Rabu, 13 Agustus 2014

Inspirasi Akar

BODHI LIONG, kenapa dinamakan Bodhi dan bukan Asam. Padahal dia ditemukan waktu masih bayi dibawah pohon asam dan bukan pohon bodhi. Aneh saja kalau bayi diberi nama Asam. Bayi itu tumbuh menjadi seorang pemuda. Tepatnya pemuda berkepala pelontos, selalu menutupi gundulnya dengan bandana, berkaus oblong, bercelana jeans belel yang ngatung semata kaki, dan berprofesi sebagai tukang tatto. Mirip anak punk? Bisa jadi. Tapi jauh dari itu, dia dibesarkan di sebuah Vihara di Surabaya lalu merantau ke Medan, nyaris menjadi Bhiksu. Tubuhnya kurus dengan balutan otot murni dari protein nabati karena Bodhi seorang vegetarian seumur hidup.


Adalah seorang bhiksu bernama Liong. Semalam sebelum menemukan bayi di bawah pohon asam didepan Vihara-nya, bhiksu Liong bermimpi ada kilatan cahaya yang membelah pohon. Keesokan paginya, dia mendatangi pohon itu dan menemukan sesosok bayi tepat dipangkal akarnya. Tak berapa lama sang bayi digendong manjauhi pohon asam, sekonyong-konyong petir menyambar dan membelah pohon mirip kejadian dalam mimpi. Bhiksu Liong lantas merawat bayi tersebut dan menamainya Bodhi. ingat ya Bodhi, bukan Asam.

Bhiksu Liong sebagai orang tua dan guru, mengajarkan sang bayi untuk selalu bergerak, berotasi, berputar, dan jangan pernah diam terlalu lama disuatu tempat. Melanglanglah Bodhi dewasa ke Asia Tenggara mencari kesejatian. Berlayar dari Belawan menuju Penang lanjut ke Luang Prabang. Berbekal paspor sakti buatan Ompung Berlin, Bodhi berhasil menyusuri sungai Mekong hingga menyambung hidup dengan cara menawarkan jasa sebagai tukang tatto di Khaosan Road. Bukan sekedar backpacking biasa kemudian narsis ditempat tujuan, perjalanan Bodhi bersama sahabat-sahabatnya Bong, Kell, Epona, Star adalah mencari akar kesejatian.

“Bukan sekedar backpacking biasa kemudian narsis ditempat tujuan, perjalanan Bodhi bersama sahabat-sahabatnya adalah mencari akar kesejatian.”

Kenalkan beberapa teman-teman Bodhi. Ishtar Summer, seorang gadis backpacker yang sangat cantik dan semlohai. Kerap dipanggil Star, dia idola setiap pria. Setiap malam tiba, di dormitory room tempatnya menginap bersama Bodhi, ekor mata setiap pria di dalam kamar sudah siap demi menunggu momen-momen singkat dan spektakuler. Momen ketika Star berganti baju. Bahkan ada yang bertaruh tentang warna bra yang dikenakan oleh Star pada hari itu. Berbeda dengan Kell, dia justru melihat hal yang biasa saja pada diri Star. Tak dinyana ternyata Star sering mengerling kepada Bodhi.

Kell, berusia awal 30-an. Sangat tampan dan atletis. Niscaya mood Tuhan sedang sangat baik ketika menciptakannya. Bernasib seperti Star, Kell adalah idola setiap wanita. Mungkin karena itulah Kell dan Star tidak pernah akur. Mereka memiliki daya tarik kutub yang sama, menjadikan kedua orang ini tidak pernah sejalan. Sosok Kell bagaikan wujud representasi dari impian termuluk setiap pria. Muda, tampan, digila-gilai banyak wanita dan bebas menginjeksikan sperma tanpa harus dimintai pertanggung jawaban. Kell adalah guru tatto bagi Bodhi.

Lain lagi dengan gadis rambut dikuncir kuda. Epona. Berperawakan tegap dan atletis. Selalu sigap. Raut mukanya serius dan tegas karena dia adalah seorang penjinak ranjau profesional. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Epona ahli merakit determinator –alat untuk menjinakkan ranjau-. Kelak ketika ibu-ibu baru melahirkan bayi dan sibuk merajut baju untuk anaknya, Epona pasti akan membuatkan mainan determinator mini untuk anaknya. Kell menaruh hati pada wanita tangguh ini.

Sahabat Bodhi lainnya adalah Bong. Awal perkenalan Bong dengan Bodhi adalah ketika Bodhi ikut menonton konser musik anak-anak punk. Entah bagaimana, Bodhi naik keatas panggung dan melakukan moshing. Meloncat keluar udara dan berharap ada penonton yang menangkapnya. Tetapi Bodhi hanya merasakan udara hingga tubuhnya berdebam menghantam tanah. Bong disana dan cekikikan menertawakan Bodhi, hingga menjulukinya Bodhi Batman. Kenapa namanya Bong dan bukan Bang, Bing, atau Beng. Karena Bong adalah seorang pentolan punk berjiwa Robin Hood. Gemar mengutil di toko-toko kapitalis untuk diberikan lagi kepada gembel jalanan. Bong yang berjiwa sangat bebas merdeka menganggap Bodhi lebih dari sekedar kawan, tapi seorang guru.



Kisah Bodhi Liong yang dibuat oleh Dewi Lestari dalam bukunya Supernova edisi Akar memberikan kisah yang sangat inspiratif. Dewi yang akrab disapa Dee, merilis novel Supernova edisi kedua dari empat seri ini sekitar tahun 2000.

Akar jika ditulis ulang saat ini pasti akan sarat kritik terhadap para penggemar jalan-jalan. Dimana sekarang begitu mudahnya seseorang mendapatkan akses perjalanan pindah antar negara, maka dengan murahnya mereka menobatkan diri menjadi backpacker. Hanya dengan bermodalkan smartphones dan foto selfie lalu mengunggah ke media sosial demi tujuan aktualisasi diri. Dee sangat cerdas dimasanya dalam memberikan sajian cerita, yang terus menginspirasi untuk melihat indahnya Asia Tenggara. Buku ini juga sudah lebih dari 10 tahun menemani dan menginspirasi saya bukan hanya untuk melihat Asia Tenggara tapi juga menyapa dunia.
Om.
                                                                                                 
@arkilos
kreseckers@gmail.com




*tulisan ini juga dijadikan resensi buku di Perpustakaan Kemenkeu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar aja mumpung gratis