Rabu, 13 Agustus 2014

Inspirasi Akar

BODHI LIONG, kenapa dinamakan Bodhi dan bukan Asam. Padahal dia ditemukan waktu masih bayi dibawah pohon asam dan bukan pohon bodhi. Aneh saja kalau bayi diberi nama Asam. Bayi itu tumbuh menjadi seorang pemuda. Tepatnya pemuda berkepala pelontos, selalu menutupi gundulnya dengan bandana, berkaus oblong, bercelana jeans belel yang ngatung semata kaki, dan berprofesi sebagai tukang tatto. Mirip anak punk? Bisa jadi. Tapi jauh dari itu, dia dibesarkan di sebuah Vihara di Surabaya lalu merantau ke Medan, nyaris menjadi Bhiksu. Tubuhnya kurus dengan balutan otot murni dari protein nabati karena Bodhi seorang vegetarian seumur hidup.


Adalah seorang bhiksu bernama Liong. Semalam sebelum menemukan bayi di bawah pohon asam didepan Vihara-nya, bhiksu Liong bermimpi ada kilatan cahaya yang membelah pohon. Keesokan paginya, dia mendatangi pohon itu dan menemukan sesosok bayi tepat dipangkal akarnya. Tak berapa lama sang bayi digendong manjauhi pohon asam, sekonyong-konyong petir menyambar dan membelah pohon mirip kejadian dalam mimpi. Bhiksu Liong lantas merawat bayi tersebut dan menamainya Bodhi. ingat ya Bodhi, bukan Asam.

Bhiksu Liong sebagai orang tua dan guru, mengajarkan sang bayi untuk selalu bergerak, berotasi, berputar, dan jangan pernah diam terlalu lama disuatu tempat. Melanglanglah Bodhi dewasa ke Asia Tenggara mencari kesejatian. Berlayar dari Belawan menuju Penang lanjut ke Luang Prabang. Berbekal paspor sakti buatan Ompung Berlin, Bodhi berhasil menyusuri sungai Mekong hingga menyambung hidup dengan cara menawarkan jasa sebagai tukang tatto di Khaosan Road. Bukan sekedar backpacking biasa kemudian narsis ditempat tujuan, perjalanan Bodhi bersama sahabat-sahabatnya Bong, Kell, Epona, Star adalah mencari akar kesejatian.

“Bukan sekedar backpacking biasa kemudian narsis ditempat tujuan, perjalanan Bodhi bersama sahabat-sahabatnya adalah mencari akar kesejatian.”

Kenalkan beberapa teman-teman Bodhi. Ishtar Summer, seorang gadis backpacker yang sangat cantik dan semlohai. Kerap dipanggil Star, dia idola setiap pria. Setiap malam tiba, di dormitory room tempatnya menginap bersama Bodhi, ekor mata setiap pria di dalam kamar sudah siap demi menunggu momen-momen singkat dan spektakuler. Momen ketika Star berganti baju. Bahkan ada yang bertaruh tentang warna bra yang dikenakan oleh Star pada hari itu. Berbeda dengan Kell, dia justru melihat hal yang biasa saja pada diri Star. Tak dinyana ternyata Star sering mengerling kepada Bodhi.

Kell, berusia awal 30-an. Sangat tampan dan atletis. Niscaya mood Tuhan sedang sangat baik ketika menciptakannya. Bernasib seperti Star, Kell adalah idola setiap wanita. Mungkin karena itulah Kell dan Star tidak pernah akur. Mereka memiliki daya tarik kutub yang sama, menjadikan kedua orang ini tidak pernah sejalan. Sosok Kell bagaikan wujud representasi dari impian termuluk setiap pria. Muda, tampan, digila-gilai banyak wanita dan bebas menginjeksikan sperma tanpa harus dimintai pertanggung jawaban. Kell adalah guru tatto bagi Bodhi.

Lain lagi dengan gadis rambut dikuncir kuda. Epona. Berperawakan tegap dan atletis. Selalu sigap. Raut mukanya serius dan tegas karena dia adalah seorang penjinak ranjau profesional. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Epona ahli merakit determinator –alat untuk menjinakkan ranjau-. Kelak ketika ibu-ibu baru melahirkan bayi dan sibuk merajut baju untuk anaknya, Epona pasti akan membuatkan mainan determinator mini untuk anaknya. Kell menaruh hati pada wanita tangguh ini.

Sahabat Bodhi lainnya adalah Bong. Awal perkenalan Bong dengan Bodhi adalah ketika Bodhi ikut menonton konser musik anak-anak punk. Entah bagaimana, Bodhi naik keatas panggung dan melakukan moshing. Meloncat keluar udara dan berharap ada penonton yang menangkapnya. Tetapi Bodhi hanya merasakan udara hingga tubuhnya berdebam menghantam tanah. Bong disana dan cekikikan menertawakan Bodhi, hingga menjulukinya Bodhi Batman. Kenapa namanya Bong dan bukan Bang, Bing, atau Beng. Karena Bong adalah seorang pentolan punk berjiwa Robin Hood. Gemar mengutil di toko-toko kapitalis untuk diberikan lagi kepada gembel jalanan. Bong yang berjiwa sangat bebas merdeka menganggap Bodhi lebih dari sekedar kawan, tapi seorang guru.



Kisah Bodhi Liong yang dibuat oleh Dewi Lestari dalam bukunya Supernova edisi Akar memberikan kisah yang sangat inspiratif. Dewi yang akrab disapa Dee, merilis novel Supernova edisi kedua dari empat seri ini sekitar tahun 2000.

Akar jika ditulis ulang saat ini pasti akan sarat kritik terhadap para penggemar jalan-jalan. Dimana sekarang begitu mudahnya seseorang mendapatkan akses perjalanan pindah antar negara, maka dengan murahnya mereka menobatkan diri menjadi backpacker. Hanya dengan bermodalkan smartphones dan foto selfie lalu mengunggah ke media sosial demi tujuan aktualisasi diri. Dee sangat cerdas dimasanya dalam memberikan sajian cerita, yang terus menginspirasi untuk melihat indahnya Asia Tenggara. Buku ini juga sudah lebih dari 10 tahun menemani dan menginspirasi saya bukan hanya untuk melihat Asia Tenggara tapi juga menyapa dunia.
Om.
                                                                                                 
@arkilos
kreseckers@gmail.com




*tulisan ini juga dijadikan resensi buku di Perpustakaan Kemenkeu

Selasa, 12 Agustus 2014

Berjingkat di Langit Asia

KERANJINGAN terbang, itulah yang saya rasakan sejak berkenalan dengan Airasia. Maskapai dengan ikon merah bertarif rendah. Awalnya banyak orang sangsi menumpang maskapai ini. Perkaranya adalah harga tiket Airasia yang sungguh tidak masuk akal. Bisa murah, semurah-murahnya bahkan gratis tiada tara. Tapi kini, Airasia telah menjadi idola seluruh dunia. Airasia adalah saya, saya adalah Airasia.


Bahkan teman-teman menjuluki saya sebagai Duta Airasia karena saya fanatik dengan maskapai ini. Hampir sebulan sekali –minimal- saya terbang dengan maskapai yang tiketnya hanya bisa dibeli secara online, kecuali emang kalian bermental calo lantas kemudian maksa untuk dagangin tiket pesawat ini


Saya terbang perdana menggunakan Airasia ketika menuju Johor Bahru di tahun 2009. Setelah itu hidup saya berubah. Cara pandang saya terhadap kehidupan dan bagaimana orang-orang memandang saya. Hebat betul ya bisa begitu.





Dulu gampang sekali dapet tiket gratisan, karena tidak ada yang percaya naik pesawat kok tidak bayar. Orang-orang masih parno dan berpedoman kalau pesawat murah berarti keamanannya tidak jelas. Saya sebut orang-orang begini sebagai Orang Norak.

Lantas makin lama si Orang Norak tadi mulai sadar, ikut-ikutan terbang dengan Airasia,  karena murah dan lebih tepat waktu dibandingkan maskapai lain. Orang Norak ini kemudian naik kelas, saya menyebutnya sebagai Orang Kaya Baru.

Si Airasia itu, jika dibandingkan dengan maskapai premium –yang-sering-ngaret-karena-isinya-banyakan-pejabat-berpolah-saenak-udele-dhewe-, tetap lebih memikat di hati. Prinsipnya si Airasia, you tidak dateng, I terbang. Salah you sendiri, mau naik pesawat macam mau naik bajaj. Makanya jangan suka datang ke bandara mepet, hei dasar udik.

Kemudian saya pun dengan leluasa melanjutkan terbang sono sini gratisan. Hingga bermunculan si Orang Kaya Baru yang menambah saingan saya di kancah perburuan tiket. Di sisi lain strategi marketingnya Airasia sakses. Bisnis jalan, penumpang makin banyak, promosi bertebaran dimana-mana. Simbiosis mutualisme antara saya, Orang Kaya Baru dan Airasia. Saya dapet untung terbang gratisan, si Orang Kaya Baru merasa oyeh terbang murah, padahal dia tidak sadar bahwa sudah membantu subsidi silang tiket-tiket saya, dan Airasia semakin jaya karena jumlah penjualan tiket makin banyak. Kacang laris manis. Semua gembira.

Setahun, dua tahun, hingga lima tahun jadi duta Airasia versi temen-temen, saya makin cinta setengah mati dengan Airasia. Destinasi yang telah saya kunjungi makin bejibun. Dunia terasa lebih indah, walau tidak seindah Indah Kalalo. Pasalnya si Airasia sudah tidak se lowest-wolest jaman lima tahun lalu. Saya taksir ini karena si Orang Kaya Baru juga ikutan cinta setengah mati sama si Airasia, makanya tiket yang mahalan dikit, juga dihajar bleh. Daripada mereka naik maskapai low cost merek lain tapi ngaretnya naujubileh yang ibaratnya bisa bikin berantem singa satu kebun binatang, yah mending pilih Airasia, kecuali di tempat tujuan memang tidakada Airasia yang take off-landing. Baru deh.


Penghujung 2014
Surabaya


Apesnya Airasia kena musibah. Jatuh di laut. Kemudian spekulasi terasi basi mulai bermunculan. Mulai dari Pilot tidak di briefing tentang ramalan cuaca lah, tidak ada jadwal terbang di hari minggu lah, sampai dikaitkan dengan urusan agama. Capedeh bacanya. Saling tuding, saling lempar, klise.

Pengalaman saya sebagai penumpang Airasia senior –ceileh, yaudah sih biarin saya sotoy-, menghantarkan opini sendiri tentang maskapai ini. Somehow, dari beberapa tragedi jatuhnya pesawat, kok rasanya musibah Airasia ini lebih kasihan dan ngenes. Ibarat udah jatuh ketiban tangga pula. Padahal dalam kurun waktu 3 hari saja, beberapa puing pesawat dan jenazah penumpang berhasil ditemukan. Berarti kerjasama tim penyelamat amat sangat baik. Hanya saja itu suara-suara nyinyir Orang Kaya Baru malah beredar bukannya bantuin minimal berdoa. Saya tidak rela Airasia dibilang maskapai murahan dan tidak memperhatikan keselamatan. Pesawat boleh murah, tapi keselamatan dijaga selalu kok. Terus kenapa bisa kecelakaan begitu, tanya si Orang Kaya Baru. Kalau tiket mahal mah tidak bakal kejadian sampai jatuh. Jederrr, kayaknya orang yang berpendapat seperti itu, saya taksir mereka sering mengkorupsi uang rakyat, makanya jadi bebal.

Sebatas penumpang, upaya keselamatan yang saya tau adalah memahami kartu panduan keselamatan yang ada di kantong kursi plus merhatiin mba-mba pramugari dengan seksama ketika mereka memperagakan cara menggunakan sabuk pengaman, hingga melarang penumpang ngembat pelampung yang letaknya di bawah kursi. Anehnya beberapa maskapai premium malah mengganti live show peragaan menjadi taping video, yang bisa jadi bikin penumpang tidak ngeh.

###

Bagi saya lebih baik tidak punya uang tapi nekat bertualang. Daripada punya uang tapi tak ada waktu luang. Parahnya lagi, punya uang dan waktu luang tapi tetap tak bisa melanglang. Hidup bagaikan makan sayur tanpa garam, merica, tumbar, kemiri dan jahe. Hambar, sehambar-hambarnya. Sebenernya niat baik dan tulus saja sudah bisa membawa anda ke tempat-tempat indah di bumi. Kalau tidak percaya, silahkan tanya sama nyali sendiri. Tinggal mau atau tidak.

Memang paling enak kalau bertualang dengan segepok uang. Tapi tunggu dulu, uang bukanlah segalanya dan dijadikan alasan untuk tidak bepergian. Logikanya memang benar, transportasi butuh biaya, hidup butuh biaya, logis. Tapi tidak usah terlalu didramatisir. Kecuali memang anda kolokan.

Boarding and let's go!


Ada konsep yang namanya kesederhanaan dan persaudaraan yang dirangkum menjadi backpacking. Mau ke tempat yang jauh, ongkosnya mahal, tinggal usaha. Pribahasa bilang banyak jalan menuju Roma. Mau pergi tanpa modal, tinggal mencari tiket gratisan. Eits terlihat sepele, memangnya gampang mencari tiket promo? Gampang kok, asalkan anda -sekali lagi- berusaha. Tidak bisa hanya kepingin-kepingin doang sambil meratap lalu mengharap tiket turun dari langit. Kecuali anda menang lotere atau judi.

Catch the flight to Phuket first, hop on the boat, then Voila! Phi phi island (;


Jalan-jalan, plesir, melancong, ngetrip, apapun itu sebutannya pasti menyenangkan. Tidak mungkin dilakukan berulang-ulang kalau hanya bikin bosan. Bikin kecanduan iya. Namun balik lagi ke masalah klise, biaya. Selama anda memang niat dan tidak pakai acara ngutang, masalah uang itu bisa diatasi. Makanya mikir gimana caranya, jangan kebanyakan bengong.

Daripada bengong mendingan semedi di Da Lat - Vietnam


Internet sudah diciptakan. Tiket promo ada, coba rajin-rajin kunjungi berbagai situs maskapai yang sering memberikan tiket promo bahkan gratisan seperti Airasia. Tidak dapat yang gratis, paling tidak cari tiket murah lah.  Tempat nginap gratis juga banyak. Nginap bisa di rumah teman, masjid, bandara, taman, atau menumpang di rumah penduduk lokal dan sebagainya.

Keamanannya? Anda pasti punya perkiraan kan, dipikir dulu mau menginap dimana. Jangan asal-asalan. Gengsi dong? Hari gini masih malu, ah sudahlah lebih baik anda diam di rumah meratapi nasib karena tidak bisa kemana-mana sambil melihat saya yang hilir mudik kesana kemari. Kalau bepergian makanannya gimana? Justru dengan bepergian bisa memperkaya pengalaman tentang rupa dan rasa makanan. Memangnya kalau anda tidak bepergian lantas tidak perlu makan, sama saja toh. Dimanapun anda butuh makan. bedanya, ini hanya pindah tempat makan. Jadi jangan manja dengan hal remeh-temeh tentang makanan.

Me doing part time job as Tuktuk Driver in Sieam Reap :P


###
Cita-cita saya sejak kecil yaitu melihat berbagai budaya, mencicipi ragam bahasa, mengenal suku bangsa berbeda, mencoba aneka kuliner, mengerti arti toleransi, merasakan keindahan dan merayakan euphoria perjalanan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata. Para orang tua menyebutkan jika masih muda, sehat jiwa dan raganya, tapi tidak bepergian, niscaya akan menyesal ketika tua nanti. Dijamin.


Jika masih muda, sehat jiwa dan raganya, tapi tidak bepergian, niscaya akan menyesal ketika tua nanti” – Nasehat orang tua.


Menuruti petuah tadi, -ajaibnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir-, saya selalu mendapatkan tiket murah dari Airasia. Banyak yang iri banyak yang heran, disangkanya saya pegawai Airasia, padahal saya hanyalah penumpang biasa yang gemar mencari tiket gratisan dan murah. Berbagai destinasi dalam dan luar negeri menjadi mungkin saya sambangi. Saya terbang ke berbagai kota di banyak negara tanpa bayar. Bagi saya murah adalah relatif, tapi gratis adalah pasti.



Jejak kaki saya sudah tercetak di bandara-bandara Asia. Sebut saja Singapura, Johor Bahru, Kuala Lumpur, Pulau Langkawi, Penang, Kota Kinabalu, Bandar Seri Begawan, Hadyai, Phuket, Bangkok, Chiang Mai, Vientiane, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, semuanya pernah saya jumpai menggunakan tiket gratisan Airasia.



Belum lagi perjalanan di kota-kota seputar tempat saya mendarat, semuanya sangat indah tak terperikan.  Bagaimana bahagianya saya ketika mengunjungi Chiang Rai, Mae Sae, Ayyuthaya, Sieam Reap, Phnom Penh, Da Lat, Kuching, Melaka hingga nun di pelosok Vang Vieng. Berbagai tempat indah yang memperkaya hidup.

Angkor Wat, Kingdom of Cambodia


Cinta saya terhadap maskapai berwarna merah ini makin menjadi-jadi karena tidak pernah sekali pun saya terlantar ketika menumpang Airasia. Keterlambatan penerbangan adalah mungkin dalam batas wajar, bahkan pergantian jadwal terbang bisa saja terjadi. Walaupun bukan maskapai berkelas premium, tapi sejauh ini Airasia bertanggung jawab terhadap penerbangan-penerbangan penumpangnya. Tidak perlu tarik urat leher untuk mengurus endorsement atau hal remeh-temeh yang berkaitan dengan delay atau change schedule.



###
Perjalanan dengan Airasia yang paling hits adalah ketika saya mengunjungi India. Awalnya tiket pesawat yang saya beli adalah Airasia tujuan Mumbai. Ternyata maskapai itu menutup rute Kuala Lumpur ke Mumbai. Calon penumpang ke Mumbai diberikan tiga opsi. Pertama tetap diberangkatkan ke Mumbai dengan maskapai lain yaitu Malaysia Airline, menggunakan sistem endorsement. Opsi kedua yaitu boleh memilih rute penerbangan lainnya secara bebas, asalkan masih dengan menggunakan Airasia X. Mereka menyediakan rute ke Australia, Korea, Jepang, New Zealand, Taipei dan sebagainya. Sungguh saya ngiler bukan buatan ditawari opsi kedua ini. Nah, opsi terakir adalah kembali uang penuh.



Saya pilih opsi pertama, tetap terbang ke Mumbai dengan Malaysia Airlines. Alasannya sederhana. Negara-negara seperti Australia, Jepang, New Zealand akan membutuhkan biaya perjalanan yang lebih banyak padahal budget saya waktu itu agak cekak, lagipula pengurusan Visa India jauh lebih mudah. Warganegara Indonesia bisa mendapatkan Visa on Arrival begitu tiba di India.

Kenapa tidak mengambil opsi uang dikembalikan full, karena saya membeli tiket Airasia rute Kuala Lumpur ke Mumbai pada saat promo yaitu hanya 300 rupiah. Jadi, lebih baik tetap ke Mumbai dengan tiket endorsement. Terbang dengan maskapai premium sekelas Malaysia Airlines senilai 300 perak, merupakan prestasi traveling murah paling asyik versi saya. Hal ini tidak mungkin terjadi kalau saya tidak memesan tiket Airasia.




I still love Airasia, somehow. 
Deep condolences and pray for Airasia QZ8510
#togetherwestand

@arkilos









Kamis, 07 Agustus 2014

an Indonesian in Indochina (babak #3)

PHLENG Chat Thai berkumandang di seantero negeri setiap jam 8 pagi dan 6 sore. Melalui radio, pengeras suara di tempat umum, serempak kompak. Biasanya orang Thailand langsung freeze untuk menghormati lagu yang diputar sekitar semenit itu. Tak perduli sedang berjalan, menunggu kereta di stasiun, di dalam bus, dimana saja. Bahkan kalau situasinya memungkinkan mereka langsung berdiri khidmat sambil bersenandung ringan menyanyikan lagu kebangsaan. Ah, mereka pasti bangga dengan negaranya, sama seperti saya bangga akan Indonesia. Tiada taranya.

Saya baru terbangun dari tidur ketika sayup-sayup suara lagu Phleng Chat Thai berhenti dinyanyikan. Disebelah kanan kiri saya sudah ada orang-orang yang menempati lapak kasurnya masing-masing, masih mendengkur. Padahal semalam ketika saya tiba, kamar guesthouse ini masih kosong. Dormitory Green Tulip Guesthouse Chiang Mai, isi 4 kasur, pagi ini sudah terisi pejalan dari mancanegara.
Paul Barrat, yang dari namanya berasal dari negara barat, Inggris, menempati lapak pertama. Steven Cope di lapak kedua berasal dari Amerika. Nah, di lapak ketiga inilah ada Kresecker yang sering uring-uringan jika negaranya disebut sebagai negara berkembang. Apalagi jika negaranya disebut sebagai negara dunia ketiga. Repot betul. Pada lapak kasur terakhir ditempati warganegara Switzerland bernama Patrick Keller. Dibawah asuhan landlord Green Tulip bernama Stella, kami berempat segera membuat geng Chiang Mai bertajuk “Melanglang lah sebelum melanglang dilarang.

###

Saya tidak ada rencana penting di Chiang Mai. Hanya dengan menginjakkan kaki di tanah Chiang Mai, salah satu mimpi saya -sejak duduk di Sekolah Dasar- terwujud. Masih ingat dulu ada pagelaran olahraga Asean yang digelar di sini. Kemudian saya menerka-nerka dimana itu Chiang Mai. Seperti apa rupa Chiang Mai. Sekarang saya hanya terbengong sendiri bisa berada di tengah Chiang Mai. Mari plesir.

Daerah Jajahan



 Chiang Mai adalah kota kuno yang dulunya berupa kerajaan seluas kurang lebih empat kilometer persegi. Benar-benar berbentuk bujur sangkar dengan dipagari tembok tebal sekelilingnya. Diluar tembok ada sungai kecil yang memutari kota tua. Itulah inti Chiang Mai. Tidak luas. Jalan berkeliling didalam kota tua Chiang Mai, tidak sampai sehari pun tuntas.


 
Chiang Mai berkembang. Daerah-daerah diluar tembok kota tua terus membesar. Di setiap sisi tembok terdapat dua gerbang untuk keluar masuk kota tua. Tempat saya bermalam berada di sisi selatan kota. Berjarak hanya 2,5 km dari bandara.

River around Chiang Mai


 Pemberhentian pertama adalah pasar tradisional Chiang Mai. Saya mendapatkan sticky rice mango yang masih hangat. Ini adalah makanan nasi ketan yang disajikan dengan potongan mangga manis dan kuah santan. Beras ketan yang dimasak haruslah benar-benar pulen sehingga lengketnya bisa pas. Potongan mangga disiapkan. Saya taksir ini bukan mangga harum manis atau simanalagi, tapi mangga Bangkok. Gumpalan ketan dan potongan mangga tadi disiram santan. Lezat sempurna. Selamat pagi Chiang Mai.



###

Adaptasi di tempat baru biasanya sebentar saja. Terbiasa nomaden dari satu kota ke kota lain, kekikukan saya mulai berkurang. Pernah dulu, -dulu sekali- ketika saya masih udik, saya hanya merasa menapak di tanah asalkan itu di pulau jawa. Jika berada di luar pulau jawa, saya merasa mengambang diatas tanah. Ibarat sayur tanpa garam. Kurang mantap.
           
 
Chiang Mai's pedestrian

            Chiang Mai menyita hati saya. Kota ini di saat kudeta militer pun terasa damai tentrem gemah ripah loh jinawi. Kemanapun saya menyusuri kota rasanya nyaman. Keluar masuk kuil yang dalam bahasa setempat disebut Wat. Mulai dari Wat Jetlin, Wat Chang Taem, Wat Chedi Luang, dan wat-wat lainnya yang saya tak hapal saking banyaknya.
           



            Orang Thailand gemar sembahyang ke kuil. Dimanapun kuilnya, sibuk banyak orang keluar masuk sembahyang. Saya jadi ikut-ikutan baca Al Fatihah karena tidak tahu harus merapal doa apa. Kalau sudah begini rasanya doa apapun dengan berbagai cara dan aneka metode bertujuan hanya untuk kebaikan. Tapi saya masih suka heran sama orang-orang yang berjualan agama, saling hasut, bahkan agama dijadikan bahan politik. Menurut saya orang-orang seperti itu harus sering diajak jalan-jalan supaya otaknya kembali segar.




Wat Chedi Luang


###

Ceritanya saya ingin menjadi turis. Saya tukar uang dollar saya menjadi baht. Jadi banyak. Tajir melintir dalam sekejap. Banyak biro-biro tur pinggir jalan menawarkan wisata menunggang gajah, kelas memasak, wisata gua. Tak ada yang menarik minat saya. Rencana saya adalah pergi ke Chiang Rai. Ngeteng.
           
 



Chiang Mai's Three King


            Ternyata biaya ngeteng lebih mahal daripada ikutan tur. Maka saya resmi menjadi turis. Beli paket tur seharian penuh dan akan mengunjungi Chiang Rai dan Mae Sae. Sesekali menjadi turis, enak juga.
           
 
Browsing around

            Paket tur yang saya beli seharga 1000baht, harusnya 1400baht. Pipi mba-mba agen tur tersipu merona. Entah termakan rayuan saya karena saya bilang bahwa dia mirip sekali dengan Happy Salma, artis dari Indonesia, atau memang dia kasihan sama saya. Rasanya alasan kedua lebih masuk akal, muka saya melas waktu menawar.
           
 
Another Wat that i forgot its name

            Esok paginya dijemputlah saya dengan kendaraan minivan lux dilengkapi pendingin udara di depan hotel. Pemandu wisata saya bernama Becky yang bahasa Inggrisnya selalu dibubuhi kata “okay” di penghujung kalimat. Becky ditemani Mr. Hu sebagai pak supir. Mereka berdua sudah seperti rekaman kaset ketika membawakan tur perjalanan seperti ini. Entah sudah berapa kali mereka mengulang-ngulang penjelasan yang sama, okay. Mulai dari menanyakan paspor kami sebagai pass masuk ke Laos dan Burma border, okay. Hingga menanyakan siapa yang haus, okay. Semuanya dijelaskan bak ulangan rekaman kaset yang sudah jenuh, okay. Yah mau bagaiamana lagi, mereka berdua harus bekerja, okay.

###

Acara pertama adalah mengunjungi kota Chiang Rai yang berjarak sekitar 200 km dari Chiang Mai. Minivan terus mengarah ke utara Thailand hingga kami singgah di sebuah sumber air panas. Entah apa maksutnya sumber air panas itu. Kalau di Indonesia sih, sebut saja di Taman Nasional Gede Pangrango, itu Hot Spring di Chiang Rai tidak ada eek-eeknya. Hanya kolam bulat yang menyemburkan air panas. Nggak banget.
           
 
Caution! it is hot.

            Karena saya turis, saya harus menikmatinya. Saya rendam kaki saya di kolam rendam kaki demi menghilangkan daki.

###

White Temple di Chiang Rai laksana magnet yang menyedot wisatawan. Kuil berwarna putih keperakan yang megah itu ternyata masih berusia muda. Saya mengunjunginya ketika dia baru berulang tahun ke tujuhbelas. White Temple sedang berbenah diri akibat gempa tempo hari yang merusak bubungan kuil.
           
 
The Gorgeous White Temple

            Diorama neraka menghiasi kolam di depan White Temple. Ceritanya dari samsara menuju ke nirwana. Moral yang dipetik adalah kebaikan tiada taranya dan surga balasannya.
           
 
The Gorgeous man in the White Temple *sakarepmu*





They have also hidden temple which is gold


            Tujuan saya selanjutnya yaitu mengunjungi Golden Triangle. Terlintas dipikiran saya adalah sebuah tempat ladang ganja. Ternyata Golden Triangle merupakan tempat bertemunya tiga negara Thailand, Laos, dan Burma. Jika Eropa, misalnya, punya Vaalserberg yang merupakan titik bertemunya Jerman, Belanda dan Belgia, kini saya berdiri di Golden Triangle sebagai wakil pertemuan tiga negara di Asia.
           
 
a lil bit confused with the concept of the Golden Triangle

            Harapan saya berbeda. Saya kecewa. Di Golden Triangle ini kita tidak bisa berdiri di satu titik yang merupakan pertemuan tiga negara. Sebabnya yang menjadi batas negara adalah pertemuan antara sungai Ruak dan sungai Khong. Saya harus melintasinya dengan menggunakan perahu melalui imigrasi Chiangsaen. Ribet bener.
           
 
Drugs place?

            Konon daerah sekitaran Golden Tirangle ini merupakan pusat perdagangan ganja dan opium. Kalau kawan mampir kesini harap berhati-hati, nanti sekembalinya ke tanah air disangka Bandar narkotik. Runyam.

it is called ASEAN

###

Saya terus mengarah ke utara. Sekitar 100 km dari Chiang Rai ada sebuah kota kecil bernama Tachilek. Ini adalah perbatasan paling utara di Thailand yang bersinggungan dengan Burma. Lagi-lagi saya bertemu imigrasi terasi basi. Padahal yang memisahkan kedua negara ini hanya sejengkal sungai kecil. Niscaya jika penduduk lokal buang air besar di sungai itu, maka kotoranya bisa langsung pindah negara. Beda negara, beda pemerintahan hanya sebatas sungai kecil. Sebuah konsep perbatasan yang unik. Jika melewati imigrasi harus ekstra bayar 500baht untuk bea Pajak Tanah. Padahal harusnya sudah bebas visa. Pungli ini sih.
           
 
Going abroad? It is just a stone throw *alias sepelemparan kolor*

            Di perbatasan dekat Tachilek ini ada sebuah desa bernama Mae Sae. Disini banyak orang asli Burma yang melarikan diri ke Thailand. Mereka bukan sembarang suku, tapi suku yang tekenal dengan lehernya yang panjang-panjang. Mereka adalah suku Karen berleher panjang. Asal muasalanya suku Karen berada di Provinsi Kayah di bagian timur Burma. Mereka bermigrasi ke perbatasan Thailand dan menetap disana. Jumlah populasi suku ini kurang dari 40 ribu orang dan semakin lama semakin sedikit.
           
 
The Long Neck Karen are a sub group of Karen living in Kayah state of eastern Burma (Myanmar) on the Thailand border. Their number is less than 40 thousand people in total. I thought the tour agency -that brought me to their village- will show me how they living. In fact, they are just waiting for the tourists to buy some souvenirs from them :(

            Saya rasa atraksi mengunjungi suku Karen bukanlah merupakan opsi perjalanan yang baik. Saya kecewa dengan paket tur yang ditawarkan untuk mengunjungi suku ini. Mereka terlihat dengan jelas menjual keberadaan suku Karen ini demi meraup uang. Ketika tiba di desa suku Karen ini, yang saya harapakan adalah bisa melihat kehidupan keseharian mereka. Paling tidak seperti apa yang terjadi di suku Baduy, Jawa Barat. Tapi ini suku Karen sengaja di ekspose hanya untk berjualan souvenir. Jadi di desa itu dibuat semacam pasar dengan deretan kios-kios beratapkan ilalang. Mereka berada didalamnya seolah menjaga toko dan berharap agar para turis membeli suatu cinderamata dari mereka. Awalnya foto bersama, baru kemudian muncul rasa bersalah jika tidak membeli sesuatu dari mereka. Bisnis pariwisata yang aneh menurut saya.

###

Sekembalinya ke Chiang Mai, saya bergabung lagi dengan Geng Melanglang. Kami sibuk main kartu remi dan kalau bosan pergi ke atas gunung mengunjungi kuil Doi Suthep. Jika kawan mengunjungi Chiang Mai, wajiblah mengunjungi Wat Phrathat Doi Suthep ini. Letaknya hanya  sekitar 11 km diatas gunung di sebelah barat laut Chiang Mai.
           
 
Doi Suthep



             Perjalanan menuju ke Doi Suthep banyak dijumpai air terjun. Di kaki gunungnya juga tersedia tempat wisata kebun binatang Chiang Mai. Tujuan kami adalah kuil. Entah kenapa saya jadi rajin mengunjungi kuil. Bersepeda pula.
           
 
a must visit place when you were in Chiang Mai

            Pemandangan dari atas Doi Suthep benar-benar priceless. Damai dan indah. Kami betah berlama-lama menunggu malam. Menunggu waktu main remi di rooftop Green Tulip, sekembalinya dari Doi Suthep.

###

Ada pertemuan ada perpisahan. Ini hari terakhir saya berada di Chiang Mai bersama Geng Melanglang. Setelah ini saya akan menuju Hadyai nun di ujung selatan Thailand. Ketiga teman saya bingung atas apa yang saya kerjakan. Dari utara langsung pindah ke selatan. Tanpa tahu akan mengunjungi apa. Mereka sangat khawatir karena di selatan Thailand dikhawatirkan kondisi politiknya lebih buruk. Saya jelaskan ke mereka bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Sama seperti di utara sini. Dimana saja, sama saja. Selama bertujuan baik, hal-hal baik akan selalu mengikuti.
           
 
Screw the curfew!

            Paul berencana mengunjungi Krabi demi agenda moon party. Steven tetap akan berada di Chiang Mai sampai dia merasa bosan. Sedangkan Patrick besok harus kembali ke Bangkok, persiapan pulang ke Switzerland. Entah kapan geng ini akan bertemu kembali.

###

Bandara Chiang Mai dekat saja dari Green Tulip Guesthouse. Geng Melanglang masih tepar akibat pesta perpisahan semalam. Saya kemasi tas pagi-pagi budeg dan kembali melakukan ritual jalan kaki menuju bandara.  Pamit kepada Stella, landlord guesthouse yang super ceria laksana ibu kos di tanggal muda.
           
 
ลาก่อน means see you again (:

            Tidak sampai setengah jam berjalan kaki, saya sudah tiba di bandara Chiang Mai. Dari utara menuju selatan. Belum tahu akan berbuat apa nanti di Hadyai. Bersambung.

@arkilos
kreseckers@gmail.com