Rabu, 12 Maret 2014

Gong Xi Bali

IMLEK 2014 Jakarta hujan. Mengingat tanning kulit mulai pudar, saya harus segera mantai. Santai kayak di pantai, selow kayak di pulow. Lagi-lagi Airasia, maskapai favorit saya yang mendukung liburan murah meriah nyaris gratis tiada duanya. Singkat saja, 4D/3N, macam liburan kaum berduit.


Tiket gocengan alias 5000 perak menuju Bali. Entah kali keberapa saya ke pulau Dewata. Teman kantor sampai mengira bini saya tinggal di Bali. Kali ini, saya menuju Bali tidak dari Jakarta, tapi dari kota kembang Bandung. Demi ya, demi penerbangan seharga goceng, saya rela mengarungi tol Cipularang yang sedang amblas-amblasnya di musim hujan. Demi ngampar  bermalam di pool travel di daerah Pasteur Bandung. Sekali lagi, semua rela saya lakukan demi tiket pesawat Airasia 5000 perak yang akan saya gunakan pada subuh keesokan harinya.

#1 Day One
Setengah jam lepas tengah malam, saya sampai di daerah Pasteur. Meringkuk di kursi besi ruang tunggu pool travel, tidur-tidur ayam menunggu subuh. Hawa Bandung di musim hujan tengah malam, mirip suasana di Belgia ketika mulai musim gugur. Dingin-dingin semlohai.

Sekitar tiga jam mencoba tertidur pulas, tapi gagal total. Saya cegat taksi, menuju Bandara Husein Sastranegara. Berharap menunggu disana lebih hangat sedikit. Alamak, lebih parah, bandara masih tutup. Ngampar versi kedua, di teras bandara, dinginnya amit-amit.

Ketika bandara dibuka, saya lah penumpang pertama yang menyeruak masuk. Menyelesaikan remeh-temeh urusan sebelum lepas landas. Pagi itu, Denpasar terasa hanya sepelemparan kolor dari Bandung, musababnya saya tewas terkapar di dalam kabin. Sungguh perjalanan singkat.

Selamat pagi Bali. Selamat Imlek. Shenti jiankang, wan shi ru yi, nian nian you yu, ma dao chenggong, gong xi fa cai. Kemudian hujan deras.

###

Musim penghujan begini penting sekali membawa jas hujan. Sepeda motor langganan sudah terparkir menunggu di depan bandara. Tujuan pertama saya adalah mengunjungi Pulau Serangan. Pulau ini pertama kali saya liat dari udara ketika pulang dari Labuan Bajo. 

Pulau Serangan dilihat dari udara

Sesaat sebelum mendarat di Bali, saya melihat rimbunnya hutan bakau disebuah pulau yang terhubung dengan jembatan ke pulau Bali. Menarik sekali untuk dilihat. Baru belakangan saya tahu nama pulau itu adalah pulau Serangan.
 
Selat Serangan 
  

Cara menuju pulau Serangan sangat mudah. Keluar toll Mandara yang kearah Denpasar, belok ke timur alias ke kanan menuju Sanur. Tidak jauh peerhatikan rambu ada arah menuju Serangan. Lakukan putar balik di bypass, ambil belokan ke kiri. Lurus saja, suasana mulai sepi. Hanya hutan bakau dikanan kiri hingga menyebrangi jembatan. Voila! Sudah sampai di Pulau Serangan.

Spoiler for toll Mandara dilihat dari udara *Penting bener*

Memasuki Pulau Serangan

Pulau Serangan tidak terlalu besar. Berkeliling dengan motor sudah sangat cukup nyaman. Penduduk di pulau ini mulai padat. Sajian utamanya adalah hidden beach. Pantai nyempil di rerimbunan pohon bakau. Akses jalan menuju ke pantai Serangan masih tanah berpasir. Tanpa aspal. Lubang-lubang di sepanjang jalan menyemarakkan manuver kendaraan yang melintas. Bukan lagi lubang selebar tempayan. Tapi lebih besar, mirip kubangan sapi ketika terisi air. Bukan main ajrut-ajrutan.

Jalanan berlubang menuju pantai nyempil alias hidden beach

Begitu sampai di pulau Serangan, aaaaahhhh paradise. Tipikal pantai Bali yang berpasir putih. Tidak terlalu ramai. Memang ada rumah-rumah sederhana yang  juga berfungsi sebagai warung. Pergi ke pulau Serangan ini, saya tidak melihat adanya turis domestik. Semuanya bule, kecuali saya, bule domestik.

Serangan Beach

Aktifitas standar pantai pun marak. Berjemur, surfing, berenang, dan leyeh-leyeh. Saya pilih leyeh-leyeh plus nenggak air kelapa. Hidup memang harus disyukuri. Welcome back tanned skin.

Leyeh-leyeh dan moto apa yang bisa dipoto

Ada sekitar dua jam lebih saya nangkring di depan warung pak Made. Setelah itu kembali menjelajah pulau Serangan, berkeliling menyeruak hutan bakau. Dari sana saya kembali ke peradaban. Kuta.

Ada danau juga di Pulau Serangan

###

Tersebutlah teman saya Mg, penggila jalan-jalan dan mempunyai usaha dibidang jalan-jalan juga. Kala itu Mg sedang membawa puluhan pasukan dari Jakarta untuk berlibur di Bali. Nasib saya sebagai teman orang yang demen jalan-jalan adalah kecipratan rejeki menginap gratis bersama pasukannya. Emang rejeki gak salah alamat.

Hotel tempat Mg dan pasukan menginap, bukanlah hotel ecek-ecek. Hotel berbintang 4 dikawasan Kuta and i stayed there for free for three nights. Rejeki kresecker, pesawat mureh dan penginapan gratis. Terharu.

Malam pertama di Bali, masih Imlek, hujan datang kembali. Simpan energi ajeb-ajeb untuk esok.

#2 Day Two
Sarapan di hotel bintang empat gratisan. Banyak manula asing sedang berlibur. Terpaksa nyarap sama aki-aki dan nini-nini bule. Menurut saya lebih enak ngobrol sama aki-aki and nini-nini bule, daripada yang masi muda. Cerita aki-nini ini lebih banyak dan kocak. Seperti pasangan aki-nini dari Belanda yang mengaku demen jalan walau sudah tua. Alasannya demi mencari matahari, konon di Belanda sedang beku-bekunya, jadi mereka ke Bali. Ngungsi.

Aki-nini tadi senang karena saya juga ngemeng pakai Bahasa Belanda, mereka yang sudah tinggal di hotel ini sebulan lebih, ceritanya banyak sekali. Ada satu hal yang mereka heran terhadap orang Indonesia, kenapa senang sekali melihat salju. Bela-belain ke Eropa di musim dingin cuman buat foto sama salju. Keluar rumah lalu pose abrakadabra abis itu fotonya nongol di media sosial. Berdandan pake syal, bak orang sakit panas, tapi nyengir kuda berlatar putih-putih salju alibaba.

Komentar pedas aki-nini kepada saya, kurang lebih seperti ini, jika diterjemahkan kedalam bahasa Betawi. “Eh, buset yah tong, kite gak abis pikir tuh orang-orang Indo, pada gak kedinginan apa yak. Nah kite aje nyariin matahari biar gak beku, lah mereka pade ke Belande buat dingin-dinginan. Aneh bener yak. Udeh gitu tong, kite pernah mergokin didepan rumah, mereka pada selpi-selpian. Sumpeh norak bener dah toong. Bujug buneng, nih orang dari kampung mana yakk. Et dahh. Kite mah amit-amit jabang baby disuruh begitu. Mendingan disini, di Indonesia. Enak banyakan matahari, anget tong.”

Saya hanya menimpali komentar aki-nini itu dengan bijak bestari. Alasannya kurang lebih sama dengan aki-nini yang keranjingan matahari. Karena kami dibesarkan tanpa salju, jadi salju merupakan komoditi mewah dan mahal untuk mendapatkannya. Caranya yah pergi ke tempat bermusim salju lalu merasakannya.

Aki-nini tadi nimpalin lagi. “Lah iyak tong, kite ngarti kalo itu mah. Cuman yeh, narsisnye itu tong. Masa ampuuuunnn. Coba dah tong lo liat, noh di sosial media, kite aja gak gitu-gitu amat kalo lagi liburan.”

Waduh, sepertinya saya ngalah aja dari perdebatan dengan si aki-nini, daripada kualat ama rusak liburan gara-gara topik orang Indonesia yang narsis foto di salju. Lebih baik setelah sarapan saya menenangkan diri di Pura. Meditasi.

###

Pura Ulun Danu Beratan. Tujuan saya. Tampak di peta lumayan jauh jaraknya dari Kuta. Pura ini ada ditengah-tengah pulau Bali. Tanpa membuang tempo, tancaplah saya walau hujan-hujanan menuju Pura itu.

Gerbang Pura Ulun Danu

Ada sekitar satu jam lebih, baru saya tiba di kawasan Danau Beratan. Kawasan ini banyak terdapat komunitas muslim. Ada masjid besar yang bersebrangan dengan Pura Ulun Danu Beratan. Ah, indahnya kebersamaan. Cuaca mendukung, sudah dingin ditambah gerimis. Makin dingin. Sempat terpikir ingin berbusana ala eropa di musim dingin. Khawatir disangka gila, lebih baik saya urungkan niat. Apalagi kalau si aki-nini tadi darmawisata ke sini juga, bisa-bisa mereka tambah sewot dan saya dilempar ke danau.

Pura Ulun Danu Beratan

Pura Ulun Danu Beratan, bagi kawan yang belum pernah kesana, ada cara mudah untuk melihat pura ini dengan hanya bermodalkan 50 ribu rupiah. Coba ambil selembar uang lima puluh ribuan.  Lihat baik-baik bagian belakangnya. Nah, pura itu ada disana. Cakep. 

Cukup 50 ribu langsung sampe :D

Jagung bakar manis dan strawberry adalah oleh-oleh standar dari kawasan danau ini. Cukup sudah dengan suasana dingin, macam aki-nini bule, saya mau mencari kehangatan. Mari cari matahari di pantai. Pilihan saya jatuh pada pantai Pandawa. Pantai ciamik dengan tebing-tebing tinggi yang menambah kesan ho oh.

                                                                 ###

Sepanjang pinggiran pantai Pandawa banyak cafe-cafe alias warung yang pas bener buat leyeh-leyeh. Bersama tiga orang teman, kami melipir disana. Menghabiskan sore sampai sore benar-benar habis. Kami baru beranjak dari pantai Pandawa ketika diusir hujan. Bubar. Bubar semua. Pulang.

Aktifitas pantai yang melelahkan, membuat kami lapar. Bosan dengan nasi Bali yang pedas, kami makan malam ramen dan sushi. Loh ini di Bali atau Tokyo?

Sushi di Kerobokan

###

Malam minggu di Bali. Hujan reda, mestakung. Ajeb ajeb ajeb.

#3 Day Three
Perasaan tidak enak. Bukan karena goyang yang gerakannya hanya nunjuk-nunjuk semalam suntuk. Bukan karena akan sarapan bareng dengan aki-nini Holland itu lagi. Tapi sesuatu yang lain. Ternyata benar saja. Saya tahu ketika cek sms. Pesawat Airasia untuk kepulangan di hari Senin besok ditunda.

Sejatinya saya akan terbang dengan pesawat pertama Airasia tujuan Jakarta. Take off pagi-pagi budeg.  Jadi bisa langsung ngantor pagi. Ternyata pesawat saya ditunda hingga kamis. Bingung harus senang atau susah.

Kalau senang, ini di Bali. Liburan tambah panjang. Kalau susahnya, paling digantung si Boss. Saya coba hubungi Airasia di Bandara, Ini kali pertama saya menumpang Airasia tapi chaos. Kok bisa ya?

Kegiatan utama di Bali. Leyeh-leyeh dan air kelapa. Rela perpanjang liburan gara-gara pesawat gagal terbang.

Setelah diusut, paling tidak saya harus pindah jam, bukan pindah hari. Sialnya dihari itu semua penerbangan Airasia sudah fully booked. Setelah negosiasi ini itu, petugas meng-endorse penerbangan Airasia saya, yang penting terbang dihari Senin..

Memang kreseceker macam saya tidak jauh-jauh dari yang namanya gratisan. Petugas Airasia membantu saya mencarikan pesawat lain yang terbang di hari Senin. For Free.  Apa yang bikin saya tambah mesam-mesem waktu keluar Bandara, saya mendapatkan tiket Garuda Indonesia dikelas Y, artinya kelas ekonomi termahal. Full fare but free. Ah, indahnya liburan. Terima kasih Airasia, maskapai merah ini memang juara dah.

###


#4 Day Four
Masih ada setengah hari di Bali. Tapi bingung mau kemana. Setelah check-out hotel, saya sempatkan beli sedikit oleh-oleh. Sudah saking gak ada kerjaannya. Bali, pasti saya akan sering kembali. Free flight Garuda hadiah dari Airasia, taking off now.





@arkilos