Rabu, 25 Juni 2014

an Indonesian in Indochina (babak #1)

SEMENANJUNG Peninsula nyaris lewat tengah malam ketika pesawat rute Jakarta ke Kuala Lumpur menyentuh landasan pacu di bandara KLIA2. Euforia perjalanan baru akan dimulai. 4 Negara, 10 Kota dalam 12 hari perjalanan menggunakan tiket pesawat yang lagi-lagi nyaris gratisan, sungguh membuat hidup ini indah, seindah Indah Kalalo.


Tersebutlah Airasia, maskapai berwarna merah dan bukan berplat merah yang telah membantu saya melihat dunia. Perjalanan kali ini murah meriah.  Ada 7x jadwal take off-landing yang harus saya ikuti secara disiplin. Pasalnya tiket yang saya miliki adalah tiket gratisan dan nyaris tidak bayar. Kalau tertinggal bisa berabe. Jangan tanya bagaimana caranya bisa mendapatkan tiket gratis, itu buah manis hasil berburu tiket murah di musim promo. Selebihnya hanya keberuntungan.

an Indonesian in Indochina


Saya mau pamer tiket murah dulu, silahkan disimak dan jangan jengkel sambil merutuki diri “kok gw gak dapet-dapet sih”. Kawan, jika belum berhasil mendapatkan tiket gratisan, ada tips klise yang sangat berguna yaitu sabar, sabar, dan sabar. Kalau gagal, coba lagi.

Rute #1 Jakarta – Kuala Lumpur, harga 2.000 IDR
Rute #2 Kuala Lumpur – Vientianne, harga 500.000 IDR
Rute #3 Vientianne – Kuala Lumpur, harga 500.000 IDR
Rute #4 Kuala Lumpur – Bangkok, harga 0 IDR alias gratis
Rute #5 Bangkok – Chiang Mai, harga 30.000 IDR
Rute #6 Chiang Mai – Hadyai, harga 60.000 IDR
Rute #7 Kuala Lumpur – Jakarta, harga 2.000 IDR

Ditambah dengan biaya pajak bandara dan sebagainya, total jenderal pengeluaran tiket adalah 1,8 juta. Murah bukan, tapi bukan murahan. Saya bukanlah kaum berduit yang berlibur dengan mahal kemudian bangga, tapi saya berusaha bagaimana agar tetap liburan nyaman dengan bajet terbatas dengan super bangga.



Perbekalan

Terbirit-birit saya menuju bandara Soekarno Hatta. Naik Damri sepulang kerja dengan waktu mepet, ternyata toll bandara mampet. Perkaranya ada as roda truk patah dan menyebabkan truk itu melintang ditengah jalan. Jangan tanya kok bisa, semuanya bisa terjadi selama masih di Indonesia. Beranak dalam kubur saja bisa, apalagi hal remeh temeh macam as roda patah. Padahal jika pada penerbangan pertama ini saya terlambat, bisa khatam sudah rentetan perjalanan sesudahnya.

Ternyata saya terlambat! Akibat macet tadi. Bukan saya saja, tapi sang pesawat juga terlambat. Semua terlambat, kereta terlambat, pilot terlambat, pramugari terlambat, capres terlambat, pamerentah terlambat, Nyonya Meneer saja yang tidak terlambat karena dia sudah berdiri sejak 1919.

###

Dini hari saya berjumpa Malaysia. Setiap kali bertandang, makin maju saja negara ini. Jadi tidak enak dengan negara sendiri. Ah ibarat pribahasa, rumput tetangga memang selalu lebih hijau daripada rumput sendiri. Sudahlah, mari istirahat. Mumpung karpet bandara masih baru. KLIA 2, saya izin ngampar sejenak.


Please Wake me up at 5AM

Orang baik sangat banyak. Saya senang bertemu dengan orang baik, mereka gemar menolong apa saja. Seperti pagi ini, ada tiga perempuan asal Indonesia sebut saja Ulfah, Ainun dan Dibah, yang membangunkan saya setelah melihat pesan yang saya tulis di kertas. Ketiga perempuan ini dalam lawatannya menuju Singapura, demi belanja.

am ready for Laos

Selepas Imigrasi, saya kembali berada di ruang tunggu. Ada tiga orang kakak beradik yang dari gerak-geriknya, saya taksir berasal dari Indonesia. Saya sudah seperti seorang ahli, bisa membedakan seseorang berasal dari Negara mana hanya dengan meliatnya sepintas. Dugaan saya benar. Saya sapa mereka, dan mereka mengaku tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi satu daerah dengan saya, berasal dari Depokian. Dunia memang hanya selebar daun kelor dan sejauh lemparan kolor.

Perkenalkan teman baru saya, Maya – anak pertama, Ilyana – anak kedua, dan Ilyas – anak ketiga. Semuanya berencana berkeliling Laos, keluarga yang kompak. Benar adanya bahwa merantau menambah teman dan kerabat, semakin jauh dari rumah semakin akrab. Pesawat lepas landas, membawa kami ke ibukota Laos, Vientianne.

Ilyana, Ilyas, Maya - Depokian di Laos

Matahari sudah naik sepenggalah ketika kami menjejakkan kaki di Wattay Airport. Asing, asing sekali. Hal yang masih asing bagi kami, menjadi kesempatan emas cecunguk Vientianne mengumbar jasa. Tarif taksi dipatok 70ribu kip untuk menuju pusat kota Vientianne. Kami menurut saja. Sang sopir taksi menawarkan jasa angkutan ke Vang Vieng dengan bus seharga 80ribu kip. Sekali lagi kami menurut saja. Baru tahu belakangan bahwa tarif resmi antara Vientianne ke Vang Vieng hanya separuhnya. Tengik benar.

Wattay International Airport - Vientianne

Saya wanti-wanti jika ada kawan yang ingin berkunjung ke Laos harus lebih berhati-hati dan jangan percaya dengan supir tuktuk dan supir taksi. Camkan bahwa tarif Vientianne ke Vang Vieng adalah 40 ribu kip untuk sekali jalan.

Normal bus fare Vientianne to Vang Vieng is 40.000 kip. Remember that!

Memang dasar lidah tak bertulang, kenek bus bikin janji tapi hanya janji berbuih. Harusnya kami hanya menempuh 3,5 jam perjalanan menuju Vang Vieng dan itu sudah termasuk menerjang jalanan berlubang bak kubangan sapi. Kenyataannya si bus berjalan amat sangatlah lambat. Nyaris 6 jam kami tiba di Vang Vieng. Hari terlanjur menjelang sore.

Route 13, the most famous road from Vientianne - Vang Vieng - Luang Prabang

Vang Vieng tak ubahnya sebuah desa diantara Vientianne dan Luang Prabang. Atraksi menarik di Vang Vieng adalah wisata Sungai Nam Xong dan jelajah gua. Ada banyak sekali gua disekitar Vang Vieng. Setelah kami menemukan tempat bermalam, kami mencoba meluruskan punggung dan mencoba kuliner setempat. 

You can choose to walk or take minibus to Vang Vieng village from this bus station. once we reached this bus terminal, we have no idea where we are. We only know that it is Vang Vieng.

Mendapatkan sungai Nam Xong sebagai pemadangan, laksana obat pelipur lara akibat dibohongi jalan raya Vientianne ke Vang Vieng yang bernama Rute 13. Celaka, celaka sekali.

Landing Vang Vieng

Prestasi pemandangan sungai Nam Xong pada daftar perjalanan saya menempati urutan kedua setelah sungai Tungabhadra di Hampi India sana. Sungai Nam Xong meliuk-liuk di lereng perbukitan Vang Vieng dan berkesan mistis. Terlebih lagi ketika menjelang petang.

Backyard, simply georgeous.

Laos yang bekas jajahan Perancis melahirkan banyak sekali peninggalan bernuansa romantisme Perancis. Misalnya roti baquette yang disebut sandwich dengan berbagai pilihan isi. Mulai dari telur, babi, tuna, ayam, sayur hingga keju. Favorit saya adalah isi tuna. Selain kuliner, banyak juga ditemukan bangunan ala Perancis yang masih cantik ciamik.

BIG Tuna sandwich

Kami lalui hari pertama di Vang Vieng hanya dengan berkeliling desa dan beristirahat. Tak dinyana tempat peristirahatan kami yang berharga 70ribu kip per malam bersebrangan langsung dengan bar, yang mana ketika malam tiba, hingar-bingar nya sungguh mempesona. Ajeb ajeb sekali lagi ajeb.

Vang Vieng's monks

###

Kami sepakat menyewa motor untuk berkeliling Vang Vieng. Per motor yang kami sewa seharga 50ribu kip untuk 12 jam sudah termasuk bensin 2 liter. Berbekal peta dari sang pemilik motor, tujuan kami yang pertama adalah susur gua. Entah gua mana, yang pasti gua yang kami datangi nun ditengah desa. Ditengah ladang. Dikelilingi sapi. Dibawah rimbunnya pohon. Angker.

Road to heaven

Jalan raya di Vang Vieng selain rusak parah juga akan menimbulkan kepulan debu ketika ada mobil atau truk yang melintas. Khawatir terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut, maka kami membekap erat-erat mulut dan hidung ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Sesaknya napas bikin perjalanan makin panjang.

Cave activity

Tujuan kami selanjutnya adalah the Blue Lagoon. Letaknya hanya 7km dari desa Vang Vieng. Mengingat kondisi jalan yang amburadul, ditambah kondisi cuaca yang amat menyengat, kami sangat menginginkan segera sampai di the Blue Lagoon. Hari itu terik matahari nyaris 43 derajat. Kering kerontang.

Toll road

Kami sebrangi jembatan kayu yang melintas diatas sungai Nam Xong. Bergiliran. Bergemeretak. Dua kali motor yang ditumpangi Ilyas dan Maya terjerembab di jalanan berpasir. Jalanan menuju the Blue Lagoon benar-benar penuh debu. Terlebih ketika ada mobil melintas, pasir jalanan menguar ke udara, mengepul bak asap, membumbung laksana kabut di siang hari bolong. Kami hanya tersedak menutup hidung.

Green or Blue? am colorblind

The Blue Lagoon, benar-benar biru. Bukan empang. Mirip kali, tapi tak berarus. Airnya jernih menyegarkan. Kenapa bisa biru, karena di dasar laguna banyak lumutnya. Dengan pembiasan cahaya matahari dan rindangnya pohon disekeliling laguna, menghasilkan efek warna biru. Kami girang akan berenang.

Blue Lagoon, smoking weed is prohibited.

Ada sebatang pohon yang menjuntai ke arah laguna. Penduduk setempat berkreasi memasang tangga di batangnya. Dari sana saya coba panjat dan mulai lompat ke laguna. Sensasinya luar biasa. Ketika kaki bertolak dari dahan, rasanya hidup bukan milik saya lagi. Walau hanya sesaat. Kembali tersadar ketika tubuh menyentuh air. Rupanya tadi saya mati suri. Saya ketagihan, mencoba lompat lebih tinggi lagi, berharap mati suri agak lebih lama sedikit.

Bengong in Nam Xong

Petang di Sungai Nam Xong. Ini cita-cita saya setelah rekan saya, Bodhi botak, pernah melakukannya di Vang Vieng beberapa tahun silam. Gara-gara Bodhi saya terobsesi untuk menjelajah Asia Tenggara. 

Chang Cave's bridge accross the Nam Xong river

Ternyata agenda bengong di Sungai Nam Xong memang asik. Apalagi ketiga teman saya langsung ke Luang Prabang setelah kami kembali dari the Blue Lagoon. Khusyuk benar acara bengong di pinggir sungai.


Ajeb, ajeb, dan ajeb.

Petang mulai datang memikat, ini malam kedua saya di Vang Vieng, dunia terasa damai.

###

Mendapatkan sticky rice manggo ala Vang Vieng sebagai menu sarapan. Kali ini angkutan jasa mobil sepakat 40 ribu kip saja untuk sekali jalan. Kawan, jika berkunjung ke Vientianne dan Vang Vieng, saya amat sarankan naik mobil travel saja dan jangan bus. Sungguh perjalanan menggunakan bus dari Vientianne menuju Vang Vieng tidak ada faedahnya.

Delicious!

Kembali cecunguk Vientiane beraksi. Saya juga merasa kurang siaga dan responsif. Bisa-bisanya tertipu tukang tuktuk. Untuk jarak sekitar 200 meter, saya harus bayar 20 ribu kip. Begitu turun, saya damprat habis si tukang tuktuk. Entah dia mengerti atau tidak intinya saya bilang ke dia: kenapa kamu tipu saya, ini jarak dekat, kenapa kamu bilang jauh? Kamu tahu, sebentar lagi pariwisata di Vientianne ini akan rusak karena ulah orang macam kamu.  In English. Emosi di negara orang tidak berguna, daripada saya darah tinggi tetap saya bayar tukang tuktuk penipu itu. Kelar.

Bang Toyhib was here.

The Journey is My Home, mural yang ada di tembok kamar saya di Vientianne Backpacker Guesthouse. Belokasi di dekat Ban Mixay, atau kuil Ban Mixay. Sekamar isi 13 orang. Macam sarden berjejer-jejer. Saya tinggal disini semalam saja dengan tariff 40 ribu kip per malam. Sudah termasuk sarapan pagi. Penghuninya beraneka, salah satu diantaranya gemar mengumpat.  Mengeluh sampai gaduh. Saya heran dengan orang seperti ini, dia tinggal di dormitory tapi berharap tinggal di hotel. Padanan katanya juga selalu dibubuhi kata f*cking sebelum kata sifat. Saya terka orang macam ini pernah tidak naik kelas.

King Anouvong

Kota Vientianne, walaupun panas, untungnya punya trotoar lumayan. Kesudut kota manapun bisa ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan dalam kota, saya mulai dengan mengunjungi patung Anouvong. Patung sebesar patung Jenderal Sudirman, yang menghadap bukan ke Jalan Sudirman, tapi ke sungai Mekong. Anouvong adalah raja terakhir di Laos, patungnya menatap kearah Thailand yang ada nun diseberang Mekong.

Presiden Palace

Dibelakang Anouvong terdapat istana presiden. Saya terus berjalan menyusuri trotoar istana melewati rumah sakit Mahosot. Di dekat situ ada kuil Ho Pakeo dan Wat Sisaket. Banyak sekali wat yang berarti kuil. 

Ho Pakeo Temple


Wat Sisaket

Tujuan saya adalah ke Victory Monument alias Patuxay Gate. Bangunan ini mirip sekali dengan Arc De Triomph di Paris. Tidak heran karena memang Laos bekas jajahan Perancis. Nuanasa Paris sangat kental di Vientianne.

Victory Monument a.k.a Patuxay Gate

 Ada yang bikin saya bangga dengan Indonesia ketika tiba di Patuxay Gate. Ketika berjalan kearah utara, saya temukan sebuah gong besar seperti yang ada di Ambon. Judulnya Gong Perdamaian Dunia. Pemberian Indonesia, sungguh bangganya gong negara saya dipajang di pelataran Victory Monument. Luar biasa.

Made in Indonesia :)

Pha That Luang's Sleeping Budha

 Berkunjung ke Vientianne harus wajib mampir di Pha That Luang. Ini adalah ikon kota Vientianne. Sebuah kuil berwarna kuning keemasan yang memang cantik. Ibarat ke Jakarta jika belum lihat Monas, kurang afdhol.

Spoiler for Pha That Luang 

 Dari Pha That Luang saya kunjungi That Dam. Sebuah kuil tua yang nyempil diantara kedutaan Amerika dan daerah penduduk. Baru dari sana saya sadar ketika ingin membeli minum bahwa uang kip saya tinggal 24 ribu. Drama pun dimulai.

That Dam

 ###

Minuman seharga 3000 kip itu tak bermerek. Yang penting malam ini tidak kehausan. Sebenarnya masih ada pecahan dollar senilai 50 di dompet, tapi ketika saya tukarkan itu, maka akan jadi banyak lagi uang kip saya. Padahal besok saya berencana hengkang dari Laos. Saya bisa menahan lapar malam ini, tapi tetap butuh uang untuk menuju bandara besok paginya.

Vientianne traditional markt near Pha That Luang

Dilema oh dilema, saya tukar dollar jadi punya banyak sekali kip,  kalau tidak saya tukar harus ada cara menuju bandara. Baiklah saya putuskan untuk tetap tidak menukar dollar. Demi kelangsungan hidup di negara selanjutnya. Untuk menuju bandara, saya akan mengandalkan GPS. Murah meriah canggih.

Alkisah sekitar 8 km saja jarak antara penginapan saya dengan bandara. Cincay lah. Saya terka hanya satu jam perjalanan akan sampai di bandara. Selepas sarapan gratisan dari hostel, saya kemas tas dan langsung jalan menuju bandara. Ini kali kedua saya jalan kaki menuju bandara. Pengalaman pertama adalah jalan kaki menuju bandara di Pulau Langkawi, dan itu 12 km. Saya jadi berandai-andai ingin membuat suatu klub berjudul Jalan Kaki ke Bandara.

8 km walk, am ready for the next destination. Laos till we meet again.

Wattay airport, sebentar lagi saya mengudara menuju Thailand, berhadapan dengan jam malam. Bersambung.

@arkilos
kreseckers@gmail.com

2 komentar:

  1. kok pendek amat story na, khan fotona banyak beuuuddddd
    more.... more.... more.....

    BalasHapus
  2. The Blue Lagoon nya mirip sama yang ada di Indonesia,, provinsi Sumatera Utara yang pernah saya datangin. hehehehe

    liat saja disini, meski gk mirip-mirip kali. peace..

    http://www.medanwisata.com/2014/04/pemandian-alam-aek-manik-sumatera-utara.html

    BalasHapus

Komentar aja mumpung gratis