Selasa, 12 Agustus 2014

Berjingkat di Langit Asia

KERANJINGAN terbang, itulah yang saya rasakan sejak berkenalan dengan Airasia. Maskapai dengan ikon merah bertarif rendah. Awalnya banyak orang sangsi menumpang maskapai ini. Perkaranya adalah harga tiket Airasia yang sungguh tidak masuk akal. Bisa murah, semurah-murahnya bahkan gratis tiada tara. Tapi kini, Airasia telah menjadi idola seluruh dunia. Airasia adalah saya, saya adalah Airasia.


Bahkan teman-teman menjuluki saya sebagai Duta Airasia karena saya fanatik dengan maskapai ini. Hampir sebulan sekali –minimal- saya terbang dengan maskapai yang tiketnya hanya bisa dibeli secara online, kecuali emang kalian bermental calo lantas kemudian maksa untuk dagangin tiket pesawat ini


Saya terbang perdana menggunakan Airasia ketika menuju Johor Bahru di tahun 2009. Setelah itu hidup saya berubah. Cara pandang saya terhadap kehidupan dan bagaimana orang-orang memandang saya. Hebat betul ya bisa begitu.





Dulu gampang sekali dapet tiket gratisan, karena tidak ada yang percaya naik pesawat kok tidak bayar. Orang-orang masih parno dan berpedoman kalau pesawat murah berarti keamanannya tidak jelas. Saya sebut orang-orang begini sebagai Orang Norak.

Lantas makin lama si Orang Norak tadi mulai sadar, ikut-ikutan terbang dengan Airasia,  karena murah dan lebih tepat waktu dibandingkan maskapai lain. Orang Norak ini kemudian naik kelas, saya menyebutnya sebagai Orang Kaya Baru.

Si Airasia itu, jika dibandingkan dengan maskapai premium –yang-sering-ngaret-karena-isinya-banyakan-pejabat-berpolah-saenak-udele-dhewe-, tetap lebih memikat di hati. Prinsipnya si Airasia, you tidak dateng, I terbang. Salah you sendiri, mau naik pesawat macam mau naik bajaj. Makanya jangan suka datang ke bandara mepet, hei dasar udik.

Kemudian saya pun dengan leluasa melanjutkan terbang sono sini gratisan. Hingga bermunculan si Orang Kaya Baru yang menambah saingan saya di kancah perburuan tiket. Di sisi lain strategi marketingnya Airasia sakses. Bisnis jalan, penumpang makin banyak, promosi bertebaran dimana-mana. Simbiosis mutualisme antara saya, Orang Kaya Baru dan Airasia. Saya dapet untung terbang gratisan, si Orang Kaya Baru merasa oyeh terbang murah, padahal dia tidak sadar bahwa sudah membantu subsidi silang tiket-tiket saya, dan Airasia semakin jaya karena jumlah penjualan tiket makin banyak. Kacang laris manis. Semua gembira.

Setahun, dua tahun, hingga lima tahun jadi duta Airasia versi temen-temen, saya makin cinta setengah mati dengan Airasia. Destinasi yang telah saya kunjungi makin bejibun. Dunia terasa lebih indah, walau tidak seindah Indah Kalalo. Pasalnya si Airasia sudah tidak se lowest-wolest jaman lima tahun lalu. Saya taksir ini karena si Orang Kaya Baru juga ikutan cinta setengah mati sama si Airasia, makanya tiket yang mahalan dikit, juga dihajar bleh. Daripada mereka naik maskapai low cost merek lain tapi ngaretnya naujubileh yang ibaratnya bisa bikin berantem singa satu kebun binatang, yah mending pilih Airasia, kecuali di tempat tujuan memang tidakada Airasia yang take off-landing. Baru deh.


Penghujung 2014
Surabaya


Apesnya Airasia kena musibah. Jatuh di laut. Kemudian spekulasi terasi basi mulai bermunculan. Mulai dari Pilot tidak di briefing tentang ramalan cuaca lah, tidak ada jadwal terbang di hari minggu lah, sampai dikaitkan dengan urusan agama. Capedeh bacanya. Saling tuding, saling lempar, klise.

Pengalaman saya sebagai penumpang Airasia senior –ceileh, yaudah sih biarin saya sotoy-, menghantarkan opini sendiri tentang maskapai ini. Somehow, dari beberapa tragedi jatuhnya pesawat, kok rasanya musibah Airasia ini lebih kasihan dan ngenes. Ibarat udah jatuh ketiban tangga pula. Padahal dalam kurun waktu 3 hari saja, beberapa puing pesawat dan jenazah penumpang berhasil ditemukan. Berarti kerjasama tim penyelamat amat sangat baik. Hanya saja itu suara-suara nyinyir Orang Kaya Baru malah beredar bukannya bantuin minimal berdoa. Saya tidak rela Airasia dibilang maskapai murahan dan tidak memperhatikan keselamatan. Pesawat boleh murah, tapi keselamatan dijaga selalu kok. Terus kenapa bisa kecelakaan begitu, tanya si Orang Kaya Baru. Kalau tiket mahal mah tidak bakal kejadian sampai jatuh. Jederrr, kayaknya orang yang berpendapat seperti itu, saya taksir mereka sering mengkorupsi uang rakyat, makanya jadi bebal.

Sebatas penumpang, upaya keselamatan yang saya tau adalah memahami kartu panduan keselamatan yang ada di kantong kursi plus merhatiin mba-mba pramugari dengan seksama ketika mereka memperagakan cara menggunakan sabuk pengaman, hingga melarang penumpang ngembat pelampung yang letaknya di bawah kursi. Anehnya beberapa maskapai premium malah mengganti live show peragaan menjadi taping video, yang bisa jadi bikin penumpang tidak ngeh.

###

Bagi saya lebih baik tidak punya uang tapi nekat bertualang. Daripada punya uang tapi tak ada waktu luang. Parahnya lagi, punya uang dan waktu luang tapi tetap tak bisa melanglang. Hidup bagaikan makan sayur tanpa garam, merica, tumbar, kemiri dan jahe. Hambar, sehambar-hambarnya. Sebenernya niat baik dan tulus saja sudah bisa membawa anda ke tempat-tempat indah di bumi. Kalau tidak percaya, silahkan tanya sama nyali sendiri. Tinggal mau atau tidak.

Memang paling enak kalau bertualang dengan segepok uang. Tapi tunggu dulu, uang bukanlah segalanya dan dijadikan alasan untuk tidak bepergian. Logikanya memang benar, transportasi butuh biaya, hidup butuh biaya, logis. Tapi tidak usah terlalu didramatisir. Kecuali memang anda kolokan.

Boarding and let's go!


Ada konsep yang namanya kesederhanaan dan persaudaraan yang dirangkum menjadi backpacking. Mau ke tempat yang jauh, ongkosnya mahal, tinggal usaha. Pribahasa bilang banyak jalan menuju Roma. Mau pergi tanpa modal, tinggal mencari tiket gratisan. Eits terlihat sepele, memangnya gampang mencari tiket promo? Gampang kok, asalkan anda -sekali lagi- berusaha. Tidak bisa hanya kepingin-kepingin doang sambil meratap lalu mengharap tiket turun dari langit. Kecuali anda menang lotere atau judi.

Catch the flight to Phuket first, hop on the boat, then Voila! Phi phi island (;


Jalan-jalan, plesir, melancong, ngetrip, apapun itu sebutannya pasti menyenangkan. Tidak mungkin dilakukan berulang-ulang kalau hanya bikin bosan. Bikin kecanduan iya. Namun balik lagi ke masalah klise, biaya. Selama anda memang niat dan tidak pakai acara ngutang, masalah uang itu bisa diatasi. Makanya mikir gimana caranya, jangan kebanyakan bengong.

Daripada bengong mendingan semedi di Da Lat - Vietnam


Internet sudah diciptakan. Tiket promo ada, coba rajin-rajin kunjungi berbagai situs maskapai yang sering memberikan tiket promo bahkan gratisan seperti Airasia. Tidak dapat yang gratis, paling tidak cari tiket murah lah.  Tempat nginap gratis juga banyak. Nginap bisa di rumah teman, masjid, bandara, taman, atau menumpang di rumah penduduk lokal dan sebagainya.

Keamanannya? Anda pasti punya perkiraan kan, dipikir dulu mau menginap dimana. Jangan asal-asalan. Gengsi dong? Hari gini masih malu, ah sudahlah lebih baik anda diam di rumah meratapi nasib karena tidak bisa kemana-mana sambil melihat saya yang hilir mudik kesana kemari. Kalau bepergian makanannya gimana? Justru dengan bepergian bisa memperkaya pengalaman tentang rupa dan rasa makanan. Memangnya kalau anda tidak bepergian lantas tidak perlu makan, sama saja toh. Dimanapun anda butuh makan. bedanya, ini hanya pindah tempat makan. Jadi jangan manja dengan hal remeh-temeh tentang makanan.

Me doing part time job as Tuktuk Driver in Sieam Reap :P


###
Cita-cita saya sejak kecil yaitu melihat berbagai budaya, mencicipi ragam bahasa, mengenal suku bangsa berbeda, mencoba aneka kuliner, mengerti arti toleransi, merasakan keindahan dan merayakan euphoria perjalanan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata. Para orang tua menyebutkan jika masih muda, sehat jiwa dan raganya, tapi tidak bepergian, niscaya akan menyesal ketika tua nanti. Dijamin.


Jika masih muda, sehat jiwa dan raganya, tapi tidak bepergian, niscaya akan menyesal ketika tua nanti” – Nasehat orang tua.


Menuruti petuah tadi, -ajaibnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir-, saya selalu mendapatkan tiket murah dari Airasia. Banyak yang iri banyak yang heran, disangkanya saya pegawai Airasia, padahal saya hanyalah penumpang biasa yang gemar mencari tiket gratisan dan murah. Berbagai destinasi dalam dan luar negeri menjadi mungkin saya sambangi. Saya terbang ke berbagai kota di banyak negara tanpa bayar. Bagi saya murah adalah relatif, tapi gratis adalah pasti.



Jejak kaki saya sudah tercetak di bandara-bandara Asia. Sebut saja Singapura, Johor Bahru, Kuala Lumpur, Pulau Langkawi, Penang, Kota Kinabalu, Bandar Seri Begawan, Hadyai, Phuket, Bangkok, Chiang Mai, Vientiane, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, semuanya pernah saya jumpai menggunakan tiket gratisan Airasia.



Belum lagi perjalanan di kota-kota seputar tempat saya mendarat, semuanya sangat indah tak terperikan.  Bagaimana bahagianya saya ketika mengunjungi Chiang Rai, Mae Sae, Ayyuthaya, Sieam Reap, Phnom Penh, Da Lat, Kuching, Melaka hingga nun di pelosok Vang Vieng. Berbagai tempat indah yang memperkaya hidup.

Angkor Wat, Kingdom of Cambodia


Cinta saya terhadap maskapai berwarna merah ini makin menjadi-jadi karena tidak pernah sekali pun saya terlantar ketika menumpang Airasia. Keterlambatan penerbangan adalah mungkin dalam batas wajar, bahkan pergantian jadwal terbang bisa saja terjadi. Walaupun bukan maskapai berkelas premium, tapi sejauh ini Airasia bertanggung jawab terhadap penerbangan-penerbangan penumpangnya. Tidak perlu tarik urat leher untuk mengurus endorsement atau hal remeh-temeh yang berkaitan dengan delay atau change schedule.



###
Perjalanan dengan Airasia yang paling hits adalah ketika saya mengunjungi India. Awalnya tiket pesawat yang saya beli adalah Airasia tujuan Mumbai. Ternyata maskapai itu menutup rute Kuala Lumpur ke Mumbai. Calon penumpang ke Mumbai diberikan tiga opsi. Pertama tetap diberangkatkan ke Mumbai dengan maskapai lain yaitu Malaysia Airline, menggunakan sistem endorsement. Opsi kedua yaitu boleh memilih rute penerbangan lainnya secara bebas, asalkan masih dengan menggunakan Airasia X. Mereka menyediakan rute ke Australia, Korea, Jepang, New Zealand, Taipei dan sebagainya. Sungguh saya ngiler bukan buatan ditawari opsi kedua ini. Nah, opsi terakir adalah kembali uang penuh.



Saya pilih opsi pertama, tetap terbang ke Mumbai dengan Malaysia Airlines. Alasannya sederhana. Negara-negara seperti Australia, Jepang, New Zealand akan membutuhkan biaya perjalanan yang lebih banyak padahal budget saya waktu itu agak cekak, lagipula pengurusan Visa India jauh lebih mudah. Warganegara Indonesia bisa mendapatkan Visa on Arrival begitu tiba di India.

Kenapa tidak mengambil opsi uang dikembalikan full, karena saya membeli tiket Airasia rute Kuala Lumpur ke Mumbai pada saat promo yaitu hanya 300 rupiah. Jadi, lebih baik tetap ke Mumbai dengan tiket endorsement. Terbang dengan maskapai premium sekelas Malaysia Airlines senilai 300 perak, merupakan prestasi traveling murah paling asyik versi saya. Hal ini tidak mungkin terjadi kalau saya tidak memesan tiket Airasia.




I still love Airasia, somehow. 
Deep condolences and pray for Airasia QZ8510
#togetherwestand

@arkilos









5 komentar:

  1. kayaknya bener deh merangkap sebagai pegawai airasia, masa dapat tiket gratis sering banget *iri*. trus, masa ke Mumbai modal 300 perak doank, itukan cuman bisa buat beli permen sebiji doank, lanjutkan lagi melanglang buana dan menuruti nasehat orang tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha pengen sih jadi Pegawai Airasia. someday somehow :)
      di account Airasia gw banyakan nol nya daripada bayarnya.

      Hapus
  2. Wooww... berarti sy termasuk telat ya jd pecinta AA. Sy tiket termurah dr AA yg sdh mulai diwajibkan beli bagasi, ada processing fee. Hehe tp tetep murah sih meski ngga sefantastis 300 perak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. better late than never. saya bersyukur bisa naik airasia di tahun 2009 sampai sekarang. periode 2009-2012 itu tiket nol gelinding bagaikan diobral bebas. kangen sih masa-masa dapet nol yang bener-bener nol, tapi persaingan maskapai makin ketat. perekonomian calon penumpang juga saat ini makin baik. jadi selama masih wajar, hajaarr terus tiket pesawat murah heheheh

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Komentar aja mumpung gratis