Jumat, 17 Oktober 2014

an Indonesian in Indochina (babak #5)

PAMAN Ho seolah mengundang saya untuk menyapa dirinya. Sejujurnya saya tidak mengenal siapa itu Paman Ho. Informasi yang saya dapatkan bahwa paman Ho adalah seorang komunis yang telah meninggal pada tanggal 2 September 1969, disebuah rumah di kota Hanoi ketika berusia 79 tahun. Kematiannya meninggalkan kesan sedih yang mendalam bagi rakyat Vietnam. Seolah abadi, Paman Ho hingga kini tetap muncul di sudut-sudut kota, di lembaran uang, di gedung-gedung publik seantero Vietnam. Bahkan kontribusi Paman Ho dibidang budaya, pendidikan, seni, kemakmuran rakyat, perdamaian, demokrasi dan sosial telah diakui oleh UNESCO. Paman Ho telah menunggu lama di Ho Chi Minh City. Mari berangkat.


Tiket pesawat dari Jakarta ke Ho Chi Minh City itu tidak memiliki nilai rupiah. Harganya nol alias gratis, pulang pergi. Saya tidak membayar sepeser pun untuk harga tiket, hanya harus membayar pajak bandara-nya saja yang sudah dimasukkan dalam tiket kepulangan. Terserah kawan mau percaya atau tidak, yang pasti saya ke HCMC, -Ho Chi Minh City-, hanya bermodalkan tujuh lembar sempak disposable karena menurut saya mencuci sempak adalah perkara remeh-temeh tapi amat sangat penting. Lebih penting daripada gonjang-ganjing dan kisruh demi memutuskan aturan untuk memilih seorang kepala desa.

Uncle Ho greets you


Niatnya pergi seorang diri menuju HCMC. Siang itu di bandara Soekarno Hatta saya mendapatkan kejutan. Ada lima teman saya yang ternyata juga akan ke HCMC. Jadilah kami pergi berenam dengan prinsip the more the merrier. Kami berenam langsung membuat grup bertajuk Power Rangers Jelajah Indochina. Maksa. Amat sangat terpaksa.



###




Matahari di HCMC sudah tenggelam ketika kami tiba. Kota HCMC tipikal kota di Asia yang masih macet dan ramai lalu lalang kendaraan ugal-ugalan. Pengendara sepeda motornya sama seperti Jakarta, banyak sekali seumpama laron yang berkerubung ketika lampu lalu-lintas berpenjar merah. Kami menumpang taksi menuju pasar Ben Tanh. Di dekat pasar ada losmen murah yang akan kami sewa. Semalam saja.





“Pengendara motor di HCMC sama banyaknya dengan di Jakarta, mirip laron yang berkerubung ketika lampu lalu-lintas berpenjar merah”




Tidak mau membuang waktu, malam itu juga kami langsung menuju pusat kota HCMC dan mengunjungi beberapa bangunan unik yang ada di sana. Saya teringat kesan kota Paris sewaktu blusukan di HCMC. Pernah sekali saya berkesempatan mengunjungi Paris akibat menang lotere. Di Paris ada sebuah gereja cantik yang bernama Notre Dame. Tak dinyana saya pun menemukan Notre Dame lain di HCMC.

HCMC's Notre Dame


Akhirnya pertemuan pertama kami dengan Paman Ho terjadi ketika kami menyusuri pasar Ben Tanh ke arah pusat kota.  Paman Ho sedang berpose di depan sebuah rumah besar berwarna putih, yang baru belakangan kami tahu nama bangunan itu adalah Bac Ho. Entah artinya apa.

Bac Ho


Pertemuan kedua dengan Paman Ho, terjadi ketika kami mengunjungi kantor pos di seberang Notre Dame. Kali ini Paman Ho menyambut kami dalam sebuah bingkai lukisan besar. Setelah berpamitan dengan Paman Ho, kami luntang-lantung tak tentu arah menyeruak di HCMC. Malam semakin larut tapi penjelajahan kami belum tuntas. HCMC terasa bagai kota labirin karena kami tersesat didalamnya dalam rangka kembali menuju losmen.

HCMC's Post Office

Get lost and drunk

###

Sinh travel, nama agensi tur yang akan membawa kami menuju Kamboja. Mereka menyediakan bus menuju Phnom Penh, ibukota Kamboja. Du lich alias turis, itulah sebutan kami selama berada di Vietnam. Semangat kami sebagai Power Rangers semakin berkobar menuju Kerajaan Kamboja.

Go go Power Rangers


Heading to Kingdom of Cambodia


Royaume du Cambodge begitulah bangsa Perancis yang sempat menjajah Kamboja menyebut negara ini. Sebuah negara dengan isi pasukan khmer Rouge atau Khmer Merah yang kejam. Sebenarnya Khmer adalah nama suku bangsa yang ada di Kamboja. Baru kemudian partai komunis yang ada di Kamboja memiliki cabang militer yang berisikan pasukan Khmer. Lalu pada tahun 1960-1970 dimulailah perang gerilya pasukan Khmer untuk melawan rezim Pangeran Shihanouk dan Jenderal Lon Nol. Pasukan Khmer berhasil menggulingkan pemerintahan di Kamboja dibawah pimpinan Pol Pot. Secara sadis Pol Pot mengamini pembunuhan massal terhadap kaum intelektual. Saat itu kamboja berdarah-darah hingga datang bantuan dari Vietnam. Tentara Vietnam mengusir pasukan Khmer. Konon pasukan ini masih bercokol di hutan-hutan dan kami dengan sukarela akan menerabas Kamboja melalui Phnom Penh hingga ke Sieam Reap. Semoga tidak bertemu dengan si Khmer Rouge itu.



Berulang kali saya melihat peta dan yakin bahwa tidak ada laut diantara Vietnam dan Kamboja. Tapi bus yang membawa saya dan pasukan Power Rangers ini berhenti di sebuah pelabuhan, bersiap masuk ke lambung kapal. Saya taksir besarnya serupa kapal fery yang ada di Bakauheni. Saya intip sekali lagi peta dengan seksama, namun tetap tidak ada laut. Apakah kami sedang berada di sungai Mekong yang termasyhur? Ini kali pertama saya menyebrang sungai harus menggunakan kapal fery laksana menyebrang pulau. Begitu lebarnya sang sungai, menjadi pembatas antar negara. Sisi sungai yang kami sebrangi masih berada di teritori Vietnam.


###

Imigrasi birokrasi terasi basi, semuanya hanyalah kata yang berakhiran –si. Di perbatasan negara antara Vietnam dan Kamboja itu, masih saja saya menemukan calo. Sebagai pemegang paspor berlogo Garuda, harusnya sudah bebas visa untuk masuk ke Kamboja. Namun apa lacur, birokrasi menyatakan bahwa warganegara Indonesia masih harus memperoleh visa untuk masuk ke Kamboja. Calo-calo tengik pun beraksi di perbatasan. Mereka meminta upah 5 USD dari setiap sticker visa yang berhasil ditempelkan di lembaran buku paspor. Padahal tarif resminya hanya 20 USD. Intimidasi perbatasan yang memuakkan.



Kami terkena jebakan calo demi lolos dari Bavet border. Setelah urusan remeh-temeh perbatasan tadi, kami meluncur menuju Phnom Penh.




Tujuh jam perjalanan dari HCMC menuju Phnom Penh belum berarti apa-apa. Singgah sejenak di ibukota Kamboja hanya untuk berganti bus. Lagu-lagu dalam Bahasa Kamboja mengiringi sepanjang perjalanan. Petang hari kami tiba di Sieam Reap setelah perjalanan datar yang mana di kanan-kiri jalan hanya ditumbuhi pohon pinang. Kalau di Indonesia, pohon pinang itu pasti ludes ketika bulan Agustus tiba.




Tulip Garden Hostel bertarif 12USD per kamar. Isi 3 tempat tidur. Sangat nyaman dan murah. Pemandu wisata kami pun ramah sekaligus bertindak sebagai supir tuk-tuk yang akan mengantarkan keliling Angkor Wat esok hari. Selamat malam Sieam Reap.


###

Kami mendapatkan setangkup roti bakar dan jus, jatah dari hostel untuk sarapan. Terburu-buru kami menuju tuk-tuk karena sudah tidak sabar ingin menjelajah Angkor Wat. Kawan, saya ceritakan sedikit tentang apa itu Angkor Wat. Mungkin bisa menjadi penyemangat jika kawan ingin bertandang ke Kamboja.



Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota Angkor. Kapan candi ini dibangun, konon pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Suryawarman II dan memakan waktu sekitar 30 tahun lamanya. Disekitar dataran Angkor juga terdapat beberapa kuil lain yang indah, tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Menurut kepercayaan Hindu yang meletakan gunung Meru sebagai pusat dunia  dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, maka menara tengah di Angkor Wat adalah menara tertinggi sekaligus merupakan menara utama dalam kompleks Angkor Wat.

Angkor's main gate


Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mewakili dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar susur pegangan tangan dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut Baray. Gerbangnya di ujung jembatan pelangi seolah menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.



Bisnis pariwisata di Angkor Wat sangat baik. Untuk turis lokal, tarif resmi yang dipatok adalah 20 USD untuk seharian berkeliling. Tiket masuk tercetak jelas disertai foto. Sedangkan biaya tuk tuk, kami sewa terpisah. Silahkan tawar-menawar dengan pengemudi tuk tuk, harga yang wajar adalah 15-25 USD per hari.


Happy moments :)

Kami berkeliling di komplek Angkor Wat patungan menyewa tuk tuk seharga 20 USD. Kalau kawan punya waktu lebih banyak, bisa mencoba berkeliling dengan sepeda atau berjalan kaki. Lebih murah dan menantang. Komplek Angkor Wat sangat luas laksana sebuah kota. Kuil-kuil yang kami sambangi selain Angkor adalah Kuil Bayon, Kuil Ta Phrom dan Kuil Banteay Srei. Kuil-kuil utama yang wajib dikunjungi.



Climbing the same tree as Angelina Jolie did

Hitam legam, terbakar matahari. Kulit kami menjadi gelap akibat seharian full berkeliling komplek Angkor Wat. Ketika maka malam, kami mendapatkan suguhan tari-tarian khas Kamboja. Kali ini tariannya sangat berbeda dengan tarian di Phuket tempo hari. Pantaslah saya sebut tariannya sebagai sendra tari. Sangat memukau.



Malam terakhir di Sieam Reap kami habiskan dengan berjalan-jalan. Grup ibu-ibu pergi belanja, sementara grup bapak-bapak mencoba pijat tradisional ala Kamboja. Mari rileks, karena hidup sudah terlalu berat.

Cambodia's traditional dance

###

Kami berkemas keesokan harinya dan kembali ke Phnom Penh. Di ibukota Kamboja itu kami berpisah. Teman-teman saya ingin melanjutkan eksplorasi kota Phnom Penh, namun saya berhasrat mengunjungi kota Da Lat di Vietnam. Padahal saya tidak tahu ada apa di kota Da Lat. Hanya asal menunjuk peta.



Untuk menuju Da Lat dari Phnom Penh, saya harus kembali ke HCMC. Itu berarti 7 jam perjalanan. Tidak apa, saya sudah terbiasa bolak-balik jalur darat. Melewati rute yang sama akhirnya saya tiba di HCMC malam hari. Beristirahat sebentar di warung kopi, lalu saya melanjutkan menumpang bus Mai Linh menuju Da Lat. Sekaligus bermalam di dalam bus.






            Seorang pelancong selayaknya harus paham yang namanya geografi. Setidaknya riset dulu kecil-kecilan tentang tempat tujuan. Jangan seperti saya, main langsung hajar bleh yang penting happy. Berbekal hanya sepotong celana pendek, kini saya kena batunya. Tidak tahu bahwa hawa di Da Lat dinginnya minta ampun.

“Seorang pelancong selayaknya harus paham yang namanya geografi”

            Terletak pada 1500 meter diatas permukaan laut, ternyata Da Lat merupakan salah satu dataran tinggi yang ada di Vietnam. Jam 4 dini hari, bus yang saya tumpangi merapat di Da Lat. Begitu keluar terminal, hawa dingin langsung menyergap. Tanpa persiapan untuk cuaca dingin, terpaksa saya meringkuk di dalam terminal menunggu dijemput matahari.



            Setahu saya yang sering sok tahu, nama kota Da Lat adalah sebuah singkatan dari bahasa latin ‘Dat Aliis Laetitiam Aliis Temperiem’ yang berarti It gives pleasure to some, freshness to others. Saya percaya saja. Pasalnya selama saya berada di Da Lat merasa benar-benar santai dan damai. Suhu kota yang dingin, menjadikan bunga-bunga tumbuh subur seantero kota. Sangat cantik sekali.



            Kawan, jika kalian sedang stress dan perlu pelarian, saya sarankan agar mengunjungi Da Lat. Di kota ini benar-benar pas untuk menyepi menenagkan diri. Saya termasuk anak pelarian, maka saya tidak salah pilih untuk berkunjung ke Da Lat. Jangan lupa untuk membawa baju hangat selama berada di kota ini. Saya berikan beberapa tempat rekomendasi yang bisa menghilangkan setres atau tekanan hidup. Berat bener kesannya. Cukup sewa motor bisa berkeliling ke tempat-tempat berikut:

Taman Bunga Da Lat
Tempat ini cocok dikunjungi ketika pagi atau sore hari. Sangat memanjakan mata. Tanaman dan bunga warna-warni tertata amat sanagat rapi. Mereka juga memiliki pasar kupu-kupu awetan.





Istana Bao Dai
Rumah peninggalan penguasa terakhir dari Dinasti Nguyen yang berkuasa di Vietnam. Rumah ini merupakan rumah besar yang dijadikan istana. Halaman istana Bao Dai sangat luas dan juga cantik. Pengunjung bisa bebas menikmati seluruh penjuru rumah dan bisa berfoto layaknya kerabat dari Dinasti Nguyen ini. Saya adalah salah satu keluarga mereka dan bersedia mewarisi istana Bao Dai.




Pasar Da Lat
Hanya sekedar pasar tradisional, tapi jajanan lokal kudu wajib dicoba. Saya mencoba cendol Vietnam. Wah rasanya manis segar gurih lezat enak tak tersisa.
Kuil Van Hanh
Kuil ini terletak diatas bukit dengan patung Budha bersila besar yang menjadi landmark-nya. Dari kejauhan mudah dicari karena sang Budha duduk bersila seolah mengawasi seluruh kota. Pemandangan dari kuil Van Hanh juga cadas. Pasti akan lebih dari sejepret-dua jepret jika kawan membidikan kamera.




Little Eiffel
Sudah tidak perlu ke Paris untuk melihat menara Eiffel. Di Da Lat ada replika Eiffel setinggi tiang BTS. Bedanya Eiffel mini ini tidak memancarkan sinyal telepon. 




            Puas berkeliling di Da Lat, saya langsung kembali menuju HCMC. Sekali lagi bermalam di bus karena keesokan harinya saya harus mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Kalau mikirin capek, saya tidak bisa melihat tempat-tempat indah dalam waktu singkat karena cuti kantor terbatas. Jadi kawan, selagi ada waktu dan kesempatan untuk melihat belahan dunia lain, sikat. Karena saya setuju, amat sangat setuju dengan pepatah Who lives sees, who travels sees more.


@arkilos