Rabu, 23 Juli 2014

an Indonesian in Indochina (babak #2)

KUDETA militer seantero Thailand. Sedang panas-panasnya, sedang hits-hitsnya, saya tetap nekat bertandang ke Bangkok, menyodorkan badan langsung ke inti permasalahan. Dari media yang saya baca dan dengar, dihimbau agar tidak berkunjung ke Thailand kalau tidak ada acara penting. Bahkan anjuran dari KBRI di Bangkok melarang untuk mengenakan pakaian berwarna merah, kuning, dan hitam. Enak saja, mengunjungi Ayyuthaya dan Doi Suthep adalah acara penting. Saya sudah merancangnya sejak ASEAN Games digelar di Chiang Mai tempo hari, bahkan ketika saya belum mengenal dimana Chiang Mai berada. Mana bisa batal begitu saja, apalagi hanya perkara kudeta. Cih.


2010
Bangkok

Negeri gajah putih itu sedang bergejolak. Anehnya, setiap saya berkunjung ke Thailand, negara itu sedang silang sengketa. Tahun 2010 lalu ada perseteruan antara tuan Thaksin Sinawathra dengan tuan Abhisit Vejjajiva. Perseteruan mereka berlanjut ke seluruh negeri. Berebut kekuasaan.



Sebelum saya mendarat di Bangkok, berbagai himbauan, nasehat, petuah dan sebagainya dicecarkan bagai peluru dari senapan mesin. Tujuannya agar saya membatalkan niat untuk bertandang ke negara yang tak pernah terjajah itu. Sayang seribu sayang, saya bersikeras tetap menuju Bangkok demi tiket Airasia nol rupiah yang saya dapatkan sewaktu begadang. Keras kepala rupanya.
Permohonan saya untuk menumpang tinggal di Bangkok -yang saya tulis di grup backpacker- dibalas oleh seorang perempuan dengan prinsip hidup “lebih banyak lebih baik” mirip sedikit lah dengan jargon “banyak anak banyak rejeki”. Belakangan baru saya tahu maksudnya.
 Perempuan itu bernama Peak, mengirimkan berita lewat email bahwa permohonan saya dikabulkan, jika saya juga memegang prinsip “the more the merrier”. Setuju, balas saya pada menit-menit akhir sebelum keberangkatan. Lalu Peak mengirimkan detil informasi tempat tinggalnya berikut bagaimana menuju kesana jika keadaan tidak memungkinkan karena adanya aksi unjuk rasa.

###

Suvarnabhumi, bandara baru di Bangkok, masih kinclong mengkilap. Sebenarnya ini kali kedua saya mendarat di Bangkok. Pada lawatan yang pertama, saya hanya singgah sejenak untuk berganti pesawat ke Amsterdam, kala itu masih di bandara Don Mueang. Beberapa tahun silam.

Suvarnabhumi


Tapi kini, lihat, Bangkok jauh melebihi Jakarta. Aih, geramnya bukan main. Negara saya masih saja ribut urusan birokrasi terasi basi terkait kereta menuju bandara, wacana bandara internasional yang tepat waktu, dan mahaceritera infrastruktur jalan yang tidak macet.

Golden Budha at Wat Po


Saya mengantri untuk naik bus menuju kota Bangkok karena di luar bandara ada aksi protes. Akibat unjuk rasa, Skytrain yang menghubungkan antara bandara dan kota Bangkok tidak beroperasi. Celaka duabelas. Tujuan saya ke daerah Saphwan Khwai, rumah Peak. Ternyata sampai di rumah Peak sangat ramai. Saya pikir sedang ada pesta. Ternyata tidak, bukan pesta. Peak memang gemar menampung pejalan yang kemalaman. Hari itu sudah ada 16 orang dari berbagai negara, kumpul jadi satu, menumpang tinggal di rumah Peak. Macam perserikatan bangsa-bangsa versi mini. Identitasnya hanya tas gemblok. Saya perwakilan dari negara dunia ketiga, seorang kresecker, sekaligus perwakilan dari negeri yang konon menyerupai zamrud di khatulistiwa.

Bangkok and around


Peak mengenalkan saya dengan penghuni lainnya. Mereka semua ditampung Peak dalam rangka kunjungan ke Bangkok. Setiap orang memiliki daerah teritori kekuasaan masing-masing di rumah Peak, seluas kasur lipat. Saya menempati lantai dua bersama 4 orang lain. Tetangga kasur saya adalah Ben, pelancong dari Perancis. Berkenalan dengan mereka semua laksana mengenalkan Indonesia kepada dunia. Bangganya bukan main.

N6 citizens at Peak's place. Until we meet again


Ke-16 orang dengan latar belakang bangsa yang berbeda itu cepat akrab dan kompak. Semua aktivitas kami lakukan secara bersama-sama. Mulai dari berkeliling kota, pergi ke pasar, memasak, makan, hingga urusan remeh-temeh berkelakar antar bangsa. Bahagia. Setiap hari tetangga kasur kami berganti-ganti, karena ada yang baru datang dan ada juga yang harus pergi meninggalkan Bangkok. Kami bahagia tiada taranya. Entah kapan kami akan berjumpa lagi.

2014
Masih di Bangkok

Peristiwa empat tahun silam kembali terjadi. Sama-sama di bulan Mei. Kali ini lebih dramatis. Kudeta di Bangkok, dan Pemilu di Jakarta. Bahkan suasana politik di Indonesia ingin ikut-ikutan seperti di Thailand. Rebutan kekuasaan. Memalukan.

Flower Market


Bangkok mencekam, pemerintah memberlakukan adanya Jam Malam mulai pukul 22.00 hingga pukul 05.00 setiap hari. Pesawat saya mendarat pukul 21.00, terbirit-birit saya keluar bandara. Masih tersisa waktu satu jam untuk sampai di daerah Bangkapi, menginap di rumah teman saya. Sebagai patokan adalah Mall Ramkhamhang, ternyata banyak banci yang mangkal disana. Berkejar-kejaran lah kami malam itu. Saya dikejar banci, banci kocar-kacir dikejar Trantib, dan kami semua diburu Jam Malam. Bubar.

Coup d etat
Terengah-engah saya tiba di rumah Beam. Sahabat saya yang asli Bangkok. Beam tinggal bersama kedua orang tuanya, neneknya, pamannya, bibinya, sepupunya, ponakannya, dan kedua ekor anjingnya. Kalau mereka tinggal di Jakarta, saya yakin pasti mobil keluarga mereka adalah Kijang.
Padahal saya tidak suka anjing, tapi saya tidak punya pilihan. Bak simalakama, didalam ada anjing diluar ada banci. Akhirnya saya pilih tinggal di dalam, berkawan dengan Amoy dan Jungbey. Jilatan mereka meninggalkan najis, tapi najisnya masih bisa hilang dengan tujuh kali basuhan tanah. Lain lagi dengan jilatan -yang mengaku sebagai- Shirley dan Jeannice di luar sana, hadaaahhhhh bikin merinding bulu roma. Najis tujuh turunan delapan tanjakan.

###

The Old Kingdom of Ayyuthaya


Phra Nakhon Sri Ayyuthaya, sebuah kota kuno yang berada di daerah Ayyuthaya. Berjarak hanya sekitar 80km dan dapat ditempuh dua jam perjalanan menggunakan kereta kearah utara Bangkok. Inilah tujuan utama saya bertandang ke Bangkok. Saya ingin melihat langsung reruntuhan sebuah kota yang ditemukan oleh Raja U-Thong pada tahun 1350. Sejarah mengatakan bahwa dulunya ibukota Thailand berada di Ayyuthaya. Sekitar 33 dinasti sudah memimpin kerajaan Ayyuthaya hingga dirajah oleh orang Burma pada tahun 1767.

Train ticket, FREEEE


Bukan kresecker namanya kalau tidak bisa mendapatkan tiket gratisan. Tidak hanya tiket pesawat, tapi tiket kereta menuju Ayyuthaya dari Bangkok juga saya dapatkan gratis. Teman saya, Beam, sampai heran karena ketika dia bepergian dengan saya bisa kecipratan gratisan juga. Usut punya usut, ternyata memang pada beberapa jam tertentu, kereta dari Bangkok menuju Ayyuthaya digratiskan oleh pemerintah untuk warganya. Pada saat itu yang pergi mengantri di loket adalah Beam. Tentu saja gratis. Bagaimana kalau yang antri saya, pasti bayar. Selanjutnya tinggal tutup mulut ketika proses cek karcis oleh kondektur di dalam kereta. Kalau ketahuan bisa berabe.

 Ayyuthaya Train Station


Ayyuthaya seluas 2500an kilometer persegi. Tiba disana, kami menyewa sebuah motor untuk berkeliling. Reruntuhan candi tersebar diseluruh Ayyuthaya. Patung Budha Tidur dan atraksi gajah serta lalu lalang Bhiksu membuat saya merasa pindah beberapa abad kebelakang. Indah sekali. One of best moments in my life.

Temple in Ayyuthaya complex

Sleeping Budha in Monk's attire


###

Hua Lamphong namanya. Megah besar dan banyak rel berjajar didalamnya. Rapi, ramai, dan kuno. Berada di dalam stasiun kereta Hua Lamphong Bangkok, mirip di stasiun Beos. Sedikit mirip. Perkenalan pertama saya dengan Hua Lamphong ketika teman saya si Bodhi hendak mencari Kell, guru tattoo-nya. Bodhi mengenalkan saya dengan Hua Lamphong, dan kini saya berada didalamnya.

Hua Lamphong

Hua Lamphong's facade


Dari kecil saya memang tergila-gila dengan kereta berikut stasiunnya. Entah kenapa, rasanya senang walau hanya melihat rel kereta yang panjang tak putus-putus. Mungkin sakit jiwa. Hua Lamphong sendiri masuk dalam daftar stasiun favorit yang pernah saya kunjungi setelah Chhatrapati Shivaji Terminus atau lebih dikenal stasiun Victoria Terminus nun di Mumbai, India. Semakin kuno stasiun, menjadi semakin eksotis.

Bangkok's backpacker area


Khaosan Road tak pernah sepi. Lalu lalang pejalan kaki semarak riuh rendah. Pedagang kaos dan souvenir menjamur di sisi kanan dan kiri jalan. Rata-rata 100 baht. Boleh kakak, dipilih aja.

Chao Praya Nowadays

With Beam. We are both Japanesse :)


Berlayar di Chao Praya menjadi atraksi dadakan. Saya beri tahu cara murah berlayar di sepanjang sungai Chao Praya. Tarif normal yang dipatok adalah 150 baht, harga tersebut bisa sepuluh kali lebih murah jika naik kapal umum macam bus yang berhenti di setiap halte sepanjang Chao Praya. Saya mulai dari halte kapal di dekat BTS Saphan Tak sin dan turun di dekat Kuil Wat Arun. Lalu saya seberangi sungai dengan jasa angkutan penyebrangan kapal yang hanya bayar 2 baht. Sampailah sudah di Wat Arun.

Temple of Dawn


Wat Arun atau Temple of Dawn berdiri anggun di sisi barat Chao Praya sejak abad ke tujuhbelas. Kuil ini sangat cantik, mungkin karena terbawa suasana Chao Praya yang meliuk-liuk melintasi kota Bangkok. Mengusung gaya Khmer berupa menara mirip candi Prambanan, Wat Arun sangat mentereng dengan ornament porselain disekujur bangunannya. Awalnya kuil ini adalah kuil bagi umat Hindu, namun kini merupakan Kuil Budha yang menjadi salah satu landmark kota Bangkok.

Full of Porcelains


Macetnya Bangkok juga lumayan. Jika kawan bepergian ke Bangkok dan menggunakan bandara Don Mueang sebagai tempat take off dan landing, saya sarankan naik kereta ke/dari Hua Lamphong. Untuk sekali jalan, tiket kereta dari Hua Lamphong ke Don Mueang hanya seharga 20baht. Menghemat waktu dan hemat biaya pastinya. Stasiun Don Mueang agak kuno sedikit. Lokasinya persis di depan bandara Don Mueang. Ada jembatan menyerupai ramp yang menghubungkan antara stasiun dan bandara.
Walau sedih meningglkan Bangkok, tapi paling tidak sekarang sudah ada kabar gembira. Curfew alias jam malam di Thailand sudah ada ekstraknya, yaitu mulai diperpendek masa tayangnya. Jam malam hanya akan berlangsung 4 jam setiap hari, dimulai pukul 00.00 hingga 04.00. Jadi saya tak perlu berkejaran dengan Jam malam ketika mendarat di Chiang Mai malam nanti. Kudeta oh kudeta. Bersambung.

am ready for Chiang Mai *abaikan.celana.saya.yg.sobek*


@arkilos
kreseckers@gmail.com








                                                                                                                  

9 komentar:

  1. ahahaha salam buat Shirley dan Jeannice :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau lo Jim? stok gw banyak noh. *lempar Stella and Jennifer* ahahhaha

      Hapus
  2. Nice broo.. Lanjutkan perjalananmu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap doc! Sampai ketemu lagi :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. cekikikan gw baca yg ini, terbayangkan suasana mencekam campur heboh serta campur celana robek. belum lagi lu emang jepang (sipit lu) banget ya Ri. terus tuch si Peak keren banget ampe nampung puluhan orang di rumahnya.....thanks bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. your most welcome. Emang orang baik di belahan dunia manapun masih ada. Bisa ketemu mereka adalah pengalaman yang berharga.

      Hapus
  5. ahahah, celana sobeknya teuteup dipajang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu celana paling HITS hehehehe

      Hapus

Komentar aja mumpung gratis