Minggu, 11 Mei 2014

Ededoe Makassar


KEBAKARAN pasar ternyata lebih heboh daripada kebakaran jenggot. Hari itu Rabu malam 7 Mei 2014, tepat semalam sebelum pelantikan Walikota Makassar yang baru, pasar Sentral Makassar terbakar. Entah sengaja atau tidak yang pasti hiruk-pikuknya sangat ramai riuh rendah.

            Ini kali pertama saya bepergian dan menyaksikan langsung kebakaran. Tidak tanggung-tanggung yang terbakar, sebuah pasar di jantung kota Makassar ludes dilalap si jago merah dengan cepat. Naluri saya sebagai wartawan bodrek memaksa untuk mengambil secuplik-dua cuplik gambar kobaran api dari jarak dekat. Menantang sekali.



###
            Alkisah kopi yang saya pesan di emperan lapangan Karebosi masih mengepul, menguarkan aroma kopi Toraja yang lazis tiada tara. Suasana masih damai adem tentrem gemah ripah loh jinawi hingga terdengar sirine brandweer pertanda drama dimulai. Saya letakkan gelas kopi dan segera berlari ke trotoar jalan. Orang-orang sudah ramai berduyun-duyun ke arah datangnya cahaya seolah sedang menyongsong matahari yang akan segera terbit. Asalnya cahaya dari pasar Sentral yang hanya sekitar 500 meter dari tempat saya ngopi.

Terang benderang laksana matahari akan terbit


            Ini jam 10 malam, tidak mungkin ada matahari terbit jam segini. Kecuali Dayang Sumbi bikin perkara di tanah Makassar, menolak cinta haram Sangkuriang kemudian membakar jerami untuk mengusir jin suruhan sang putra kandung. Tapi sekali lagi ini di Ujung Pandang bukan di bumi Pasundan. Mana berani Dayang Sumbi bikin onar. Usut punya usut, ternyata pasar Sentral kembali terbakar, padahal dua tahun lalu sudah pernah terjadi. Belum jera juga rupanya.


Bukan hasil karya Dayang Sumbi

###
            Berbekal kamera ponsel, langsung saya foto dan rekam kejadian dramatis di pasar. Saya berdiri mengambil gambar tepat di perempatan di depan gedung Jusuf Kalla. Dari situ energi panas api sudah bisa dirasakan. Hangat menjulur ke seluruh tubuh. Berbondong-bondong orang menyelamatkan barang dagangan. Mereka berlarian menuju arah lapangan Karebosi. Bagi yang tidak sempat mengangkut barang-barangnya karena terlanjur dilahap si jago merah hanya bisa menangis pasrah di emperan jalan. Mobil, motor, apa saja bergelimpangan tak keruan. Gelap mencekam, rusuh luar biasa.

Bunga Api bertebaran di angkasa

            Saya masih berdiri di perempatan persis di pelataran gedung Jusuf Kalla tadi, sekonyong-konyong bunga api menyemburat di angkasa. Indah tapi bahaya. Saya rasakan panas api makin meningkat. Kobaran pun mendekat. Menjalar. Menggeliat. Orang-orang tambah panik. Jumlah massa yang berlarian kocar-kacir semakin banyak. Mereka ibarat rombongan bedol desa yang kompak serempak, lari tunggang langgang menjauhi perempatan. Saya termasuk didalamnya. Terbirit-birit.


Api mendekat, bubar semua.

            Api cepat sekali menjalar, melahap apa saja yang ada didepannya. Sambil berlari saya serukan ke orang-orang disekitar untuk membawa kendaraannya menjauh. Tinggalkan barang yang tidak bisa terangkut. Kala itu nyawa terasa berharga sekali.
            Pasukan brandweer kembali menyerbu, dibelakang sana terjadi perang antara api dan air. Entah berapa lama, saya terus menjauh dari kebakaran.
###

Satu hari Sebelumnya
Mendapatkan penginapan dipinggiran Pantai Losari membuat saya rajin bangun pagi. Sekedar jalan-jalan dan mencicipi makanan di sepanjang tanjung Makassar.

Selamat pagi

 Mayoritas pedagang disana menjual Pisang Epe. Pisang Epe adalah pisang bakar yang aslinya disiram saus gula merah. Didukung jaringan internet, saus gula merah mulai berulah. Si gula bertransformasi menjadi rasa durian, nanas, strawberry, coklat, dan sebagainya. Rupanya para pedagang Pisang Epe kongkalingkong, mematok harga 8000 rupiah per porsi isi 3 pisang. Kalau kawan mau tambah taburan keju harus ekstra 2000 rupiah. Selidik punya selidik ternyata peran keju tadi adalah agar Pisang Epe bisa go international seperti coke bottle. Niat betul.


Pisang Epe, hanya dengan saus gula merah. KW Super.

            Dari depan Masjid tengah laut, saya coba naik piti-piti. Sebuah kendaraan umum laksana angkutan kota alias angkot. Tujuan saya mengunjungi bekas kerajaan Gowa. Namun piti-piti tidak berhenti sampai disana, maka saya harus menumpang kendaraan pribadi yang mengarah ke Gowa. Pemberhentian pertama adalah makam raja-raja Gowa.

Masjid Tengah Laut. Cakepp.


###
            Saya baru tahu kemarin kalau Sultan Hasanuddin dilahirkan dengan nama Muhammad Baqir. Beliau menjabat sebagai Raja Gowa diusia 23 tahun. Padahal saya sudah mengenal pahlawan ini sejak dibangku Sekolah Dasar.


Pun yang hanya saya tahu adalah julukan Sultan Hasanuddin ketika berperang melawan Belanda yaitu Ayam Jantan dari Timur.

Dari jaman SD, akhirnya ketemu beliau.  Walau makamnya aja.

Saya juga tahu bahwa setelah baginda menjadi Raja, namanya menjadi I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla Pangkana. Nama yang panjang dan cukup keren.

Makam sang Raja

         Ingat Sultan Hasanuddin, pasti ingat Perjanjian Bungaya atau Cappa ri Bungaya. Otomatis yang terlintas adalah pertanyaan cerdas cermat jaman SD di kantor kecamatan demi menanyakan tanggal perjanjian. Baiklah, mumpung saya di Makassar, sekali lagi saya jawab: Perjanjian Bungaya dilakukan pada tanggal 18 November 1667. Penting, penting sekali wahai anak muda.



Jangan lupakan sejarah :)

###
            Dari makam Raja-raja, perjalanan saya teruskan mengunjungi ke bekas kerajaan Gowa. Letaknya tidak begitu jauh dari makam. Tetap harus nebeng kendaraan lewat. Sebenarnya Kerajaan Gowa ini terakhir ditempati oleh Raja Gowa ke-36 yang mangkat pada tahun 1978. Setelahnya barulah bangunan kerajaan ini beralih fungsi menjadi museum.

Ex Palace

            Ada dua massa bangunan utama. Istana dan Museum. Bagian Istana disebut Istana Tamalate dan bagian Museum bernama Balla Lompoa. Saya hanya masuk ke bagian Museum karena Istananya dikunci.

Sayap Kanan Istana dijadikan Museum

            Hari itu saya sedang mujur. Bagian belakang museum yang terhubung dengan Istana mempunyai sebuah kamar rahasia. Kamar ini biasanya terkunci, tapi kali ini dibuka untuk saya. Hebat betul.


Sang juru kunci, yang mana keturunan raja, sedang ada di museum pada saat saya datang. Dia menyambut saya laksana pemandu wisata, dan saya kira memang dia berprofesi sebagai pemandu. Sang juru kunci hanya menjelaskan silsilah keluarga raja secara singkat, kemudian dia pergi ke kamar rahasia. Saya dipanggilnya. Ternyata kamar rahasia itu dibukanya. Dia mempersilahkan saya masuk kedalam dan melihat barang yang ada disana. Aiihhh, ada mahkota emas konon seberat dua kilogram teronggok ditutupi kaca.

Mahkota Raja Gowa dari Raja Pertama hingga Terakhir, Full Emas 2 Kg.

            Sang juru kunci mengatakan bahwa mahkota itu dipakai oleh Raja Gowa pertama hingga terakhir. Uniknya adalah tidak ada yang mengetahui dari mana mahkota itu berasal. Saya hanya bisa terkagum-kagum.

King's Dining Room

Setelah itu sang juru kunci memperlihatkan sebuah kursi yang ditutup selembar kain berwarna merah. Tahukah kawan, itu adalah kursi Raja yang dipakai oleh Sultan Hasanuddin dan Raja-raja lainnya.

Aura Raja membuat tingkat ketampanan naik beberapa derajat

            Saya hanya manggut-manggut takzim. Tak dinyana, sang juru kunci menyuruh saya duduk di kursi itu. Malahan jadi saya yang grogi. Masa boleh duduk di kursi Raja. Sang juru kunci mengizinkan dan mempersilahkan. Maka saya coba duduk di kursi itu, sensasinya luar biasa. Tingkat ketampanan saya langsung naik beberapa derajat, selain itu terasa aura penguasa yang mengalir beberapa detik. Eforia penguasa laksana pejabat benar-benar saya rasakan. Pokoknya tidak mau pisah dari singgasana. Karena itulah saya baru paham, bahwa banyak pejabat yang langsung mencret begitu tahu jabatannya dicopot. Bukan main efeknya. 


Bahkan di Makassar, nama saya dijadikan hiasan kota :)

###
Dua hari sebelumnya
Saya tiba di Makassar nyaris tengah malam, langsung menuju penginapan. Rencana keesokan paginya adalah berkunjung ke Fort Rotterdam.



Benteng Rotterdam peninggalan Belanda yang terletak di depan dermaga Popsa ini dibangun pada tahun 1545 ketika masa pemerintahan Raja Gowa ke-9.





Fort Rotterdam beberapa kali mengalami restorasi dan kondisinya hingga saat ini masih cukup baik.
###



Pangeran Diponegoro pun pernah diasingkan selama 25 tahun disini. Kebayang gak tuh ngapain aja disekitaran benteng selama itu. 



Dari Fort Rotterdam, saya menumpang kendaraan menuju Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Lokasinya berada sekitar satu jam setengah dari kota Makassar. Hanya ada satu jalan menuju kesana, dan jalanannya tidak terlalu lebar untuk dilewati dua mobil.

Bantimurungwood
Entrance

Taman Nasional ini memiliki air terjun dan beberapa gua. Selain untuk wisata bisa juga dijadikan tempat penelitian. Hutan Bantimurung banyak terdapat kupu-kupu.

Bantimurung waterfall

Bahkan masyarakat lokal menangkap dan menjadikannya sebagai hiasan. Secara keseluruhan Taman Nasional Bantimurung ini lumayan tertata dan menjadi lokasi wisata terdekat dari pusat kota.


Hiking to the cave


Gua Batu

Gua yang saya datangi adalah Gua Batu dan Gua Mimpi. Diatas air terjun dan harus hiking sedikit, maka akan sampai di kuburan sebelum Gua Batu. Sedikit horor tapi udaranya sejuk.


Pajangan Kupu-kupu

###


Ketika kembali ke kota Makassar, saya siap berkuliner. Makanan pertama adalah Mie Titi. Bentuknya mirip I Fu Mie, namun potongan mie nya lebih kecil dan garing serta lebih hancur. Mie Titi disiram kuah panas kental bercampur potongan ayam atau seafood. Alamak rasanya hangat gurih. Biasanya dimeja-meja disediakan acar cabai rawit yang pedas luar biasa.


Mie Titi sebelum disajikan

Setelah Mie Titi, saya mencoba Jalang Kote. Mirip sekali pastel namun isinya ditambah ubi kayu. Biasa saja, namun ketika dimakan dengan sausnya menjadi spesial.

Jalang Kote Ori

Belum selesai disitu, saya icipi juga Barongko dan Kue Pelita. Barongko tampilannya mirip Botok. Dibungkus daun pisang. Ketika dibuka, potongan pisang yang ditumbuk halus bercampur telur lalu dikukus menyeruakkan aroma manis. Barongko ini konon berasal dari Bugis.

Edede nyamanah. Harus ki cobai kan rejawana Makassar burongko nah

Acara kuliner ditutup dengan Es Pisang Ijo. Maknyuss.

         Perjalanan ke Makassar di awal bulan Mei ini saya anggap sebagai ‘teaser’ sebelum perjalanan akhir bulan nanti menuju Laos. Mari siapkan Salam, Lengkuas, dan Kencur.


@arkilos