Senin, 29 September 2014

an Indonesian in Indochina (babak #4)

SADAO border hiruk pikuk laksana pasar di pagi hari. Perbatasan yang berada di selatan Hadyai – Thailand, penuh antrian kendaraan yang akan menuju Negeri Jiran. Rentetan bus berbaris rapi untuk pemeriksaan imigrasi. Prosedural, ritual berulang-ulang tanpa bosan, ada ribuan cap, jutaan sidik jari, demi melintas batas negeri. Tiba-tiba saya teringat dua perempuan yang telah melewati batas dunia lebih dulu. Nenek dan ibu, teramat rindu kepada mereka. Hati saya porak-poranda.

Perkara kangen. Nenek saya yang mengajarkan untuk jalan-jalan sejak saya balita. Ibu saya menentang keras. Jadilah saya kecil direbutkan. Nenek menang, melarikan saya hingga ke Surabaya. Cikal bakal kenapa saya senang traveling, saya baru paham. Masuk usia sekolah, saya kembali ke pangkuan ibu. Nenek berdamai dengan ibu, tapi sesekali mengajak saya pergi ke Monas. Diam-diam, demi melihat air mancur menari.
Sekelebat kenangan nenek dan ibu terlintas di kota Hadyai. Tidak ada apa-apa disana. Tapi saya tetap nekat berkunjung. Alasannya untuk memangkas jarak  ribuan kilometer dari Chiang Mai menuju Kuala Lumpur. Jika menggunakan pesawat bisa ditempuh dalam waktu sekitar dua jam saja. Bayangkan kalau saya harus menggunakan jalur darat. Akan lebih lama dan lebih mahal. Kenapa lebih mahal jalur darat, karena saya masih punya satu seat tersisa Airasia rute Chiang Mai ke Hadyai seharga 60 ribu rupiah. Enampuluh ribu rupiah ditulis dengan huruf, biar tidak salah.
Bandara Hadyai terletak diluar kota. Ibarat mendarat di bandara Soekarno Hatta, pagi itu saya berperan menjadi bule dan bandara Hadyai berperan sebagai bandara Soekarno Hatta berikut preman dan calo yang ada di dalamnya.  Betapa sulitnya bertanya cara menuju kota Hadyai. Sedikit orang yang berbicara Bahasa Inggris.
Informasi dari internet mengatakan bahwa ada angkot berwarna biru yang ngetem di ujung parkiran bandara. Ibarat, -sekali lagi-, bandara Soekarno Hatta. Dimanakah ujung parkiran dimaksud? Budget saya makin terbatas untuk mencegat taksi hanya demi keluar dari bandara. Mau menumpang kendaraan pribadi, ah lagi malas. Akhirnya saya luntang lantung di parkiran bandara Hadyai mencari angkot berwarna biru yang sedang ngetem.
Kalau kawan mendarat di bandara Hadyai, saya beri tahu letak si angkot biru itu. Begitu keluar dari arrival hall, langsung lurus saja sekitar 50 meter. Berpelurus dari pintu kaca otomatis yang bisa buka tutup sendiri. Tidak usah tanya-tanya orang sekitar, malah bikin puyeng. Lurus saja, di sanalah tempat angkot menuju kota Hadyai.
Tips lainnya, banyaklah berdoa ketika di dalam angkot. Berdoa agar ada penumpang yang bisa sedikit Bahasa Inggris demi bisa menanyakan dimana letak pool bus antar kota-antar propinsi. Kalau tidak ada juga, silahkan menggunakan bahasa kalbu dengan supir angkot, atau perbanyak lagi jampi-jampi agar si supir angkot bisa Bahasa Inggris. Kelar.
Jika Perbatasan Burma dengan Thailand tempo hari nun di ujung utara sana hanya sejengkal kali. Sekarang giliran bagian paling selatan. Perbatasan Thailand-Malaysia hanya berbatas pagar. Tinggal lompat beda waktu sejam, beda bahasa. Lalu lintas dari Sadao di Thailand menuju ke Bukit Kayu Hitam di Malaysia lancar jaya. Tujuan saya selanjutnya adalah Kuala Lumpur. Masih 10 jam lagi perjalanan dengan bus. Menyejajarkan bokong dengan dudukan kursi, terus melaju ke arah selatan.
###

2010
Thailand

Entah mengapa saya jadi malas pulang ke rumah. Saya beritikad mengunjungi laut Andaman. Ingin merasakan sensasi guling-gulingan di pasir pantai yang ada di film the Beach. Lagi-lagi tiket pesawat gratisan menuju Phuket berhasil saya gondol. Tanpa tedeng aling-aling terbanglah saya menuju pulau Phuket.



Bus bandara di Phuket tersedia dengan harga hanya 85baht. Sangat murah jika dibandingkan harus pergi ke pusat kota Phuket Town menggunakan taksi, 500baht. Tapi saya lebih memilih menuju pantai Patong. Kenek bus menurunkan saya di sebuah perempatan dan menyarankan agar saya menunggu bus menuju Patong.



Sebuah truk pun lewat. Atap bak ditutupi terpal. Truk itu besar seperti truk pengangkut pasir. Ditengah-tengah bak truk sudah dipasangi kayu panjang. Juga di kedua sisinya. Beberapa penumpang lokal dan interlokal sudah bertengger di dalam. Rupanya truk ini yang akan membawa penumpang menuju Patong. Penduduk lokal sepakat menyebutnya sebagai bus. Agak memaksa. Saya duduk berhimpitan di dalam “bus” tadi bersama beberapa ekor ayam yang siap dipotong.

Jungceylon Shopping Mall


Didepan mall Jungceylon, bus berhenti. Kalau tadi saya duduk bersebelahan dengan ayam, kini saya merasa seperti ayam keluar kandang begitu turun dari bus. Luntang lantung tak tentu arah. Menghambur di keramaian.
Junceylong seperti mall pada umumnya, ramai gemerlap meriah. Saya melewatinya untuk sekedar tahu dan memotong jalan menuju pantai Patong. Tujuan saya mencari penginapan murah. Door to door saya keluar masuk hostel di pesisir pantai. Semuanya diluar budget. Hingga ada seorang ibu yang menyarankan untuk pergi ke jalan Nanai alias Nanai road demi mencari penginapan yang sesuai budget.

Crazy! i paid this only 300baht per night :)


Dewi fortuna menunggu saya di Nanai Rd. Ada sebuah apartment yang baru selesai dibangun, disewakan murah meriah. Waktu itu kurs 1baht masih 300rupiah, dan saya hanya membayar sewa apartment studio itu seharga 300baht per malam. Rejeki memang tidak salah alamat, malam itu saya batal gelar sleeping bag di pantai.

###

Good boys go to heaven, bad boys go to Bangla Road. Menjelang petang, jalan Bangla ditutup untuk acara pasar malam. Makin malam, makin ramai. Area Bangla Road ini sejatinya adalah kawasan hiburan malam yang menyajikan atraksi hiburan tujuhbelas tahun keatas. Gemerlap malam.



Tontonan yang umum adalah café dan bar di sisi kanan kiri jalan. Sajiannya adalah tari-tarian, ah.. saya menyebutnya tarian tiang listrik. Si penari cukup mengitari tiang untuk menghibur turis yang lewat. Sebenarnya biasa saja, tapi menjadi luar biasa ketika si penari nyaris telanjang. Sungguh saya tidak bermaksud melihatnya, tapi mata dan leher ini berkoalisi untuk pantang tidak menoleh. Saya hanya bisa pasrah.



Harus berhati-hati jika menonton tarian di jalan Bangla, karena penarinya tidak seutuhnya perempuan. Ada juga yang dalam tanda kutip fifty-fifty. Sedikit tips, jika menonton di café, lebih baik pergi ke lantai dua. Karena di lantai satu biasanya penari perempuan jadi-jadian alias setengah-setengah. Tapi kawan percayalah, perbedaanya tipis.


Different dancers on first and second floor. lol.


Selain tari-tarian tadi yang tidak bisa saya sebut sebagai sendra tari, ada juga acara live show. Show apa yang dimaksud, rasanya tidak elok kalau saya ceriterakan disini. Saya beri tahu judulnya saja, Pong-pong Show. Sebagai pria yang menyukai hal-hal baru, saya tertantang untuk menyaksikannya. Sedikit tips untuk pria-pria yang menonton show di bangla road, ketika menonton harap longgarkan ikat pinggang. Karena ditengah tontonan, nanti merasakan akan ada yang menegang dan agak basah. Benda panjang itu akan tegang maksimal ketika mbak-mbak penari berayun akrobatik. Yang saya maksud adalah tali tambang panjang terulur-ulur dimana kerap basah karena penari-penari bercucuran keringat demi menjaga keseimbangan. Lantas kenapa juga harus mengendorkan ikat pinggang? Supaya tidak terasa sesak ketika menahan napas. Pengalaman saya, nanti tenggorakan juga akan tercekat beberapa kali dan terasa jakun ini ikutan naik turun. Menegangkan kawan!

###

Kawan pasti pernah menonton film the Beach. Jikalau belum pernah, tidak apa-apa juga. Di film the Beach ditampilkan pantai Mayabay yang konon pasirnya putih pulen bak ketan. Saya ingin buktikan.

My Yacht


Sebelum pergi ke Bangla road semalam, saya berhasil membeli paket tur menuju Phi Phi Don yang melewati Mayabay dengan harga lumayan murah. Perjanjiannya, saya akan dijemput dari tempat menginap dan akan diantar kembali setelah program tur berakhir. Perlu saya acungi jempol bahwa pariwisata massal di Thailand ini jauh lebih maju daripada di Indonesia. Padahal negara saya memiliki potensi pariwisata yang gila-gilaan hebat. Kalau sedang merasa ngenes seperti itu, saya sering berangan-angan ingin segera menjadi Menteri Pariwisata. Supaya saya bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, bisa merumuskan Undang-Undang agar yang mau korupsi di lahan pariwisata Indonesia dikenakan hukuman digulung ombak atau dilempar ke kawah atau bahkan diterjunkan dari atas monas. Biar jera.



Paket tour menuju pulau Phi Phi seharga 800baht terasa murah sekali begitu saya megetahui kapal yang saya tumpangi mirip yacht eksekutif dan full AC. Apalagi di dalam kapal ferry saya melihat penyanyi ibukota yang sedang syuting videoklip. Penyanyi berbakat Indonesia, Andin. Alamak, saya merasa bangga ada artis Ibukota menemani liburan saya.

Island hoppers


Pergi traveling sendirian menurut saya menyenangkan. Pada momen-momen seperti itu saya merasa menjadi orang paling ramah di dunia. Di kapal menuju Phi Phi Don ini kembali saya berkenalan dengan teman baru dari Indonesia. Cepat akrab karena kami merasa jauh dari rumah. Kami berempat menjelajah Viking Cave, Mayabay, berkelok-kelok di gugusan batu karang nun menjulang hijau ditumbuhi tanaman perintis.

So damn beautiful :)


###

Ternyata Yacht hebat ini tidak bisa bersandar di pantai Mayabay. Body nya terlalu besar, bisa merusak koral di bibir pantai. Saya salah ambil paket. Tapi nasi telah menjadi bubur. Saya tetap bersikeras menuju pantai Mayabay. Terpaksa saya berenang ketepian. Petugas kapal berteriak-teriak dalam Bahasa Inggris, samar-samar saya mendengar mereka berseru agar saya tidak berenang terlalu jauh. Mereka tidak mau bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi saya terlanjur nekat, terlanjur kadung. Tak saya gubris seruan petugas, saya tetap berenang cepat menuju bibir pantai. Hanya demi leyeh-leyeh di pantai yang sama dengan pantai yang ada di film The Beach.



Kapal merapat di pulau Phi Phi tepat tengah hari. Kami disuguhi makan siang dengan pemandangan laut Andaman. Menjual sekali. Teman-teman dan saya berpisah. Mereka akan langsung kembali ke Phuket. Saya bermalam di Phi Phi, entah dimananya urusan belakangan.



Phi Phi layaknya Gili Trawangan nun di Lombok sana. Hanya saja lebih padat dan terlihat lebih ramai bisnis bar dan penginapan. Saya kira hanya perkara aturan negara yang membatasi itu. Kalau di Thailand, tanpa malu-malu lagi tapi tegas. Kalau di negara saya malu-malu kucing, atau malu-malu tapi mau. Ah, saya tetap cinta Indonesia lebih dari negara manapun.


###

Penginapan itu bernama The Rock. Letaknya diatas lereng menuju Phi Phi view point. Dormitory room-nya sudah fully booked. Saya mendapatkan sepetak kamar privat berpendingin kipas angin, seharga 300baht. Sama harga dengan di Phuket, tapi beda fasilitas.

The Rock


Menjelang sore, saya habiskan waktu di Phi Phi View Point menikmati matahari terbenam. Momen terbaik lainnya yang memberikan saya semangat hidup.

Standing on the highest point in Phi Phi Don




Malam di Phi Phi sangat gemerlap. Hentakan musik mulai berkobar sejak matahari sudah terbenam hingga larut malam. Bintang gemintang berserak diseluruh langit diatas laut Andaman. Saya menikmati setiap detiknya.



###
Kawan, jika mampir di pulau Phi Phi sempatkan menengok pantai Rantee. Boleh dibilang ini salah satu pantai tersembunyi yang ada di Phi Phi. Terletak dibalik Phi Phi view point dimana dibutuhkan sedikit tenaga untuk mencapainya. Pantai ini tersembunyi dibalik hutan dan cukup melelahkan ketika perjalanan pulang dari pantai Rantee. Pemandangannya lumayan untuk mendapatkan nuansa lain dari sebuah Phi Phi Don.

Back side of Rantee Beach


Saya menumpang kapal yang sama untuk kembali ke Phuket. Tiket tur saya berstatus open, jadi saya bisa kapan saja menggunakannya untuk kembali ke Phuket. Atas saran teman, saya mencoba menginap di Grand Tavorn Plaza Hotel. Dari tampilannya terlihat sebuah hotel yang lumayan mahal, namun uniknya menyediakan dormitory room isi 4 beds. Hebatnya adalah harganya yang amat sangat murah, 250baht per malam. Highly recommended bagi kawan yang ingin menginap di Phuket Town dengan fasilitas oke tapi harga ajaib. Letaknya hotel ini juga sangat dekat dengan terminal bus Phuket. Berjarak 5 menit jalan kaki.



Tidak banyak yang saya lakukan di Phuket Town. Sebenarnya saya bisa menyewa motor untuk keliling pulau. Namun persiapan menuju Vietnam dan Kamboja harus saya rancang. Untuk itu saya perlu pulang. Bersambung.


**Sedikit tips 
   semoga berguna:

  1. Shuttle Bus dari Phuket Town menuju Airport bisa lihat tabel berikut. 
  2. Kalau pergi 4 orang bisa sewa taksi 500baht sampai Patong Beach/Phuket Town.
  3.  Agensi tur menuju Phi Phi Don island menjamur di Phuket. Harga yang wajar mulai dari 800baht – 1400baht per orang. Silahkan menawar sesadis-sadisnya.
  4. Jika berniat bermalam di Phi Phi Don, beli lah tiket OPEN. Maksutnya bisa dipakai pulang tidak harus hari yang sama. Lebih nyaman. Harga tergantung seberapa jago menawar.
  5. Hiburan show malam di Patong beach, beberapa diantaranya juga tawar-able. Harap bijak bestari kalau keluar malam-malam. Pertanyaan lanjutan silahkan kirim ke kreseckers@gmail.com Hehehe.
  6. Hubungi Mrs. Mayom di Nanai Road kalau mau sewa Apartment murah di Patong. Gak tau sih sekarang masih murah atau sudah mahal. you will never know till you try. Call her 0869519618 (semoga nomornya belom ganti)


@arkilos













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar aja mumpung gratis