nomor 51 atau 53 ke arah Sule. Sang kenek akan teriak-teriak kencang Sule-Sule. Jika, tidak mengerti bahasanya atau tulisannya? Tanyaaa!!

10. Turun di Sule (Sule Paya Pagoda) akan banyak guesthouse atau hostel murah. Hotel mahal macam Shangrilla, Park Royal juga ada. Terserah budget anda.



11. Kalau saya pilih hostel murah dekat Sule Pagoda. Rekomendasi saya adalah Okinawa Guest House. Letaknya dekat sekali dengan Sule Paya Pagoda. Terdapat Okinawa 1 yang terdiri dari rooms only dan Okinawa 2 yang menyediakan dormitory room. Harga dormitory room mulai dari 10 USD per bed per orang. Kalau bayar dengan Kyatt dapat diskon, bilang saja teman saya dari Jakarta #eh #siapague #sokiye



12. Ke Myanmar tidak pergi ke kota Bagan, ibarat ke Jakarta tidak liat Monas. Ibarat ke Paris tidak liat Eiffel. Ibarat ke Bandung tidak makan Batagor. Ibarat ke Palembang tidak makan Empek-empek. Ibarat ke Bali tidak lihat pantai #nyesekk. Ibarat ke Amsterdam tidak mencoba seks bebas #eh #loh #ngaco. Ibarat ke Singapur tidak foto dengan Merlion #sumpahgakpenting. Ibarat ke Raja Ampat tapi tidak nyelam #matiajalo #ngapainjuga. Ibarat ke Bangkok tapi gak kencan ama bencong #ogahamat #najistralala. Ibarat kemana ya, oh ibarat ke Surabaya tapi gak ketemu ibu Risma #nge-fansberat, ketemu ibu Risma loh ya, jangan malah ke Gg. Dolly karena udah ditutup #hidupbuRisma. Dan ibarat ke Makassar tapi gak tau siapa itu Sultan Hasanuddin #sejarah #pentingsekaliwahaianakmuda.

13. Sialnya, saya tidak ke Bagan. Tapi dunia belum kiamat kok. Perkara monsoon gak bawa payung dan diare kronis #manja #bhayy. Tapi justru ada alasan untuk balik lagi ke Myanmar.



14. Makanan di Myanmar, sayangnya tidak sesuai dengan lidah Jawa saya. Tapi haruslah itu dicoba yang bernama Mohinga, Athoke, Samusa Thoke, sampai dengan Mondhi. Paling tidak bisa memperkaya rasa yang lewat di lidah.



15. Silahkan kunjungi Myanmar segera, sebelum semakin ramai oleh kedatangan turis-turis yang berlandaskan azas kekinian.

16. Semoga berhasil






Kamis, 27 Agustus 2015

1000 km


LEMPENGAN besi berdecit beradu dengan keramik. Ada beban berat diatasnya yang bertumpu bertopang kaki, menjadikan jarum pengukur berhenti di angka 90. Kalau angka 90 tadi boleh memakai nama keluarga, angka itu bernama belakang Kilogram. Timbangan badan yang merasa pengap ketika sang majikan menginjaknya, hanya bisa berkeluh kesah, kapan dirinya akan terbebas dari nestapa.


Agustus 2014
Jawa Timur, Indonesia

Putus asa atau asanya putus. Sebenarnya apa itu asa, kok sampai segitunya diputusin.  Menurut kamus, asa adalah harapan. Lantas kenapa asa harus putus dan harapan harus patah. Putus asa dan patah harapan, kenapa tidak patah asa dan putus harapan. Terserah. Silahkan ditanyakan pada ahli bahasa, karena lebih baik menyambung asa dan harapan daripada memutusnya. Menambah semangat menambah energi.

Ketika berada di Kalimati, sebelum hutan Arcopodo di gunung Semeru, badan saya terasa segar sumringah. Tidak sabar ingin segera melihat Mahameru, puncak dari gunung Semeru, tempat berkumpulnya para dewa-dewa seperti kisah yang diceritakan pada saya. Dari beberapa riset kecil-kecilan dan bertanya pada pendaki yang baru turun dari Mahameru, waktu yang ditempuh untuk sampai keatas adalah sekitar 5-8 jam. Tergantung kondisi badan dan apakah Mahameru ingin secepat itu dilihat oleh para pendakinya. Saya manggut-manggut saja.

Tidur lebih awal didalam tenda, berselimut gemuruh badai angin di Kalimati. Tenda yang saya tempati, laksana kapal oleng yang terombang-ambing ombak. Jika tidak ada pemberat manusia didalamnya, dan pasak kuat yang menghujam ke tanah, niscaya pasti dia sudah terbang dibawa badai. Saya tetap erat memejamkan mata, menyimpan energi untuk menyeruak hutan Arcopodo. Nanti, tengah malam nanti.

Untaian doa mulai terdengar lepas tengah malam. Para pendaki berkumpul dengan regunya masing-masing, menyusun strategi menuju Mahameru. Para pendaki saling meriung memanjatkan keselamatan yang diakhiri koor Amin panjang. Saya dan rekan-rekan pun melakukan hal yang sama. Kami mulai melangkah masuk ke dalam rimbunnya Arcopodo.

Malam nan pekat tertutup rimbunnnya arcopodo, mulai terkuak ketika tumbuhan tak lagi tumbuh tinggi-tinggi. Ternyata banyak sekali bintang berserak diangkasa, memantulkan sedikit cahaya ke belukar Arcopodo. Bukan sembarang belukar, walau gelap temaram sekalipun, saya masih bisa mengenali Edelweiss yang tumbuh subur di kaki Mahameru. Bunga abadi itu menyambut kami para pendaki sebelum tiba di kaki Mahameru. Saya terbuai, saya terpana, terus mengarah keatas, tanpa sadar bahwa sejatinya saya telah tersesat.

Patokan cahaya bintang dan kelap-kelip senter pendaki lain yang berada di kejauhan ternyata menipu. Sudah hampir satu jam saya terpisah dengan grup saya. Tahukah kawan apa yang mungkin saya lakukan. Saya hanya bisa menunggu. Berharap rekan-rekan saya segera melintas di jalur yang saya lewati.

###

Lebih dari setengah jam saya hanya duduk tepekur memegang botol air mineral 600 mili. Belum terasa haus karena masih gelap. Udara dingin makin mencekam karena saya tidak bergerak. Hanya duduk menunggu. Tiba tiba dari kejauhan muncullah beberapa kerlip cahaya senter, semakin mendekat, tetapi bukan cahaya senter dari rekan-rekan saya. Mereka menyapa dan mengajak melanjutkan pendakian bersama. Saya ikuti mereka.

Rupanya mereka juga tersesat sama seperti saya, tetapi dengan perbekalan yang lebih mumpuni. Diberinya saya kurma, pengganjal lapar tengah malam. Kami terus berjalan menengadah. Badan Mahameru seraya menantang untuk dijelajahi.

Entah di kontur kemiringan sebelah mana kami kembali berisitirahat. Sudah sejauh ini, sudah setinggi ini, kerlap kerlip lampu pendaki lain mulai terlihat beriringan dibawah. Rupanya jalur yang menyesatkan tadi memangkas lajur pendakian. Semburat terang matahari mulai terlihat di ujung angkasa. Kami terus mendaki.

Mahameru memang perkasa, semakin tinggi semakin keras pula tabiatnya. Pasir yang kami injak sering merosot, menggoda emosi. Semakin terengah-engah, semakin senang lah Mahameru menggoda. Apalagi kali ini Mahameru bersekutu dengan Matahari pagi. Siap memanggang kami yang coba-coba meraih puncak. Kami kewalahan.

Pagi benar-benar merekah, matahari terang benderang. Nun di punggungan Mahameru sisi yang lain, rombongan saya terlihat melintas. Kami berteriak bersahut-sahutan. Senang sekali bertemu mereka lagi. Kami terus berjuang menuju keatas.

Lebih dari dua jam lamanya setelah matahari berkuasa penuh diatas Mahameru, saya mulai merasakan apa yang namanya putus asa. Entah di ketinggian berapa meter diatas permukaan laut saat itu, yang pasti kaki saya tidak bisa lagi diajak menjejak kemiringan tanah. Rasanya ingin pulang. Rasanya ingin kembali ke tenda. Rasanya ingin segera meluncur turun ke bawah. Rasanya ingin segera menyudahi pendakian tak berujung ini. Rasanya ingin mundur. Rasanya saya kalah. Peduli setan apa yang ada di pucuk sana. Saya sedih bukan kepalang. Saya telah putus asa.

Kepalang tanggung, saya duduk diam tidak tahu apakah akan turun kebawah atau terus menanjak keatas menjejak di puncak Mahameru. Beberapa pendaki yang sudah mulai turun membagi energi positifnya. Mereka mengatakan Puncak tak jauh lagi, bersabarlah, tetap semangat. Rasanya transfer semangat tadi cukup memberikan energi untuk melanjutkan perjalanan. Saya coba lagi melangkah. Berat. Berat sekali rasanya.

Satu langkah keatas, saya terperosok dua langkah. Melangkah lagi, terperosok lagi. Oh Mahameru, apakah kau tidak ingin dikunjungi. Saya coba terus melangkah hingga tidak lagi terperosok, melainkan lebih parah. Saya jatuh terjerembab, berulang-ulang.

Di pikiran saya saat itu hanya ada satu tujuan. Puncak Mahameru, saya tidak mau yang lain. Saya tidak mau pulang. Saya tidak mau turun sebelum menginjak tanah tertinggi yang ada di pulau jawa. Tapi sudah tidak ada daya lagi, saya jatuh tertelungkup tidak berdaya.

###

Botol air mineral yang saya pegang sudah kering kerontang. Saya genggam erat entah berharap apa. Tiba-tiba ada pendaki yang sudah turun dari atas, menggoyang tubuh saya dan berkata kalau puncak Mahameru sebentar lagi. Tanggung sedikit lagi, jangan putus asa. Dia memberikan sebotol air miliknya. Saya teguk dan berterima kasih. Pendaki itu menghendaki agar saya membawa botol airnya. Dia sudah perjalanan turun ke bawah, tidak perlu air lagi.

Benar kata orang, bahwa tabiat manusia sesungguhnya terlihat ketika mereka berada diatas gunung. Dari berbagai kemungkinan yang ada, berbagai kondisi, akan memberikan pilihan-pilihan lain dalam bertindak. Selepas pendaki nan baik itu meluncur kebawah, saya bergegas melanjutkan pendakian yang tak tahu kapan akan berakhir. Masih sama, menjejak pasir kemudian merosot. Hanya semangat yang membuatnya bisa bertahan.

Dengan wajah terus menengadah berharap segera sampai di puncak Mahameru, saya tidak lagi memikirikan bahwa rupanya Matahari sedang berpesta pora membakar kulit. Sedikit demi sedikit, peluh yang ada di wajah saya usap dengan tangan berbalut sarung. Efeknya, meninggalkan luka goresan, sedikit demi sedikit. Tidak terasa, tapi tunggu kawan, rasa pedih itu muncul belakangan. Bukan main.

Demi melihat beberapa pendaki lain yang senasib sepertanggungan dengan saya, memberikan kobaran semangat, bahwa masih ada teman untuk sampai di puncak Mahameru. Saya terus bertahan, merembet sedikit demi sedikit, menyambung asa yang sempat putus.



Pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa kabar puncak Mahameru, senang bertemu.

Hari yang sama pada 490 Sebelum Masehi
Marathon, Yunani


Perang hebat baru saja selesai. Prajurit berkemas-kemas merapikan sisa peperangan. Bangsa Persia takluk di tangan serdadu Yunani. Adalah Pheidippides, seorang prajurit Yunani, yang dikirim dari kota Marathon menuju ke Athena untuk mengumumkan kemenangan perang yang gilang gemilang. Demi mengabarkan sukacita itu, Pheidippides berlari sepanjang 42km tanpa berhenti.

Euforia Pheidippides membuncah, sepanjang jalan dari Marathon ke Athena tidak sekalipun dia berhenti demi segera menyampaikan kabar gembira. Sayangnya dia meninggal dunia begitu berhasil menyampaikan pesan yang berbunyi “khairate, nikomen”.  Tahukah kawan apa arti pesan itu, tak lain dan tak bukan artinya “Jayalah, Kita Menang.” 



Agustus 2015
Bali, Indonesia

Timbangan badan nan agung itu selalu setia. Selepas mandi, jarum penunjuk angka masih selalu bertengger di angka 90, tidak berkurang sedikit pun. Timbangan badan, sekali lagi, hanya bisa melenguh ketika sang majikan menginjaknya. Membisikan sesuatu agar sang majikan berbuat sesuatu, sebab tak lama lagi dirinya tak bisa menunjuk lebih dari angka 90. Jarumnya sudah berkarat, takut tidak akurat.

Kawan. masihkah teringat kejadian tahun lalu ketika saya terseok-seok mendaki puncak Mahameru. Terbakar teriknya matahari dan terbungkus debu pasir Mahameru. Bangkit dari putus asa, menjemput cita di ujung pendakian. Kali ini saya nekat mengulang tantangan. Tapi tidak mendaki. Kali ini akan menjadi catatan sejarah pertama saya untuk menaklukan jalur sepanjang 42km. Mencoba berlari marathon. Demi sang timbangan badan.

Persiapan full marathon ini sudah saya persiapkan tujuh bulan lamanya. Kenapa tujuh bukan enam atau delapan bulan karena Tuhan suka angka ganjil. Mengunduh aplikasi lari kekinian yang sedang marak, saya tertular virus itu. Tujuh bulan lalu saya berikrar untuk sampai di 1000 km sebelum mengikuti Bali Marathon. Ikrar saya di dengar oleh aspal jalan raya.

Aspal manapun telah tercium oleh kaki ini. Saya berlari sana sini memenuhi janji. Janji kepada diri sendiri tentang si 1000 km. Apa mungkin, apa yang akan terjadi setelah 1000 km. Menganut prinsip sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, tabungan lari saya mulai menampakan hasil.

Lima hari sebelum hari pertandingan tiba, 1000 km telah berhasil saya paripurnakan. Pada kilometer ke 998, rasanya hasrat ingin menyerah itu kembali hadir. Rasa menyerah kembali menyergap kaki, seakan tidak mau lagi diajak berlari. Kaki mulai merajuk. Berusaha menolak keinginan tuannya untuk menunaikan sisa 2 km lagi. Kurang ajar.

Akhirnya kaki itu terpaksa harus dibujuk-bujuk rayu. Dijanjikannya akan digosok hingga wangi ketika mandi dan akan diajak pergi ke tukang urut setelah selesai marathon nanti. Rayuan berhasil, kaki itu kembali bergairah. Apalagi ketika dia dijanjikan akan diberikan hiasan gelang, mirip gelang yang dipakai peselancar untuk menautkan tali papan selancarnya. Kaki itu bersemangat, sisa 2 km cincai saja.

Kawan, pasti kalian pernah mendengar tentang sebuah perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil. Begitu juga dengan berlari. Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan menempuh 1000 km. Padahal awalnya untuk berlari satu keliling lapangan bola saja, rasanya sudah seperti hidup segan mati pun tak mau. Lantas banyak yang bertanya apa motivasi saya melakukan itu. Justru motivasinya adalah untuk menambah semangat, karena tanpa semangat, mimpi-mimpi saya tidak bisa diraih. Saya masih setia memeluk mimpi itu. Erat-erat.

###

42,195 kilometer. Bayangkan itu. Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari jika ingin menyempurnakan lari marathon. Tidak pernah ada dalam kamus hidup saya untuk mengikuti lomba lari marathon. Membayangkan lari 5 km saja sudah membuat kepala pening. Tapi kali ini terlanjur nekat, mendaftarkan diri bersusah payah untuk menyelesaikan dan menuntaskan sebuah pengalaman hidup yang baru, marathon. Euforia luar biasa, padahal berlari saja belum.

Kenapa harus ada embel-embel 195 meter pada lari Marathon. Perkaranya ketika lomba lari Marathon dilaksanakan nun di Inggris sana, jarak yang ditempuh dari Windsor Castle menuju White City Stadium harus pas finish di depan tribun dimana tepat Raja Inggris duduk menonton. Bukan main.

Pesan moral dari pengukuran jarak untuk lomba lari marathon adalah jadilah seorang raja. Bukan sembarang raja, jadilah seorang Raja Inggris dan pergilah menonton marathon, jika ingin merubah panjang-pendek jarak tempuh lomba lari ini. Untung sang raja waktu itu hanya duduk menonton, bagaimana jika dia ikut lomba marathon, bisa lain lagi urusannya.

Lalu bagaimana nasib sang timbangan badan. Dirinya semakin sehat, sebab setiap kali sang majikan menginjaknya, bunyi decitan yang dihasilkan akibat dirinya bergesekan dengan lantai keramik tidak lagi berisik dan jarum penunjuknya tak lagi mengerang-ngerang macam beruk tersangkut di dahan pohon. Jarum timbangan tidak perlu sekarat di angka 90, cukup berhenti di angka 76



Kawan, saya memulai semuanya dari nol. Saya sempat berhenti berlari namun saya mulai lagi. Hingga sekarang saya masih mengejar mimpi-mimpi yang tertinggal. Ketika ada yang mengatakan bahwa impian itu telah terlambat, ketauilah bahwa itu hanya alasan untuk menyerah. Tak seorangpun dapat menghalangi saya untuk menyelesaikan marathon pertama ini, kecuali diri saya sendiri. Saya tiba di garis finish dengan gilang gemilang.



Agustus 2016
Bali, Indonesia

Seolah euforia menginjakkan kaki di garis finish pada marathon tahun lalu di Bali baru saja terjadi. Masih terasa membekas. Masih terasa kegembiraannya. Senangnya ketika teman-teman yang sudah lebih dulu selesai menamatkan marathon, menunggu saya di garis finish. Mereka menyuarakan, meneriakan, dan mengelu-elukan ketika melihat saya pada jarak 400 meter terakhir. Bagai menyambut prajurit menang perang.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara teman-teman yang terdengar seperti sedang memercikkan semangat supaya saya berlari lebih kencang menuju garis finish. Rasa lelah sepanjang 42km dibelakang seolah menguap entah kemana. Adrenalin meningkat dan saya merasakan kebahagiaan luar biasa. Semakin dekat menuju garis finish, semakin pula saya dilanda kegembiraan tak terperi. Saya pacu kaki ini secepatnya, tapi sejujurnya pada saat yang bersamaan, saya juga ingin merasakan momen penyelesaian marathon ini dengan slow motion.

Virgin marathon tahun lalu meninggalkan pengalaman yang luar biasa. Kali ini, saat ini, kembali saya berdiri bersiap di tempat yang sama. Saya ingin mengulang rasa bahagia itu, rasa gembira selama menempuh perjalanan lebih dari 42 kilometer di Bali, walau berpeluh darah sekalipun akibat ruam kulit akibat pangkal paha yang bergesekan sepanjang jalan, tidak saya hiraukan. Bagaimana sorak sorai penonton sepanjang jalan dan pemandangan indah yang tiada menjemukan menemani saya berlari.

Kembali 1000km telah saya paripurnakan. Saya ingin memulai lari full marathon ini dengan penuh semangat, saya ingin berlari sepenuh jiwa dan raga, saya ingin mengakhirinya dengan lebih kuat. Saya akan kenang momen ini seumur hidup untuk saya ceritakan kepada anak dan cucu nantinya. Saya tidak akan begitu saja berhenti perkara lelah, saya baru akan berhenti setelah saya selesai, seolah-olah saya adalah seorang Pheidippides yang berlari tanpa berhenti seraya menyerukan pesan “khairate, nikomen”. Jayalah kita menang.


@arkilos