Senin, 29 September 2014

an Indonesian in Indochina (babak #4)

SADAO border hiruk pikuk laksana pasar di pagi hari. Perbatasan yang berada di selatan Hadyai – Thailand, penuh antrian kendaraan yang akan menuju Negeri Jiran. Rentetan bus berbaris rapi untuk pemeriksaan imigrasi. Prosedural, ritual berulang-ulang tanpa bosan, ada ribuan cap, jutaan sidik jari, demi melintas batas negeri. Tiba-tiba saya teringat dua perempuan yang telah melewati batas dunia lebih dulu. Nenek dan ibu, teramat rindu kepada mereka. Hati saya porak-poranda.

Perkara kangen. Nenek saya yang mengajarkan untuk jalan-jalan sejak saya balita. Ibu saya menentang keras. Jadilah saya kecil direbutkan. Nenek menang, melarikan saya hingga ke Surabaya. Cikal bakal kenapa saya senang traveling, saya baru paham. Masuk usia sekolah, saya kembali ke pangkuan ibu. Nenek berdamai dengan ibu, tapi sesekali mengajak saya pergi ke Monas. Diam-diam, demi melihat air mancur menari.
Sekelebat kenangan nenek dan ibu terlintas di kota Hadyai. Tidak ada apa-apa disana. Tapi saya tetap nekat berkunjung. Alasannya untuk memangkas jarak  ribuan kilometer dari Chiang Mai menuju Kuala Lumpur. Jika menggunakan pesawat bisa ditempuh dalam waktu sekitar dua jam saja. Bayangkan kalau saya harus menggunakan jalur darat. Akan lebih lama dan lebih mahal. Kenapa lebih mahal jalur darat, karena saya masih punya satu seat tersisa Airasia rute Chiang Mai ke Hadyai seharga 60 ribu rupiah. Enampuluh ribu rupiah ditulis dengan huruf, biar tidak salah.
Bandara Hadyai terletak diluar kota. Ibarat mendarat di bandara Soekarno Hatta, pagi itu saya berperan menjadi bule dan bandara Hadyai berperan sebagai bandara Soekarno Hatta berikut preman dan calo yang ada di dalamnya.  Betapa sulitnya bertanya cara menuju kota Hadyai. Sedikit orang yang berbicara Bahasa Inggris.
Informasi dari internet mengatakan bahwa ada angkot berwarna biru yang ngetem di ujung parkiran bandara. Ibarat, -sekali lagi-, bandara Soekarno Hatta. Dimanakah ujung parkiran dimaksud? Budget saya makin terbatas untuk mencegat taksi hanya demi keluar dari bandara. Mau menumpang kendaraan pribadi, ah lagi malas. Akhirnya saya luntang lantung di parkiran bandara Hadyai mencari angkot berwarna biru yang sedang ngetem.
Kalau kawan mendarat di bandara Hadyai, saya beri tahu letak si angkot biru itu. Begitu keluar dari arrival hall, langsung lurus saja sekitar 50 meter. Berpelurus dari pintu kaca otomatis yang bisa buka tutup sendiri. Tidak usah tanya-tanya orang sekitar, malah bikin puyeng. Lurus saja, di sanalah tempat angkot menuju kota Hadyai.
Tips lainnya, banyaklah berdoa ketika di dalam angkot. Berdoa agar ada penumpang yang bisa sedikit Bahasa Inggris demi bisa menanyakan dimana letak pool bus antar kota-antar propinsi. Kalau tidak ada juga, silahkan menggunakan bahasa kalbu dengan supir angkot, atau perbanyak lagi jampi-jampi agar si supir angkot bisa Bahasa Inggris. Kelar.
Jika Perbatasan Burma dengan Thailand tempo hari nun di ujung utara sana hanya sejengkal kali. Sekarang giliran bagian paling selatan. Perbatasan Thailand-Malaysia hanya berbatas pagar. Tinggal lompat beda waktu sejam, beda bahasa. Lalu lintas dari Sadao di Thailand menuju ke Bukit Kayu Hitam di Malaysia lancar jaya. Tujuan saya selanjutnya adalah Kuala Lumpur. Masih 10 jam lagi perjalanan dengan bus. Menyejajarkan bokong dengan dudukan kursi, terus melaju ke arah selatan.
###

2010
Thailand

Entah mengapa saya jadi malas pulang ke rumah. Saya beritikad mengunjungi laut Andaman. Ingin merasakan sensasi guling-gulingan di pasir pantai yang ada di film the Beach. Lagi-lagi tiket pesawat gratisan menuju Phuket berhasil saya gondol. Tanpa tedeng aling-aling terbanglah saya menuju pulau Phuket.



Bus bandara di Phuket tersedia dengan harga hanya 85baht. Sangat murah jika dibandingkan harus pergi ke pusat kota Phuket Town menggunakan taksi, 500baht. Tapi saya lebih memilih menuju pantai Patong. Kenek bus menurunkan saya di sebuah perempatan dan menyarankan agar saya menunggu bus menuju Patong.



Sebuah truk pun lewat. Atap bak ditutupi terpal. Truk itu besar seperti truk pengangkut pasir. Ditengah-tengah bak truk sudah dipasangi kayu panjang. Juga di kedua sisinya. Beberapa penumpang lokal dan interlokal sudah bertengger di dalam. Rupanya truk ini yang akan membawa penumpang menuju Patong. Penduduk lokal sepakat menyebutnya sebagai bus. Agak memaksa. Saya duduk berhimpitan di dalam “bus” tadi bersama beberapa ekor ayam yang siap dipotong.

Jungceylon Shopping Mall


Didepan mall Jungceylon, bus berhenti. Kalau tadi saya duduk bersebelahan dengan ayam, kini saya merasa seperti ayam keluar kandang begitu turun dari bus. Luntang lantung tak tentu arah. Menghambur di keramaian.
Junceylong seperti mall pada umumnya, ramai gemerlap meriah. Saya melewatinya untuk sekedar tahu dan memotong jalan menuju pantai Patong. Tujuan saya mencari penginapan murah. Door to door saya keluar masuk hostel di pesisir pantai. Semuanya diluar budget. Hingga ada seorang ibu yang menyarankan untuk pergi ke jalan Nanai alias Nanai road demi mencari penginapan yang sesuai budget.

Crazy! i paid this only 300baht per night :)


Dewi fortuna menunggu saya di Nanai Rd. Ada sebuah apartment yang baru selesai dibangun, disewakan murah meriah. Waktu itu kurs 1baht masih 300rupiah, dan saya hanya membayar sewa apartment studio itu seharga 300baht per malam. Rejeki memang tidak salah alamat, malam itu saya batal gelar sleeping bag di pantai.

###

Good boys go to heaven, bad boys go to Bangla Road. Menjelang petang, jalan Bangla ditutup untuk acara pasar malam. Makin malam, makin ramai. Area Bangla Road ini sejatinya adalah kawasan hiburan malam yang menyajikan atraksi hiburan tujuhbelas tahun keatas. Gemerlap malam.



Tontonan yang umum adalah café dan bar di sisi kanan kiri jalan. Sajiannya adalah tari-tarian, ah.. saya menyebutnya tarian tiang listrik. Si penari cukup mengitari tiang untuk menghibur turis yang lewat. Sebenarnya biasa saja, tapi menjadi luar biasa ketika si penari nyaris telanjang. Sungguh saya tidak bermaksud melihatnya, tapi mata dan leher ini berkoalisi untuk pantang tidak menoleh. Saya hanya bisa pasrah.



Harus berhati-hati jika menonton tarian di jalan Bangla, karena penarinya tidak seutuhnya perempuan. Ada juga yang dalam tanda kutip fifty-fifty. Sedikit tips, jika menonton di café, lebih baik pergi ke lantai dua. Karena di lantai satu biasanya penari perempuan jadi-jadian alias setengah-setengah. Tapi kawan percayalah, perbedaanya tipis.


Different dancers on first and second floor. lol.


Selain tari-tarian tadi yang tidak bisa saya sebut sebagai sendra tari, ada juga acara live show. Show apa yang dimaksud, rasanya tidak elok kalau saya ceriterakan disini. Saya beri tahu judulnya saja, Pong-pong Show. Sebagai pria yang menyukai hal-hal baru, saya tertantang untuk menyaksikannya. Sedikit tips untuk pria-pria yang menonton show di bangla road, ketika menonton harap longgarkan ikat pinggang. Karena ditengah tontonan, nanti merasakan akan ada yang menegang dan agak basah. Benda panjang itu akan tegang maksimal ketika mbak-mbak penari berayun akrobatik. Yang saya maksud adalah tali tambang panjang terulur-ulur dimana kerap basah karena penari-penari bercucuran keringat demi menjaga keseimbangan. Lantas kenapa juga harus mengendorkan ikat pinggang? Supaya tidak terasa sesak ketika menahan napas. Pengalaman saya, nanti tenggorakan juga akan tercekat beberapa kali dan terasa jakun ini ikutan naik turun. Menegangkan kawan!

###

Kawan pasti pernah menonton film the Beach. Jikalau belum pernah, tidak apa-apa juga. Di film the Beach ditampilkan pantai Mayabay yang konon pasirnya putih pulen bak ketan. Saya ingin buktikan.

My Yacht


Sebelum pergi ke Bangla road semalam, saya berhasil membeli paket tur menuju Phi Phi Don yang melewati Mayabay dengan harga lumayan murah. Perjanjiannya, saya akan dijemput dari tempat menginap dan akan diantar kembali setelah program tur berakhir. Perlu saya acungi jempol bahwa pariwisata massal di Thailand ini jauh lebih maju daripada di Indonesia. Padahal negara saya memiliki potensi pariwisata yang gila-gilaan hebat. Kalau sedang merasa ngenes seperti itu, saya sering berangan-angan ingin segera menjadi Menteri Pariwisata. Supaya saya bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, bisa merumuskan Undang-Undang agar yang mau korupsi di lahan pariwisata Indonesia dikenakan hukuman digulung ombak atau dilempar ke kawah atau bahkan diterjunkan dari atas monas. Biar jera.



Paket tour menuju pulau Phi Phi seharga 800baht terasa murah sekali begitu saya megetahui kapal yang saya tumpangi mirip yacht eksekutif dan full AC. Apalagi di dalam kapal ferry saya melihat penyanyi ibukota yang sedang syuting videoklip. Penyanyi berbakat Indonesia, Andin. Alamak, saya merasa bangga ada artis Ibukota menemani liburan saya.

Island hoppers


Pergi traveling sendirian menurut saya menyenangkan. Pada momen-momen seperti itu saya merasa menjadi orang paling ramah di dunia. Di kapal menuju Phi Phi Don ini kembali saya berkenalan dengan teman baru dari Indonesia. Cepat akrab karena kami merasa jauh dari rumah. Kami berempat menjelajah Viking Cave, Mayabay, berkelok-kelok di gugusan batu karang nun menjulang hijau ditumbuhi tanaman perintis.

So damn beautiful :)


###

Ternyata Yacht hebat ini tidak bisa bersandar di pantai Mayabay. Body nya terlalu besar, bisa merusak koral di bibir pantai. Saya salah ambil paket. Tapi nasi telah menjadi bubur. Saya tetap bersikeras menuju pantai Mayabay. Terpaksa saya berenang ketepian. Petugas kapal berteriak-teriak dalam Bahasa Inggris, samar-samar saya mendengar mereka berseru agar saya tidak berenang terlalu jauh. Mereka tidak mau bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi saya terlanjur nekat, terlanjur kadung. Tak saya gubris seruan petugas, saya tetap berenang cepat menuju bibir pantai. Hanya demi leyeh-leyeh di pantai yang sama dengan pantai yang ada di film The Beach.



Kapal merapat di pulau Phi Phi tepat tengah hari. Kami disuguhi makan siang dengan pemandangan laut Andaman. Menjual sekali. Teman-teman dan saya berpisah. Mereka akan langsung kembali ke Phuket. Saya bermalam di Phi Phi, entah dimananya urusan belakangan.



Phi Phi layaknya Gili Trawangan nun di Lombok sana. Hanya saja lebih padat dan terlihat lebih ramai bisnis bar dan penginapan. Saya kira hanya perkara aturan negara yang membatasi itu. Kalau di Thailand, tanpa malu-malu lagi tapi tegas. Kalau di negara saya malu-malu kucing, atau malu-malu tapi mau. Ah, saya tetap cinta Indonesia lebih dari negara manapun.


###

Penginapan itu bernama The Rock. Letaknya diatas lereng menuju Phi Phi view point. Dormitory room-nya sudah fully booked. Saya mendapatkan sepetak kamar privat berpendingin kipas angin, seharga 300baht. Sama harga dengan di Phuket, tapi beda fasilitas.

The Rock


Menjelang sore, saya habiskan waktu di Phi Phi View Point menikmati matahari terbenam. Momen terbaik lainnya yang memberikan saya semangat hidup.

Standing on the highest point in Phi Phi Don




Malam di Phi Phi sangat gemerlap. Hentakan musik mulai berkobar sejak matahari sudah terbenam hingga larut malam. Bintang gemintang berserak diseluruh langit diatas laut Andaman. Saya menikmati setiap detiknya.



###
Kawan, jika mampir di pulau Phi Phi sempatkan menengok pantai Rantee. Boleh dibilang ini salah satu pantai tersembunyi yang ada di Phi Phi. Terletak dibalik Phi Phi view point dimana dibutuhkan sedikit tenaga untuk mencapainya. Pantai ini tersembunyi dibalik hutan dan cukup melelahkan ketika perjalanan pulang dari pantai Rantee. Pemandangannya lumayan untuk mendapatkan nuansa lain dari sebuah Phi Phi Don.

Back side of Rantee Beach


Saya menumpang kapal yang sama untuk kembali ke Phuket. Tiket tur saya berstatus open, jadi saya bisa kapan saja menggunakannya untuk kembali ke Phuket. Atas saran teman, saya mencoba menginap di Grand Tavorn Plaza Hotel. Dari tampilannya terlihat sebuah hotel yang lumayan mahal, namun uniknya menyediakan dormitory room isi 4 beds. Hebatnya adalah harganya yang amat sangat murah, 250baht per malam. Highly recommended bagi kawan yang ingin menginap di Phuket Town dengan fasilitas oke tapi harga ajaib. Letaknya hotel ini juga sangat dekat dengan terminal bus Phuket. Berjarak 5 menit jalan kaki.



Tidak banyak yang saya lakukan di Phuket Town. Sebenarnya saya bisa menyewa motor untuk keliling pulau. Namun persiapan menuju Vietnam dan Kamboja harus saya rancang. Untuk itu saya perlu pulang. Bersambung.


**Sedikit tips 
   semoga berguna:

  1. Shuttle Bus dari Phuket Town menuju Airport bisa lihat tabel berikut. 
  2. Kalau pergi 4 orang bisa sewa taksi 500baht sampai Patong Beach/Phuket Town.
  3.  Agensi tur menuju Phi Phi Don island menjamur di Phuket. Harga yang wajar mulai dari 800baht – 1400baht per orang. Silahkan menawar sesadis-sadisnya.
  4. Jika berniat bermalam di Phi Phi Don, beli lah tiket OPEN. Maksutnya bisa dipakai pulang tidak harus hari yang sama. Lebih nyaman. Harga tergantung seberapa jago menawar.
  5. Hiburan show malam di Patong beach, beberapa diantaranya juga tawar-able. Harap bijak bestari kalau keluar malam-malam. Pertanyaan lanjutan silahkan kirim ke kreseckers@gmail.com Hehehe.
  6. Hubungi Mrs. Mayom di Nanai Road kalau mau sewa Apartment murah di Patong. Gak tau sih sekarang masih murah atau sudah mahal. you will never know till you try. Call her 0869519618 (semoga nomornya belom ganti)


@arkilos













Jumat, 19 September 2014

5 km


KACAMATA renang kok dibawa ke gunung. Padahal saya berharap bisa timbul tenggelam di danau Ranukumbolo sesuai film yang pakai ukuran sentimeter untuk judulnya. Kalau pun itu benar kejadian, yakni bisa berenang di danau Ranukumbolo, nanti yang ada malah digaplokin ranger Semeru atau dapat hukuman disuruh turun sampai di Ranupani hanya bermodalkan sempak. Hikmah yang didapat dari membawa kacamata renang ke atas gunung adalah jangan percaya adegan film. Apalagi film-film bertema naik gunung yang tidak menyisipkan pesan agar jangan buang sampah sembarangan.


Kawan, saya tidak menyuruh kamu untuk mencoba naik gunung. Tapi yang pasti, -konon katanya- ketika sekali saja kamu mencoba naik gunung maka hanya ada dua kemungkinan setelahnya. Kapok atau nyandu. Saya kebagian yang nyandu. Tapi tingkat nyandu saya masih moderat, ibarat pil koplo tidak perlu berhutang untuk mendapatkannya.

Lets hit the target.


Bertahun-tahun saya kepingin-kepingin doang untuk manjat Semeru, tapi tidak pernah kejadian. Malahan gunung lain yang dipanjat. Hingga muncul film bertema motivasi kejar mimpi, yang pakai acara naik gunung. Saya suka sekali filmnya, apalagi ada sang mantan, neng Raline, yang juga jadi demen manjat gunung setelah selesai syuting. Tapi setelah nonton film beberapa senti itu, semangat saya untuk melihat langsung gunung Semeru agak drop. Mungkin karena sudah meihat duluan tempat-tempat indah di Semeru melalui layar bioskop. Meh.

###

Di Indonesia angka tujuhbelas termasuk sakral. Sama juga dengan jam terbang kereta Matarmaja dari Jakarta menuju Malang. Tujuhbelas jam juga kawan. Bukan main. Bagi yang belum pernah naik kereta ini, saya sarankan sesekali untuk mencoba. Ih ogah amat. Idih gak level lah ya. Amit-amit naik kereta begituan. Kalau dalam hati kamu komentar begitu, maka kamu tidak akan pernah melihat bagaimana transportasi rakyat Indonesia yang sebenarnya. Tapi kamu tetep temen saya. Jangan khawatir.




Terakir kali saya mencoba Matarmaja adalah dalam lawatan dari pulau Sempu di selatan Malang. Kali ini mencoba arah sebaliknya, Jakarta-Malang demi mengunjungi Semeru. Kini Matarmaja sudah lebih baik, tidak ada lagi tiket berdiri, tidak ada lagi orang merokok di dalam gerbong, tidak ada lagi orang berjualan bebas antar gerbong, dan sudah pakai AC. Luar biasa. Tapi tetap saja, kursinya duduk tegak hormat bendera. Siku-siku sembilan puluh derajat. Hebatnya lagi WC-nya tetap pesing bikin pusing. Luar binasa.

###

Untuk menuju Semeru dari kota Malang, bisa menyewa angkot ke daerah Tumpang. Rupanya di Tumpang banyak provider layanan jasa menuju Semeru. Ibaratnya basecamp lah. Lama perjalanan kurang dari satu jam menuju Tumpang. Si supir angkot sudah bekerjasama dengan para penyedia jasa di daerah Tumpang untuk menuju basecamp-nya. Kecuali kalau kamu memang menyebutkan nama provider tertentu, jadi bisa langsung diantar. Waktu itu saya ngintilin temen-temen ke rumahnya pak Laman, seorang penyedia jasa di daerah Tumpang. Teman-teman baru itu saya temui ketika menunggu Matarmaja di stasiun Pasar Senen. Hoki ya.




Dari rumah pak Laman, kami berganti transportasi menggunakan mobil Jeep bak terbuka menuju desa Ranupani. Lama perjalanan sekitar dua jam menanjak. Desa Ranupani adalah desa terakhir yang bisa dilalui kendaraan untuk menuju Semeru. Selanjutnya diteruskan dengan berjalan kaki mengikuti ayunan dengkul.


Widodaren Mt. and the trail to Cemoro Lawang, Bromo Mt.


Pemandangan menuju Ranupani sudah memanjakan mata, deretan bukit dan gunung ada di sisi kanan-kiri. Adem tentrem gemah ripah loh jinawi. Ketika sudah tiba di desa Ngadas, berarti sudah dekat ke Ranupani. Saya takjub dan terpesona dengan pemandangan di sekitar gunung Widodaren. Terlihat ada jalan setapak yang menuju Cemoro Lawang, jika berniat jalan kaki menuju Bromo. Sumpah ajib benar. Lain kali saya harus coba rute itu.

###

Tiba di Ranupani berarti selesai lah masa kejayaan transportasi dan telekomunikasi. Ini bukan salah pak Tulmentalmentul yang terbiasa ngurangin jatah kecepatan internet, tapi memang karena sudah tidak ada BTS lagi. Silahkan lanjutkan dengan berjalan kaki dan matikan handphone. Mulai dari loket pendaftaran pendakian Semeru, sinyal telepon sudah tidak ada. Dunia terasa lebih indah.




Pendakian dimulai. Tujuan pertama adalah Ranukumbolo. Jarak antara Ranupani ke Ranukumbolo sekitar 10,5 km saja. Beberapa daerah yang akan dilalui adalah Ranupani – Landengan Dowo sekitar 3 km. Kemudian Landengan Dowo – Watu Rejeng juga sekitar 3 km. Nah dari Watu Rejeng menuju Ranukumbolo tersisa 4,5 km yang harus ditempuh. Ingat semuanya jalan menanjak. Yaiyalah namanya juga di gunung. Nanti akan ada empat pos peristirahatan di jalur itu. Kalau kamu rajin olahraga seperti saya yang lari 5 km tiap hari, pasti cincay lah. Cukup kamu letakkan jarak di depan kening mata sejauh 5 km. Pasti bisa. Pasti sampai.


The Main Gate


Sore di Ranukumbolo, cuaca mulai dingin. Saya tiba duluan karena demen lari 5 km sesuai judul. Alamak pemadangan danau Ranukumbolo bagi yang belum pernah melihat langsung benar-benar menghipnotis mistis romantis. Super cantik. Foto dari angle manapun pasti oke.




  Kami segera mendirikan tenda. Secara teknis, temen saya yang bawa tenda. Saya hanya membantu memasang pasak. Kami semua punya lima tenda, ngeriung jadi satu menunggu badai. Hawa dinginnya sumpah sedingin freezer kulkas yang disetel maximum plus tidak dibuka pintunya selama seminggu. Dingin benar.

Tents builder

###

Permasalahan klasik saya kalau naik gunung adalah BAB alias buang air besar alias eek alias boker alias berak. Kayaknya padanan kata yang terakhir terlalu vulgar. BAB adalah perkara rutin pagi hari. Otomatis. Untuk hal ini saya kasi tips bagaimana BAB yang baik dan benar.


High densely populated area


Di jaman yang serba canggih seperti ini, kudu menyiapkan tissue secukupnya. Paling enak tissue basah. Kawan, harus punya sekop kecil atau alat untuk menggali tanah. Tata caranya adalah cari spot-spot sepi yang menunjang konsentrasi pas ngeden. Kalau saya bisa setres ketika pas posisi setengah kopling eh ada orang di deket-deket situ. Bisa ngerem mendadak dan konsentrasi ngeden buyar. Sumpah rasanya tidak enak banget.


Looking for a public toilet? You will get this magnificent scenery


Sebelum melakukan ritual BAB, kamu gali dulu tuh tanah dengan kedalaman dan luas penampang berdiameter secukupnya. Supaya apa coba? Supaya si eek tidak bertebaran di tanah, kan tidak enak dilihat. Dimanapun kudu rapi. Setelah bongkar muatan tuntas, di bersihin deh area buritan pake tissue. Kubur sekalian tissue di lubang, kemudian timbun dengan tanah supaya tidak menimbulkan polusi udara. Berdoa semoga tissue-nya cepat terurai. Kalau mau dikasi garnish, diatas timbunan tanah bisa ditutupi dengan daun-daunan atau ilalang nganggur. Sajikan selagi hangat, untuk 1 porsi.

###

Spot BAB saya di Ranukumbolo dihiasi pemandangan spektakuler danau Ranukumbolo beserta jajaran perbukitannya. Tempatnya ada di tanjakan seberangnya Tanjakan Cinta. Ada bukit ilalang yang luas dan sepi. Tapi dalam perjalanan kesana banyak sekali saya temukan tissue basah bertebaran. Bikin sampah. Parah betul. Memang pendaki masa kini, mau enaknya saja. Gemar nyampah. Ngakunya pecinta alam tapi nyampah dimana-mana dan tidak ngaku.


Doing your "morning ritual" while you get a view like this. Its just awesome!


Apalagi di Ranukumbolo ini, dari kejauhan terlihat bersih cantik. Tapi kalau ditelusuri ilalang atau semak lavender disana, sampahnya bukan main banyaknya. Saya taksir itu akibat efek film yang mungkin lupa menyisipkan pesan agar jangan buang sampah sembarangan, tapi terlanjur ditonton banyak orang. Kemudian mereka berbondong-bondong menuju gunung tapi tabiat nyampah dan mau enaknya saja ikutan dibawa. Apalagi hal remeh temeh puntung rokok, tinggal sental-sentil mental kemana-mana. Biasa saja, wajar, maklum adanya.
Sering saya mikir kalau di gunung kan banyak makhluk gaib, kenapa ya itu orang yang nyampah gak kena batunya. Ibarat ada yang main ke rumah kamu terus nyampah sono-sini. Enaknya diapain ya orang seperti itu.

###

Perjalanan selanjutnya dari Ranukumbolo adalah ke Kalimati. Sebelum sampai di Kalimati, ada beberapa tempat ciamik yang dilewati. Setelah Tanjakan Cinta yang disarankan untuk “make a wish” dan tidak pakai acara nengok ke belakang pas nanjak, terhamparlah padang luas datar yang disebut Oro Oro Ombo.




Oro Oro Ombo dipenuhi tanaman lavender yang berwarna ungu ketika dimusim penghujan dan mengering cokelat ketika musim kemarau bak di dataran Afrika. Macam saya pernah ke Afrika saja. Padang nan luas itu bisa disusuri dan sensasinya sungguh mempesona. Indah sekali.




Di ujung Oro Oro Ombo ditemukan sajian pemandangan lain, yaitu hutan cemara bernama Cemoro Kandang.  Alamak sempurna sekali cuci mata di Semeru. Jika hutan cemara ini ditelusuri maka akan tiba di sebuah titik tanjakan yang disebut Jambangan. Dari Jambangan sudah dekat menuju Kalimati. Total jarak yang ditempuh dari Ranukumbolo ke Kalimati sekitar 7,5 km. Harus siap persediaan air selama di Kalimati. Sumber air di Kalimati lumayan jauh, daripada kehausan lebih baik bawa bekal dari Ranukumbolo.

###

Jika  dinginnya suhu di Ranukumbolo ibarat freezer yang ditutup selama seminggu, maka di Kalimati dinginnya ibarat freezer yang ditutup selama sebulan ditambah badai angin. Suara angin menderu menghempas tenda. Memburu dahan pohon agar bergoyang, berkemeresak di antara ranting, meniupi dedaunan, sangat ramai riuh rendah.


Kalimati means the death river, but i saw no river


Dingin akut bikin malas mau masak. Jangankan masak, bergerak saja saya sudah tidak niat. Paling enak meringkuk di dalam tenda. Menunggu badai berlalu. Menjelang tengah malam, sang badai pergi entah kemana. Seolah mengizinkan saya dan teman-teman untuk menyapa Mahameru.


My tents at Kalimati


Kami berkemas dan berdoa untuk menuju puncak. Kami sadar betul bahwa tujuan kami tinggal sedikit lagi. Selepas hutan Arcopodo, kami akan temui tanah tinggi yang harus didaki. Menegangkan, penuh harap, ada cemas, dan bergairah untuk sampai di puncak Mahameru.

“Menegangkan, penuh harap, ada cemas, dan bergairah untuk sampai di puncak Mahameru.”

Kami mulai melangkah memasuki hutan Kalimati. Ketika melintas di Arcopodo, saya terpisah dengan rombongan. Mau balik badan tapi sudah lumayan jauh. Saya tetap telusuri jalan hingga bertemu grup lain. Rupanya medan jalan yang saya tempuh agak lumayan memutar dan terjal. Gelap gulita hanya diterangi senter, saya coba raih batang akar yang menjulur di sisi tanah. Sebagai pegangan.




Dada ini tersengal luar biasa, semakin tinggi suhu semakin drop. Saya harus tetap bergerak supaya hangat. Walau lelahnya luar biasa, tapi tubuh Mahameru sudah terlihat. Berdiri angkuh menantang seraya menggoda.
Saya terus menjajaki tubuh Mahameru. Semakin saya terburu-buru, semakin saya tersengal-sengal. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba ritme langkah dengan hitungan pelan. Biar sedikit-sedikit akan sampai juga nantinya. Semakin ke atas, Mahameru semakin pongah. Tabiatnya makin menjadi-jadi. Pada saat itu, saya gembira luar biasa. Teman-teman saya terlihat lagi di kejauhan. Saya telah menemukan jalur pendakian yang benar. Tapi nafas ini sudah menipis, hasrat melangkah pun sudah tidak ada lagi.




Hingga teman saya, Igun dan Sugi menyeret menggunakan tali, bergantian. Saya tetap yakin harus sampai di puncak. Entah berapa lama pun, saya harus sampai. Ketika puncak semakin dekat, semangat mendaki ini seolah kembali membuncah. Entah energi darimana, saya kembali berdiri tegak tidak terseok-seok walau pada akhirnya jatuh terjerembab. Tapi semangat itu kembali berkobar, apalagi sudah mendekati puncak. Rasanya tidak ada yang bisa menghalangi saya melihat tanah paling tinggi yang ada di pulau jawa.



Saya sampai di puncak Mahameru.

###

Turun dari dataran setinggi 3676 meter diatas permukaan laut itu mudah saja. Laksana James Bond 007 perosotan di salju, saya hempaskan tumit agar berseluncur di tanah berpasir. Jaket sengaja saya buka supaya berkibar-kibar, memberi tahu kalau saya bebas dan berhasil sampai di puncak. Bangga rasanya.




Tiba di Kalimati, kami langsung berkemas. Tujuan kami adalah kembali ke Ranukumbolo untuk beristirahat satu malam lagi. Merayakan kemenangan, kami pesta malam itu di bibir danau.




Pagi harinya tiba-tiba saya mengigil hebat. Kantung tidur terasa dingin. Ada apa sebenarnya. Saya keluar tenda dan semuanya menjadi berwarna putih. Kami disergap kabut Semeru. Mereka berarak-arak turun dari bukit-bukit Ranukumbolo menuju danau. Seolah ikut merayakan pesta. Air telah membeku diluar tenda, embun-embun berkerak mengeras menjadi es, menutupi apa saja disekitar tenda, botol, tas, sandal, sepatu, semuanya bernuansa freezer kulkas yang tidak dibuka selama setahun. Biarlah lebay, karena saat itu saya sangat senang. Girang gemilang.


###

Kabut menipis, matahari mulai berkuasa. Kami kemasi tenda dan bersiap pulang ke Ranupani. Walau lelah bukan kepalang tapi kami sangat menikmati kebersamaan di Semeru. Saya pasti akan kembali lagi.


The Team


**Sedikit tips
   Semoga berguna
  1. Tiket kereta Matarmaja di tahun 2014 adalah 130rb, berdoalah agar dapat subsidi dari Pemerintah. Korting 50%.
  2.  Angkot dari Stasiun Malang ke Tumpang 150rb sekali sewa. Makin banyak temen makin murah, tapi kira-kira ya jangan kelebihan muatan. Baliknya juga demikian.
  3. Sewa Jeep dari Tumpang ke Ranupani bisa dihitung ongkos per kepala, yakni 35-50rb per orang. Kalau jumlah penumpangnya dikit apalagi sendirian, mohon sabar menunggu agak banyakan biar keangkut. Baliknya juga demikian harap maklum.
  4. Masuk ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, liat tabel berikut: 
     
  5. Pulang dari Malang ke Jakarta, bisa naik kereta lagi atau Pesawat biar cepat. Harga tiket Pesawat Malang-Jakarta mulai dari 500rb tergantung amal perbuatan dan musim liburan.
  6. Jangan lupa bawa tenda, makanan, kompor, baju ganti, jaket, sarung tangan, kaos kaki, sepatu yang nyaman dan kuat, air, tissue basah buat eek plus sekop kecil.
  7. Mending gak usah naik gunung kalau nyampah, jadi bawa kantong plastik buat tempat sampah.
  8. Tidak perlu bawa peralatan renang. Sumpah!
  9. Kamera penting banget. Uang secukupnya, karena sampai Kalimati ada juga loh orang dagang. Gorengan berkisar 2500 per piece, nasi bungkus lauk sederhana sekitar 15rb per bungkus, air mineral 600ml rata-rata 10rb-an, kalau yang 1500ml seharga 25rb-an. Kok mahal? Yah cobain aja gendong tuh barang-barang ampe Kalimati terus dijual. Masa harganya sama dengan di toko. Kalau saya yang dagang juga ogah.
  10. Take nothing but photos, leave nothing but footprints.