Rabu, 29 Januari 2014

Indiahe, Tumbar Miri Jahe

INI perjalanan saya pada pertengahan 2012 lampau. Entah sudah berapa kali naik pesawat. Bukannya sombong, tapi memang ingin pamer. Apa lagi yang dipamerin kalau bukan tiket pesawat murah atau bahkan gratisan. Selama delapan hari, saya akan menyusuri daratan India bagian tengah, mulai dari Pantai Barat Mumbai hingga ke Pantai Timur Chennai. Katanya sih, India pusat budaya dunia dan saya mau lihat langsung. Walaupun saya tidak dibayar oleh maskapai manapun, tapi rela mencantumkan Airasia pada catatan perjalanan saya. Maskapai ini sudah mempengaruhi hidup saya dengan tiket-tiket gratisan atau tiket murahnya yang saya gunakan untuk keliling dunia. Jalan-jalan ini telah menjadi candu.


Hari Pertama
Perjalanan kali ini dimulai sejak jam pulang kantor. Packingan sederhana sudah siap dan isinya hanya sedikit. Beberapa baju ganti alakadarnya dan sleeping bag, tidak boleh tertinggal.

Pesawat murah menuju Kuala Lumpur dan hanya seharga sepuluh ribu rupiah. Bayangkan itu kawan, sepuluh ribu. Ceban bisa menembus Indonesia-Malaysia. The one and only backpack warna merah yang menemani saya kemana-mana, sudah rapi jali. Khusus benda-benda paling penting yaitu hape, dompet, kamera, dan paspor sengaja dipisahkan di tas lebih kecil supaya lebih mudah untuk diambil. Ini nyawa saya.

The best place for a sleep :)
Pesawat yang saya tumpangi adalah Airasia tujuan Kuala Lumpur berangkat jam 20.00 WIB. Dua jam perjalanan saja, namun adanya beda waktu satu jam antara Jakarta dan Kuala Lumpur, maka tiba di bandara Kuala Lumpur jam 23.00 waktu sana.

Sudah malam dan malas keluar bandara, jadi lebih baik ngampar di ruang tunggu keberangkatan sampai subuh. Sleeping bag adalah barang penting. Segera gelar lapak di sudut bandara, mencari posisi wuenak. Sleeping bag juga membantu mengurangi dinginnya AC bandara. Malam pertama ini dilalui dengan tidur di Bandara. Sudah sering sih, demi alasan penghematan. Ups, maksut saya keamanan.

###

Hari Kedua
Subuh, ketika saya bangun. Ternyata di bandara sudah ramai aktivitas penerbangan. Saya lipat sleeping bag warna biru donker dan memasukan ke sarungnya. Masih terlalu pagi untuk menuju kota, jadi sengaja melakukan adegan sangat lambat mulai dari kucek-kucek mata sampai jalan ke tempat bus kota ngetem.

Hanya bayar 8 ringgit untuk sepotong tiket menuju pusat kota. Loncat ke bus dan lanjut tidur lagi. Kurang dari dua jam kemudian, saya dibangunkan kondektur karena sudah sampai di pusat kota. Tetap saja masih pagi. Saya tidak punya uang ringgit, maka harus mencari pengurup wang berlesen. Pengurup wang berlesen dalam bahasa Malaysia artinya kurang lebih money changer. Setelah dapat sejumlah ringgit, mulai bergerilya menelusuri kawasan di daerah stasiun masjid jamek.


Rekomendit abis!

Lapaaar. Supaya dramatis. Sejak semalam belum makan. Tidak jauh dari kawasan masjid jamek, saya temukan sebuah restoran Dapur Kampung. Beli nasi lemak disitu dan harganya hanya 1,5 ringgit. Murah dan enak. Nasi lemak sebagai menu sarapan dengan segelas teh tarik panas. Selamat pagi Malaysia.

###

Sarapan sambil baca-baca peta gratisan, akhirnya jadi bingung sendiri mau kemana dan lihat apa. Saya putuskan jalan kaki menuju daerah Bukit Bintang. Setelah itu lanjut absen wajib, melihat Petronas Tower.

Petronas sudah pernah saya daki hingga ke tengah jembatannya. Sayangnya saat ini, sudah tidak diizinkan lagi untuk menikmati pemandangan dari jembatan Petronas.

Setengah hari lebih luntang-lantung tanpa arah. Hanya berputar-putar disekitar pusat bisnis Kuala Lumpur. Jalan terus, terus jalan. Saya sampai di warnet di daerah Chinatown. Demi membuang waktu, mampir online disitu sebelum pergi ke Bandara untuk penerbangan ke Mumbai.

Kawan, saya ceritakan tentang tiket murah saya. Awalnya tiket pesawat yang saya beli adalah Airasia tujuan Mumbai. Ternyata maskapai itu menutup rute Kuala Lumpur ke Mumbai. Calon penumpang yang telah memiliki tiket diberikan tiga opsi. Pertama tetap diberangkatkan ke Mumbai dengan maskapai lain yaitu Malaysia Airline. Kedua boleh memilih rute penerbangan lainnya secara bebas, asalkan dengan menggunakan Airasia X. Mereka menyediakan rute ke Australia, Korea, Jepang, New Zealand, Taipei dan sebagainya. Sungguh saya ngiler bukan buatan ditawari opsi kedua ini. Nah, opsi terakir adalah kembali uang penuh.

Premium flight seharga 0.1 MYR atau setara 300 IDR KL-Mumbai

Setelah mempertimbangkan maka saya pilih opsi pertama, tetap terbang ke Mumbai dengan Malaysia Airlines. Alasannya simple. Negara-negara seperti Australia, Jepang, New Zealand akan membutuhkan biaya perjalanan yang lebih banyak padahal budget saya sedang agak cekak, lagipula pengurusan Visa India jauh lebih mudah. Nanti saya bisa segera mendapatkan Visa on Arrival begitu sampai di India. Praktis. Ekonomis. Sedikit berkumis.

Kenapa tidak mengambil opsi uang dikembalikan full, karena saya membeli tiket Kuala Lumpur pada saat promo yaitu hanya 300 rupiah! Buat apa dikembalikan uang 300 perak. Lebih baik tetap ke Mumbai dengan Malaysia Airlines. Terbang dengan maskapai premium sekelas Malaysia Airlines hanya dengan 300 perak, merupakan prestasi traveling murah paling ajibbb versi saya. Merdeka!

###

Terbiasa mendarat di bandara bertarif rendah, kali ini saya akan take off dari Kuala Lumpur International Airport. Norak sekali ya, biarkan saja kampungan, pasalnya sudah lama sekali saya tidak melawat ke Bandara ini. Tahun 2004 lalu pernah sekali melipir di KLIA ketika saya mendapatkan beasiswa menuju Amsterdam. Baru delapan tahun kemudian saya main-main lagi ke KLIA. Ah, nostalgila.

KLIA, we meet again after 8 years

 Supaya sekalian keren dan tidak disangka udik untuk menuju KLIA, pesanlah tiket kereta cepat yang menuju bandara. Agak mahal sekitar 27 ringgit, tapi sesekali boleh lah.

Gate C24, disana saya harus menunggu boarding. Sebelum pesawat lepas landas, sudah banyak sekali saya berjumpa orang India. Bahkan ada seorang bapak-bapak India paruh baya, sesama penumpang, yang meminta saya menerjemahkan kedalam Bahasa Indonesia hasil sms-an dengan seorang wanita Indonesia. Rupanya bapak India tadi kadung kasmaran dengan wanita Indonesia. Saya merasa sudah sampai di India.

###

Mendarat di Mumbai tepat waktu dan saya pikir akan sangat mudah mendapatkan VoA. ternyata petugas imigrasinya sudah tidak ada. Saya harus mencari dulu petugasnya untuk mendapatkan VoA. Unik juga. Begitu ketemu petugas imigrasi, mulailah birokrasi ala India yang super lama. Setali tiga uang dengan negara saya. Nasib.

Celingak-celinguk akhirnya saya tanya petugas bagaimana cara mendapatkan VoA. Lantas saya disuruh menunggu, ditanya ini itu dengan terburu-buru macam si petugas sedang sakit perut. Diminta paspor, tiket pulang, foto dan isi formulir. Ketika sedang asik mengisi formulir, si bapak petugas imigrasi berbicara terus nanya ini itu. Sampai akhirnya saya kelabakan menjawab pertanyaannya tentang dimana saya akan tinggal.

Birokrasi jalan terus!

Petugas –agak memaksa- menanyakan hotel dimana saya akan tinggal dan menyaratkan harus memperlihatkan bukingan tiket hotel. Padahal saya belum buking hotel sama sekali, drama pun dimulai. Saya mengaku ke petugas bahwa sudah buking tapi belum pasti jadi menginap di hotel itu atau tidak, karena saya tidak tahu akan jalan-jalan di kota mana saja selama di India. Tapi sang petugas ngotot dan mengharuskan saya menyerahkan bukti pemesanan hotel.

Untungnya ada teman saya di Mumbai, sesama anggota Couchsurfing. Saya sms teman saya dan minta alamat dia. Dengan penjelasan  bahwa saya akan tinggal di rumah seorang teman di Mumbai, barulah si petugas sedikit ramah untuk memproses VoA. Teman saya seorang India berprofesi sebagai dokter.

 Kelamaan, saya pun digiring ke kantor imigrasi demi menunggu petugas menyelesaikan proses administrasi dan mengisi formulir yang jumlahnya banyak. Seluruh prosesi itu menghabiskan waktu sekitar 90 menit. Lama sekali. Setelahnya saya harus membayar 60 USD untuk visa India. Proses selesai, saya mencari sticker Visa India yang ditempelkan dalam buku paspor. Ternyata tidak ada sticker halal itu! Hanya sebuah cap persegi yang menjelaskan kapan saya harus hengkang dari India. Sudah mahal, sudah lama, sudah bertele-tele ternyata hanya dicap saja. Ampun dah.

 Semudah itu sesederhana itu, tapi lamanya minta ampun. Saran saya bagi kawan-kawan yang ingin masuk ke India menggunakan Visa on Arrival harus sudah menyiapkan tiket PP, pasfoto 4x6 -berwarna atau tidak sama saja- sebanyak selembar, bukingan hotel. Khusus bukingan hotel bisa bikin aspal alias asli palsu di website tanpa harus membayar. Yang penting dicetak dan diserahkan ke petugas Imigrasi India. Supaya mingkem mereka semua.

Proses birokrasi pun rampung, saya hirup udara India diluar dan takjub melihat amat sangat banyaknya manusia yang menjemput di luar bandara. Semuanya terlihat sama. Semuanya terlihat menjemput saya. Membawa kertas berisi nama dan berteriak-teriak. Dimana teman India saya yang menjemput??

###

Hari Ketiga
Dr. Sidarth Kumar, itulah nama teman saya. Seorang dokter umum yang rela menjemput saya lepas tengah malam. Belum pernah sekalipun bertemu dengannya, hanya beberapa kali berkorespondensi menggunakan email. Saya terka-terka wajahnya diantara ribuan orang India yang berhiruk-pikuk tengah malam di luar bandara. Ternyata Dr. Sidarth lebih dulu yang mengenali saya. Mungkin karena saya lebih mudah terlihat karena ketampanan (kegantengan-red) saya ditengah semaraknya orang India. Dr. Sidarth datang ditemani istrinya yang cantik. Wanita India menggunakan sari, cantik sekali. Mereka membawakan secangkir kecil teh, rasanya sangat lezat. Campuran teh susu dan jahe. sebuah keramah-tamahan India yang langsung saya rasakan.


Dr Sidhart Kumar berdiri di pojokan membawa cangkir teh, Selamat Datang di Bombay

Beberapa jam sebelumnya Dr. Sidarth dan istri sudah menunggu lumayan lama diluar bandara. Setelah proses remeh temeh perimigrasian itu, saya berjalan beriringan dengan Dr. Sidarth dan istrinya menuju mobil. Kesan pertama saya dengan Mumbai tidak berbeda dengan Jakarta. Semrawut. Moda transportasi pun sama saja dengan di Jakarta, tidak teratur. Saya diantar Dr. Sidarth ke kliniknya yang akan menjadi tempat istirahat selama saya berada di Mumbai. Saya sangat berterima kasih atas bantuan Dr. Sidarth. Setelah yakin nyaman berada di kliniknya, Dr. Sidarth dan istri meninggalkan saya untuk beristirahat di rumah mereka. Melihat kasur langsung knock down karena lelah.




###

Pagi harinya, saya bertekad tidak mau membuang waktu, harus banyak melihat India. Tapi baru sadar karena tidak memiliki uang rupee sepeser pun. Terpaksa harus jalan kaki mencari money changer. Sekitar 4 kilometer berjalan kaki menuju arah stasiun Andheri di Mumbai untuk menukarkan rupee. Hasilnya nihil. Lapar haus tapi tidak bisa membeli makanan atau minuman. Berkali-kali saya keluar masuk hotel, berharap mereka terima tukaran uang asing, tapi nyatanya sia-sia.

Perjalanan kaki dimulai

Mulai gempor jalan kaki dan bĂȘte punya uang tapi tak berguna. Di pengkolan dekat McD, -sambil menelan ludah karena ngiler dan lapar melihat poster makanan di jendela McD-, saya melihat satu hotel lagi di kejauhan. Saya terabas ramainya orang India yang ramai sekali, mirip pengunjung PRJ. Saya naik ke lantai dua tempat resepsionis dan berharap mereka terima tukaran uang. Ternyata mereka tidak menerima juga. Apes benar. Tapi tunggu, si resepsionis tadi menyarankan agar pergi ke toko baju Paneri di dekat situ, katanya di situ terima tukar uang.


Beda dengan di Indonesia, Bajaj di India pake argo

Sampai di toko baju Paneri ternyata mereka tidak terima penukaran uang, tapi jika saya membeli suatu barang di toko itu dengan uang asing, -berapa pun-, bisa mendapatkan kembalian dalam mata uang rupee. Aneh, tapi demi kelangsungan hidup akirnya saya beli saputangan karena cuma itu barang paling murah yang ada. Dengan uang 100 USD, saya mendapatkan kembalian segepok rupee. Berasa kaya raya. Tajir gemah ripah loh jinawi. Mari makan!!

###

Higienis, berbicara tentang kebersihan sebenarnya saya termasuk orang yang tidak bersih-bersih amat, tapi tidak mau jorok juga. Kalau di India ini kadar kebersihan saya entah kenapa naik berlipat-lipat ganda. Biasanya paling malas ngolesin tangan pake cairan pembersih sebelum dan sesudah makan, apalagi cucitangan. Tapi kalau di India ini ibarat insyaf, dikit-dikit ngolesin tangan pake cairan anti kuman, bahkan kalau lihat keran ledeng nganggur, bawaannya mau cuci tangan terus. Terlebih kalau mau makan,  kalau bisa, sekalian kumur pake cairan anti kuman biar bakteri pada mati. Sumpah India lebih jorok dari yang saya kira. Tapi tetap saya suka India.

Gorengan India

Makanan apa yang saya coba pertama kali adalah gorengan. Entah apa namanya. Terbuat dari tepung dan kentang. Cara penyajiannya, si abang gorengan ngebelah roti bulet macam roti burger kecil, terus didalamnya diolesin saus kare. Gorengan tadi diselipin diantaranya dan disodorkan, siap disantap. Harganya sepuluh rupee. Lantas bagaimana rasa makanan pertama tadi, tidak saya banget. Akhirnya makanan tadi berakhir di tong sampah dan dengan terpaksa beranjak masuk ke McD. 

Setelah brunch, breakfast lunch suasana yang tadinya cerah tiba-tiba berubah hujan. Kedatangan saya ke India bersamaan dengan datangnya Moonsoon yaitu musim penghujan. Hujannya pun aneh, dari suasana panas-panas ceria tiba-tiba turun hujan deras tak terkira. Selanjutnya matahari seolah tertawa terbahak-bahak setelah mengusir gumpalan awan gelap, terang benderang panas terik. Setelahnya bisa jadi hujan lagi. Tidak terprediksi, tidak kompromi, seenaknya saja. Saya yang repot buka tutup payung. Mana jalanan di India becek, tidak ada ojek.

###

Antrian karcis kereta

Stop point pertama adalah Churchgate di selatan Mumbai. Sedangkan tempat tinggal saya selama di Mumbai adalah di Juhu, kawasan di sebelah barat Mumbai. Menuju Churchgate lumayan gampang. Cukup naik kereta dari stasiun Anderi di Juhu menuju stasiun Churchgate. Mirip Bogor-Jakarta Kota lah. Keretanya sekelas kereta ekonomi Jabotabek, hanya saja lebih lebar dan lebih panjang. Harganya pun murah-meriah-merakyat, hanya 8 rupee. Kalikan 200 perak, kalau mau tahu harganya dalam rupiah.

Commuter Line nya India

Kereta tiba, alamak sama saja seperti naik kereta ekonomi Jabotabek. Penuh, berdiri, umpel-umpelan, panas, gerah. Tapi bedanya dengan di Indonesia, penumpangnya tidak sampai naik ke  atap gerbong. Sekitar 45 menit perjalanan sampai lah di Churchgate.

One of Mumbai's old building

Banyak yang bisa dilihat di kawasan dekat stasiun Churchgate. Beberapa gedung ciamik dari jaman Inggris bertengger dengan artistik disepanjang jalan. Di area ini India terlihat lebih bersih dari daerah lainnya.


Sudut kota Mumbai a.k.a. Bombay

 Tujuan utama saya di daerah ini adalah Gate of India, sebuah bangunan mirip Arc de Triomph di Perancis tapi letaknya mepet pinggir laut. Cantik sekali. 


Gate of India

Halaman depan Gate of India adalah lapangan luas dan sisi belakangnya langsung laut lepas. Lepas. Macam tali kolor yang longgar.


Rame bener

 

Masih disekitar Gate of India, terdapat hotel yang artistik dan bersejarah, yaitu Taj Mahal Hotel. Pengunjung di area ini seolah-olah tidak akan pernah habisnya. Banyak sekali. Berjubel. Meriah. Ramai.

Taj Mahal Hotel

Makan siang di Mumbai cukup asyik. Saya pilih salah satu restoran India dan mencoba Thali. Satu set makanan India yang terdiri dari nasi, kuah kare, sayuran yang juga dimasak kare, popodom sebagai pengganti kerupuk, dan yoghurt. Semuanya dikemas dalam mangkok-mangkok kecil alumunium, ditata rapi melingkar. Tampilannya menggugah selera. Saya coba, sayangnya bukan selera saya, lidah ini tidak berjodoh dengan kare. Apalagi nasi dicampur yoghurt.


Tampilan set menu Thali

###

Perut kenyang, lanjut lagi jalan menuju Chhatrapati Shivaji Terminus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Victoria Terminus. Sebuah stasiun kereta api yang konon merupakan stasiun tersibuk di dunia. Jumlah peronnya banyak sekali. Berapa peron jumlah persisnya, saya tidak tahu. Tapi stasiun itu besar sekali. Orang datang, pergi, menunggu kereta, simpang siur, selonjoran dimana-mana. Ramai riuh rendah!


VT is claimed as one world's busiest train station

Saya berdiri di tengah-tengah stasiun, jadi sempat berpikir dan merenung, bagaimana kalau semua orang ini mati dan nanti ketemu lagi di Padang Masyhar. Pasti akan lebih ramai lagi. Bukan menunggu kereta, tapi menunggu diadili.

Kereta eksekutif menuju Goa

Agenda bengong di stasiun tidak boleh lama-lama, lebih baik cari tempat duduk yang lebih sepi, menunggu kereta yang akan membawa ke Goa, -sebuah kota yang juga merupakan provinsi di India-. Jika Mumbai termasuk dalam provinsi Maharashtra, maka Goa dengan eksklusif termasuk dalam wilayah provinsi Goa. Perjalan kereta nanti akan ditempuh sekitar 12 jam. Lumayan bisa bermalam di kereta, ngirit biaya hotel.


VT Hall Stasiun, bukan St. Hall.. itu sih di Bandung

Tepat jam 11 malam, kereta saya -setelah bongkar muatan- bergerak menuju Goa. Sedikit cerita tentang sistem perkereta-apian di India. Secara sistem jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Indonesia walau kualitasnya sebelas-duabelas. Di India seluruh rencana perjalanan dengan kereta bisa disusun menggunakan internet, karena penjualan tiketnya sudah secara online. Hebatnya tidak ngaret seperti Indonesia. Tidak ontime seratus persen tapi cukup memuaskan. Secara garis besar, asoy lah.

Kompartemen kereta, nyaman adem

 Pembagian kelas kereta di India. Pertama, kelas 2AC bisa dibilang paling eksekutif, penumpang bisa tiduran selonjor. Dalam satu kompartemen terdapat tempat tidur tingkat dua yang berhadap-hadapan. Sangat nyaman sekali dengan pendingin udara. Kedua, kelas 3AC, sama saja seperti 2AC namun tempat tidurrnya tiga tingkat. Dimana tempat tidur tingkat keduanya bisa dibuka tutup, tergantung kalau penumpang di kompartemen itu mau ngobrol atau tidur. Masih nyaman. Ketiga, Sleeper class, sama persis dengan 3AC, namun tanpa pendingin udara dan penumpangnya brutal bisa duduk dimana saja. Padahal mereka tidak punya karcis sesuai tempat duduk. Saya menyebutnya kelas seru-seru bau.

Lulus boleh naik kereta, ada nama saya loh :)

Dikereta berkategori AC ini, sebelum naik akan terpampang nama penumpang di dekat pintu masuk sesuai gerbong. Jadi beberapa orang -termasuk saya- berkerumun dulu demi melihat nama di pintu, macam lihat pengumuman ujian. Yang tertera namanya boleh naik. Bagusnya sistem perkereta-apian India bagi turis asing adalah menyediakan prioritas seat jika kondisi full. Turis asing diprioritaskan dalam waiting list. Asal menunjukkan paspor. Keren juga. Malam itu, saya yang berprofesi sebagai turis asing, tertidur lelap menuju Goa.

###

Hari Keempat
Pules benar tidur di kereta 2AC ini, di nina-bobokan dengan goyangan kereta. Pendingin udara bikin tambah nyaman, selimutan meringkuk. Terbangun di kereta, ternyata belum sampai juga di Goa. Memang masih jam delapan pagi. Teman satu kompartemen saya adalah dua orang backpacker dari Inggris dan seorang dari negeri Jogjakarta. Kedua orang backpacker Inggris itu sudah dua bulan keliling India.

        Mereka bernama Mark dan Charlie. Cerita mereka seperti biasa, menjual seluruh barang-barang di Inggris, dapat uang banyak, berhenti kerja dengan tabungan lumayan, beli sebuah backpack sebagai satu-satunya harta yang mereka miliki, dan mulailah keliling dunia. Enak benar. Kalo saya menerapkan sistem itu, menjual barang-barang yang ada di Indonesia (yang ada buntung bukannya untung), berhenti kerja (yang ada susah cari kerjaan lagi), tabungan menipis (sudah pasti), gendong tas niat keliling dunia (yang ada saya jadi gembel beneran).

Mupeng saya ama hidup tuh bule. Bukannya tidak bersyukur, tapi sesekali melihat rumput tetangga lebih hijau boleh lah, kali aja bisa jadi penambah semangat buat nyiramin rumput sendiri biar makin subur. Saya cukup puas hanya sebagai kresecker.
           
Beda lagi dengan si bule, rekan sekompartemen saya -yang berasal dari negara sama Indonesia-, bernama Andri. Nyaris senasib sepenanggungan. Andri niat bener keliling India. Sengaja melanglang dari Jogjakarta dengan single ticket. Entah kapan dia akan pulang ke Tanah Air. Keberuntungan yang bisa menyelinapkannya masuk India dengan ketelebece birokrasi.

###

Masih 3 jam lagi sampai di Goa, masih bisa sarapan sambil minum teh India yang disebut chai. Di kereta, segelas chai dihargai 10 rupee saja. Nikmat dan panas. Rasa chai mirip teh tarik, namun susunya lebih berasa dan disajikan panas dalam gelas gelas kecil kurang dari 100ml. Saya taksir chai tidak menggunakan susu sapi. Chai harus segera diminum panas-panas. Karena setelah 3-5 sruputan suhunya akan turun dan akan sedikit berkurang eksotisme rasanya, jadi biarpun lidah terbakar tapi benar-benar nikmat.

Chai panas di kereta, Lezat tiada tara


Tepat jam 12 siang, kereta saya langsir di Stasiun Goa-Madgaon. Kuno sekali stasiunnya. Madgaon terletak di tengah-tengah kota Goa. Ada dua stasiun lainnya yang terletak di utara dan selatan Goa. Keluar dari kereta kami bingung kluntang-klantung mau kemana. Nikmatin dulu suasana stasiun yang kuno, tidak setiap hari saya kesitu jadi enjoy the moment -padahal bingung-.

Keluar belok ke kanan

Setelah membaca buku panduan yang tebelnya bisa buat nyambit anjing di India, akhirnya tujuan selanjutnya adalah Pantai Colva dan Benaulim. Tertulis di buku panduan “Sendirian di Planet” bisa naik bus menuju pantai Colva dengan transit di terminal bus yang disebut Kadamba. Saya kira terminal Kadamba hanya ada di Goa, ternyata dimana-mana banyak terminal Kadamba. Entah apa artinya.

Charlie, Mark, Andri, Me

Tim kami berpisah menjadi dua regu. Tim Inggris sebagai regu Dang ingin menuju Goa Selatan. Sedangkan Tim Indonesia sebagai regu Dut menuju Colva. Setelah jabat erat, kami berpisah. #kuis DangDut

Sebelum Keluar stasiun Madgaon, sengaja kami memesan tiket kereta menuju Hospet untuk keesokannya. Supaya tidak terburu-buru. Lama perjalanan Goa-Hospet sekitar 7 jam saja, jadi kami sengaja mau mencoba sleeper class. Sungguh menantang.

###

Pemandangan Goa didaerah Madgaon ini mirip sekali seperti daerah-daerah di pulau Jawa. Mirip suasana jalan dari Cepu ke Ngawi. Jalannya, rumahnya, keramaiannya. Saya tumpangi bus ke Kadamba, dari sana nanti ganti bus tujuan pantai Colva. Tidak pernah terlintas dipikiran saya akan menginap di pantai Colva ini, sebuah pelosok desa yang -waktu itu- tidak ada turis asingnya. Semuanya turis domestik. Kami terdampar di pinggiran pantai pesisir barat India, pantainya mirip pantai Pangandaran. Kami satu-satunya turis asing itu, dan kami berasal dari Indonesia. Bangga sekali. Bangga rasanya.

Colva beach

Keluar bus di halte Colva, puluhan anjing menyambut didepan bus. Saya heran kenapa banyak benar anjing di India. Dimana-mana ada anjing dan kelihatannya banyak yang rabies. Phobia anjing, ya. Saya phobia anjing. Sejak saya mendaratkan kaki di Mumbai, saya sudah macam pengemis kemana-mana bawa tongkat. Fungsinya buat menghalau anjing. Merasa Lebih percaya diri saja jika membawa tongkat kemana-mana.

Sejak mendarat di Mumbai, kemanapun harus bawa tongkat buat usir anjing.

Padahal anjing-anjing disitu juga tidak mengganggu, tapi entah kenapa bikin tidak nyaman. Setelah dapat hotel alias losmen murah dipinggir pantai, selanjutnya kami diikutin anjing ketika foto-foto dipinggir pantai. Kodratnya anjing yang bisa mencium ketakutan benar-benar dimanfaatkan sama tuh hewan. Untung Andri tidak phobia juga. Kemana saya pergi, ada seekor anjing mengikuti dan lama-lama tambah kurang ajar. Seolah-olah ingin lebih dekatan lagi ke badan. Konon kalau berhadapan dengan anjing, jika ada rasa takut harus dilawan seolah tidak takut. Jadi si anjing juga bingung, sebenarnya kita takut sama dia atau hanya kamuflase. Anjing pun bingung, tapi saya capek belagak sok berani. Sok saya dekatin mereka sambil sedikit menggertak tapi si anjing berasa kalau gertakan sekedar gertak sambal. Maju mundur sama si anjing sampai akhirnya saya berhasil masuk ke rumah makan. Saya perhatiin dari dalem, tuh anjing nungguin. Sialan!


###

Sambil menunggu anjing gila itu pergi, saya memesan makanan. Lumayan enak. Saya pesan roti, butter naan, dan kare ikan. Wah rasanya gurih. Makanan India pertama yang saya suka. Roti disini bukan roti di seperti di Indonesia, roti bentuknya mirip panekuk, rasanya gurih sedangkan butter naan mirip juga sejenisnya namun dioven agak sedikit gosong. Cara penyajian naan yaitu dipotong-potong dioles margarin. Cara maknanya, ya dicelup-celup ke kare ikan itu. Rasanya lezat hangat.

Butter Naan dan Kare Ikan


Moonsoon masih berlaku di Goa. Dari suasana cerah tiba-tiba hujan, cerah lagi, hujan lagi. Buka payung, tutup payung, buka, tutup, buka, tutup, terakir payung lupa ketinggalan dimana. Damn!

Jika difoto, pantai Colva tidak ubahnya seperti pantai Pangandaran, suasananya, keramaiannya. Kami bermalam di pinggir pantai Colva, ada sebuah losmen bernama Cormar Beach Hotel dengan tarif 700 rupee per malam. Bosan berada di pantai Colva, maka kami melipir ke pantai sebelah. Ganti suasana.

Losmen Colva
Pantai Benaulim berlokasi persis disebelah pantai Colva. Naik bus sekitar 10 menit bayar 10 rupee, ditambah jalan kaki sekitar satu kilometer sampailah di pantai Benaulim. Pemandangan disini lebih bagus daripada di pantai Colva. Tepian pantainya landai dan sepi pengunjung. Hanya beberapa ekor anjing bermalas-malasan, yang bikin saya malas. Tapi hasrat bermain di pantai lebih besar daripada mikirin anjing. Jadi mari basah-basahan. Anjing menggonggong, kafilah berenang!

###

Pulang dari pantai Benaulim, dengan tetap menggenggam sebatang kayu, ditengah perjalanan kami bertemu seorang bapak yang membawa anaknya. Sang bapak menyapa kami duluan karena dia yakin kami seorang turis yang sedikit sedeng karena membawa tongkat. Saya juga membawa buku panduan Lonely Planet India kemana-mana, sebagai kitab suci penunjuk arah. Mempertegas status sebagai turis asing.

Benaulim beach - GOA


Sang bapak menyapa dalam bahasa Inggris menanyakan saya datang dari mana. Sedikit mengetes si bapak, saya jawab datang dari Jakarta. Biasanya banyak orang yang tidak tahu kalau jawabannya Jakarta. Dimana itu Jakarta dan akhirnya jadi malas ngobral-ngabrol. Tak disangka tak dinyana, si bapak tahu letak Jakarta bahkan koordinatnya. Dia mengenal Soekarno, bahkan sepatah-dua patah kata dalam Bahasa Indonesia dia bisa! Bukan main. Ditengah desa nun di pelosok Goa sana, dipesisir pantai antara Benaulim dan Colva, seorang bapak -maaf- dengan pakaian lusuh menenteng kresek hitam dan menggandeng anaknya membuat saya terkesima.

Bahasa Inggris si Bapak sangat halus sekali, seolah merayu untuk ngobrol sebentar. Dia mulai berceloteh dengan nama-nama pemimpin di Indonesia yang menurutnya termasyhur sampai tertarik dengan rentetan pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke. Sang bapak tahu sejarah Indonesia dan sekali lagi bikin saya mangap terkesima lantaran pengetahuannya yang hebat hingga tidak sadar beberapa anjing sudah wara-wiri laksana penari latar di obrolan sore itu.

Si bapak bernama Shiva dan anak lelakinya yang baru berusia 11 tahun bernama Srinivash. Like father like son, si anak juga sama fasihnya dengan si bapak. Terlihat cerdas, pintar, dan ingin tahu segala hal. Mereka bapak dan anak merasa bisa belajar cepat tentang semua hal. Mengagumkan.


3S, Saya, Shiva, dan Srinivash


Don't judge a book by its cover, lusuh sederhana tapi amboi, keluarga itu benar-benar hebat. Lantas saya benar-benar dibuat menganga, mangap, -maaf padanan kata saya untuk terkesima sering saya sebut mangap, karena biasanya saya membuka mulut untuk hal-hal hebat-. Takjub ketika sang bapak mulai bercerita tentang jaman Belanda di Indonesia, hebatnya lagi pak Shiva berbicara bahasa Belanda. Kita berdua sama-sama senang  karena bisa saling berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Saya ceritakan kalau dulu saya sempat dapat beasiswa ke Belgia untuk belajar Bahasa Belanda, entah kenapa pada saat saya bercerita beasiswa itu, seperti memberikan letupan semangat kepada Srinivash agar jika besar nanti bisa pergi ke negara lain dan belajar budaya serta bahasa mereka.

 Sedangkan pak Shiva mahir berbahasa Belanda karena rupanya dia adalah seorang pemandu wisata di daerah Benaulim untuk para turis asing yg berlibur. Mencengangkan dengan kapasitasnya yang belajar otodidak, pak Shiva mampu dengan fasih berbahasa Belanda, Perancis, dan sebagainya. Kemampuan bicaranya, struktur kata bagaikan lulusan perguruan tinggi. Performa oke tanpa kuliah, bagaimana seandainya pak Shiva mengenal bangku kuliah, pasti dia adalah seorang Profesor saat ini. Ngobral-ngobrol dengan pak Shiva dan Srinivash diakhiri foto bersama dipinggir jalan dan saling bertukar e-mail. Saya janji kepada mereka kalau ada kawan yang pergi ke pantai Colva di Goa harus menghubungi pak Shiva. Lumayan untuk bantu-bantu perekonomian pak Shiva sebagai pemandu wisata.

###

Hari Kelima
Bangun tidur tepat jam 6 pagi, karena memang sudah setel alarm di handphone biar tidak ketinggalan kereta. Setelah berkemas dan check-out hotel, saya menunggu taksi yang kemarin sempet janjian mau mengantar ke stasiun Madgaon. Malas rasanya naik bus karena harus naik kereta pagi, takut tidak sempat terkejar sampai stasiun.

Memang dasar lidah tak bertulang, supir taksi ingkar janji, kemarin kami sepakat membayar 200 rupee dan akan dijemput pukul 7 pagi. Tetapi supir taksi tidak nongol juga hingga jam 7. Padahal kereta akan berangkat setengah jam lagi.

Interior Taksi India

Terpaksa kami ambil taksi lain dan jadi lebih mahal, sang supir taksi oportunis pun memanfaatkan mepetnya waktu tersisa dan mematok harga 300 rupee. Prinsip si supir taksi, mau naik syukur, tidak mau telat luh. Kampret. Akhirnya kami mengalah.

Jangan bayangkan taksi di India seperti taksi yang ada di Jakarta, karena taksi di India cukup kuno dan antik. Mirip mobil Mr. Bean.

###

Sesampainya di stasiun Madgaon untungnya kereta yang akan kami tumpangi menuju Hospet telat. . Kali ini kami pilih kereta sleeper. Kereta tanpa pendingin udara, kelas ekonomi untuk menempuh 8 jam perjalanan. Jika kawan bertandang ke India, harus mencoba naik kereta sleeper

Kereta rakyat

Menunggu dengan ratusan penumpang diperon, rasanya mulai mustahil akan bisa berlega-lega didalam kereta nanti. Drama babak kesekian pun dimulai. Kereta langsir, penumpang menggelihat siap menyerbu, saya standby di area gerbong 4 sesuai tiket, kereta benar-benar berhenti. Serbu!!

Bagian atas buat tidur, bukan buat barang. Senderan badan bisa dibuka jadi second bed.

Saya tidak salah gerbong, tidak salah peron, tapi keretanya yang salah posisi. Alasan paling masuk akal. Di tengah ratusan penumpang yang berusaha berjejalan masuk ke dalam pintu kereta berukuran kira-kira 70 cm sambil membawa barang bawaan yang besar-besar, saya coba menerabas masuk kedalam gerbong. Bawaan mereka benar-benar super jumbo dan ribet. Mulai TV sampai peti besar diangkut juga kedalam kereta, rupanya mereka pindahan. Entah apa yang terjadi selanjutnya, saya harus menuju bagian kereta area belakang karena disana tempat gerbong saya yang seharusnya. Aneh.

###

Berjejalan di dalam kereta macam cendol, saya cari kompartemen yang sesuai dengan nomor kursi di tiket. Ternyata sudah ditempati orang! Saya coba usir orang itu, tapi dia tidak mengerti bahasa inggris. Entah pura-pura tidak mengerti atau memang mereka benar-benar tidak bisa berbahasa Inggris. Saya coba jelaskan bahwa kursi yang mereka tempati adalah kursi punya saya sesuai nomor di karcis. Tapi mereka belagak tidak mengerti dan tidak mau pindah. Saya harus cari akal untuk mengusir mereka.

Indonesian di Sleeper Train

Kebetulan ada sekeluarga yang maaf terpaksa saya harus judge by its cover” -agak pinteran-. Coba berdiskusi dengan mereka dalam bahasa Inggris agar mau membantu saya mengusir orang yang duduk di kursi kami.  

Setelah penumpang gelap yang duduk di kursi kami sukses menyingkir, langsung kami kuasai kursi seolah daerah teritorial berbahaya yang tidak boleh didekati. Tapi bagaimana ketika nanti saya ke toilet?

###

Awal perjalanan dari Goa ke Hospet, pemandangan diluar kereta benar-benar ajib. Keretanya melewati pegunungan, suasananya adem dan benar-benar bagus. Beberapa kali melewati jembatan, kereta yang kami tumpangi seolah seperti rangkaian mainan anak-anak. Apalagi sensasi gelap ketika masuk terowongan. Sering kali saya membayangkan waktu masih kecil dulu, berteriak dan ada monster yang tiba-tiba bertengger di atap kereta begitu keluar terowongan. Lekukan-lekukan rel kereta api yang meliuk-liuk berusaha menanjak gunung. Rangkaian kereta di India satu set-nya terdiri dari duapuluhan gerbong, bayangkan itu panjangnya. Sungguh eksotis bak ular ketika meliuk-liuk ditengah rimbunnya hutan pegunungan.

Gorjeeeeesssssss.... tut.. tut.. tut.. tuuutt... gorjess.. gorjesss....

Paling spektakuler ketika kereta melewati tepian air terjun. Saya cuma bisa mengucap syukur bisa lihat itu semua. Mangap takjub aja tidak cukup, jepret sekenanya buat nanti di pamerin.

Dataran tanah

Setelah melewati gunung, kereta mulai melintasi padang datar. Mungkin pada saat itu kami sudah sampai di Hubli atau Gadag. Satu-dua kota sebelum Hospet dimana nanti kami harus turun kereta.


Dataran tandus

 Pemandangan sejauh mata memandang benar-benar datar. Flat. Kereta seolah berjalan melambat karena pemandangan diluar sama saja. Mulai terasa bosan karena harus menempuh sekitar tiga jam perjalanan lagi.


Tanah datar lagi

###

Finally kami tiba di Hospet. Sebuah kota yang akan menghubungkan dengan kota Hampi yang menjadi tujuan. Stasiun Hospet, bahkan sebelum kereta berhenti total, sudah banyak tukang bajaj yang menerabas masuk kedalam gerbong menawarkan jasa tumpangan. Mereka tahu bahwa pelancong macam saya ini akan mengunjungi Hampi. Mereka mematok harga 150 rupee untuk menuju Hampi. Benar saja, kami sudah diincar oleh tukang bajaj agar mau naik bajaj-nya ke Hampi.

Padahal tanpa naik bajaj pun kami bisa juga menuju Hospet, caranya yaitu dengan jalan kaki sejauh satu kilometer saja menuju terminal bus Hospet yang letaknya berpelurus dengan stasiun Hospet. Mudah bukan. Dari terminal bus itu dilanjutkan naik bus menuju Hampi kurang dari 30 menit. Tapi hari itu, si tukang bajaj beruntung. Kami sedang malas jalan kaki.

Aslam dan Bajaj-nya

Tawar menawar dan setuju pakai jasa bajaj menuju Hampi, dengan syarat si tukang bajaj bersedia menunggu. Kami mau buking tiket kereta ke Bangalore untuk tujuan selanjutnya, dan nanti ketika sesampainya di Hampi tukang bajaj -yang bernama Aslam- harus mencarikan penginapan yang murah. Aslam setuju.

Ternyata tiket menuju Bangalore pada hari yang kami mau telah terjual habis. Hanya tersedia kelas Sleeper. Berhubung kami baru turun dari kereta Sleeper, masa sih harus naik Sleeper lagi menuju Bangalore. Sang petugas loket menyarankan agar mengisi formulir waiting list untuk para turis asing, jadi begitu ada penumpang yang batal bisa diganti.

Opsi itu menurut saya belumlah hal yang pasti, sedangkan saya harus stick to the plan pada jadwal yang sudah saya rancang. Tak ada kereta, mungkin saya bisa cari bus. Maka nanti sajalah urusan remeh-temeh perkarcisan itu, saya mau liburan dulu di Hampi. Di tengah perjalanan, si tukang bajaj mulai berceloteh tentang kampung halamannya di Hampi.


Wanita desa Hampi

###

Aslam bercerita bahwa Hampi adalah sebuah kota reruntuhan tua yang sangat cantik dan dia siap mengantarkan kemana saja jika kami bersedia, tentunya bertarif. Sampai di depan gerbang kota Hampi, pemandangan spektakuler lainnya mulai muncul. Dunia berasa mundur berpuluh-puluh abad lalu. Andaikata baju saya bisa otomatis ganti tema, pasti sudah bernuansa dunia Flintstones.


Virupaksha temple dari kejauhan


 Hampi benar-benar cantik, kesan pertama kota ini yaitu reruntuhan batu-batu besar dikelilingi padang gurun nan gersang. Udaranya memang panas tapi dikalahkan oleh artistik reruntuhan kota yang damai.



Reruntuhan kuil Hampi

Sesampainya di Hampi Bazaar atau sebuah desa di Hampi, saya loncat keluar bajaj dan mengecek penginapan yang disarankan si tukang bajaj bernama Aslam. Penginapanannya lumayan bersih dan murah. Hanya 600 rupee semalam sudah dapat fasilitas TV dan AC. Pas sekali untuk istirahat di tengah reruntuhan padang tandus berbatu. Selanjutnya Aslam menyarankan kami untuk membeli tiket Bus menuju Bangalore dari travel agent dekat penginapan. Saya pilih bus yang berangkat keesokan malamnya, sleeper bus, lumayan bisa menghemat waktu dan budget. Tidur di bus esok malam, dan paginya sampai di Bangalore.

Losmen sederhana di Hampi

Ada waktu sekitar dua hari di Hampi, saya mulai dengan menjelajahi beberapa kuilnya. Karena lapar, maka coba mempelajari Hampi sambil makan di restoran unik yang letaknya di atap rumah. Saya pesan jus mangga dan butter naan. Sedang asik-asiknya makan sambil membaca buku tentang Hampi tiba-tiba sesosok makhluk berbulu setinggi satu meteran menjulurkan tangannya mengambil makanan didepan saya. Kaget juga karena cepat sekali, hingga piring besi yang menjadi alas makanan jatuh bergerontangan ke bawah meja. Ternyata seekor monyet berwarna abu-abu baru saja mencuri makanan saya.

Rooftop cafe

Pemilik restoran terlihat kesal dan melempar makhluk abu-abu itu dengan mug besi yang dipegangnya, makin ramai saja restoran diatap itu. Saya cuma melongo dan melihat kearah monyet yang ngibrit. Pemilik restoran menasehati saya agar berhati-hati dengan si monyet dan dia bersedia mengganti makanan yang tadi diambil monyet. Pemilik restoran kali ini menambahkan sebuah tongkat besi panjang yang bisa saya gunakan untuk mengusir monyet kalau dia datang lagi. Ini pengalaman pertama saya makan sambil bawa senjata untuk menghalau monyet.

Nun diujung sudut sana, seekor monyet lainnya sudah punya niat busuk untuk mengambil lagi makanan yang terhidang di meja. Jangan sampai saya lalai. Sambil membaca lagi tentang Hampi, -sementara tongkat sigap menghalau disatu tangan lainnya kalau ada monyet yang datang-, tiba-tiba bagai sambaran cepat, saya sudah berada pada adegan tarik-menarik makanan dengan si monyet,  memperebutkan sepiring butter naan.

Rebutan makanan sama monyet

Si monyet dapat separuh dan saya separuh lainnya. Pemilik restoran geram bukan kepalang, dia memaki monyet sambil melempar benda-benda sekenanya. Monyet terkekeh-kekeh dan kabur. Saya bilang ke pemilik warung, makanan tadi tidak perlu diganti lagi, karena saya sudah kenyang dan mau duduk membaca saja.

Tidak lama kemudian datang sepasang turis yang duduk di meja sebelah kami dan berniat pesan makanan, mereka tersenyum kearah saya dan saya balas dengan memberikan tongkat besi kepada mereka. Saya menikmati ekspresi kebingungan kedua turis asing itu. Saya jelaskan kepada mereka kalau mau makan disini harus hati-hati karena banyak monyet, dan tongkat itu yang bisa menyelamatkan makanan dari incaran monyet. Kedua turis asing tadi mahfum-mahfum bego.

Sesuai apa yang saya baca di buku, sangat disarankan ketika matahari sudah terbenam untuk tinggal didalam penginapan dan tidak berjalan-jalan disekitar reruntuhan Hampi. Demi keamanan. Maka malam itu kami hanya ngejogrog di dalam kamar nonton TV. Saya mimpi berkejar-kejaran khas India di taman bunga, kejar-kejaran dengan monyet. Sial!

###

Hari Keenam
Pagi hari di Hampi, diawali dengan sarapan ala India. Saya memesan makanan di restoran yang berbeda dan yang bebas monyet.

Bosan naik kereta melulu, saatnya mencoba bus India jarak jauh. Kami memesan bus tujuan Bangalore nanti malam. Busnya canggih eksekutif bisa tiduran. Tiduran disini maksutnya benar-benar posisi tidur. Kursi busnya tidak ada diganti dengan kasur! Bus executive pakai AC, nyaman benar. Harganya untuk menempuh jarak sekitar 7 jam perjalanan dibanderol 800 rupee, sekitar 160 ribu rupiah. Lumayan lah.

Tampak belakang bukan Prambanan 

Mendapatkan sarapan plus pemandangan Virupaksha Temple tidak bisa tiap hari saya lakukan. Momen itu benar-benar saya nikmati. Demi setangkep cheese tuna sandwich dan jus mangga sambil memandang kemolekan Virupaksha.



Raut wajah cerah sumringah

 Pagi cerah dan bebas monyet. Selesai sarapan, kami mulai merancang akan mengunjungi apa dulu seharian ini di Hampi. Sudah janjian sama si Aslam yang akan menganter muter-muter begitu check out losmen. Di Hampi agak aneh jam check-out-nya, yaitu jam 9 pagi.

Pertapa di Khrisna Temple

 Trayek pertama yang kami kunjungi adalah Krishna Temple dan Bangunan Monolithic Ganesh. Di dalam kuil Ganesh atau Ganesha, ada patung gajah besar persis logonya Institut Teknologi Bandung. Perut gajahnya besar sekali. Ganesha tersimpan aman didalam bangunan yang nyaris runtuh. 


Biggest Ganesh i have ever seen

Foto didepan patung Ganesha dan kuilnya benar-benar cakep. Pemandangan dan komposisi dari sudut manapun tetep ciamik.

Rumahnya Ganesh

Flying pose Hampi

Sampai siang hari, Aslam membawa kami keliling keluar masuk reruntuhan kuil yang terserak diseluruh pelosok Hampi. Sampai akhirnya jam makan siang tiba, Aslam mohon ijin untuk istirahat.



Reruntuhan Hampi, konon ini dulunya Masjid

Kami minta diturunkan di restoran Mango Tree, yang anehnya tidak ada pohon Mangganya barang sebatang. Rehat disana sekitar dua jam untuk leyeh-leyeh dan menikmati pemandangan sungai Tungabhadra. Sementara Aslam pergi untuk pulang istirahat di rumahnya.

Ngaso dulu

###

Restoran Mango Tree benar-benar unik. Dari gerbangnya yang terletak dipinggir jalan, hanya ada sebuah plang alakadarnya berisi petunjuk menuju restoran. Hebatnya pakai acara lewatin jalan setapak di tengah ladang. Mengikuti jalan setapak, dipinggiran kali kecil sampai muncul gerbang kedua.


Jalan setapak menuju Mango Tree resto

 Restorannya benar-benar rindang, dikelilingi pohon rimbun yang besar-besar, menjadikan acara leyeh-leyeh disitu menjadi nyaman. Pemandangan utamanya adalah sungai Tungabadhra. Semuanya sempurna! Momen-momen begitu sungguh indah tak terperi. Sering saya bersyukur betapa beruntungnya hidup saya. Simpel.

Lets have delicious lunch

Siang itu kami benar-benar pesan makanan enak, dan pastinya murah. Diawali dengan Pakoda Onion, semacam bakwan tapi berasa bumbu kare yang rasanya super nagih dicocol pake saus sambal. Selanjutnya minum jus mangga untuk menetralisir.


Pakoda Onion

Sedang musim mangga sepertinya di Hampi. Agak kenyang dengan makanan pembuka, saya leyeh-leyeh menikmati pemandangan sungai sambil baca si Lonely Planet. Lantas pesan lagi Spaghetti tomat keju yang rasanya amboi mantap. Enak rasonyo. Irisan keju dan tomat garing diatas spaghetti panas berminyak. Ah, indahnya hidup.

Pemandangan selagi makan, eyegasm tingkat dewa dewi

Entah karena suasana dan pemandangannya yang memang cakep jadi bikin rasa makanan enak, atau memang sayanya lagi laper. Terakhir, sambil menunggu Aslam datang menjemput, saya pesan Masala Dosa dan es teh manis. Ngantuk kekenyangan.


Masala Dosa, masalah buat lo?

###

Begitu Aslam datang, segera kami lompat masuk ke dalam bajaj-nya. Pemberhentian pertama adalah turun ke pesisir sungai Tungabhadra. Airnya jernih, banyak orang India mandi dan beberapa keluarga rekreasi. 


Tungabadhra riverbank

Ada yang mencuci baju, ada yang berenang, pokoknya bebas. Dipinggiran sungai beberapa ibu-ibu menjemur pakaian mereka, terlihat agak kumuh tapi semarak karena jemuran mereka berwarna-warni.

Piknik di Sungai

Taksi!

Saya mendekat ke beberapa keluarga yang sedang piknik dan tidur siang dibawah reruntuhan kuil. Saya sapa mereka dan ternyata mereka ramah sekali. Agak kasihan melihat mereka. Terlihat mereka ingin ngobrol, tapi karena keterbatasan perbedaan bahasa, hasilnya hanya saling tertawa. Sebuah bentuk komunikasi sederhana. 


Aura bahagia


I love this river. Cinta pertama saya pada sebuah sungai.

Saya mengeluarkan kamera poket, langsung saya dikerumuni sama anak-anak. Seolah mereka bertanya benda apa ya itu. Mereka melongok-longok ke tangan saya berebutan. Saya menyuruh mereka berpose dan hasil fotonya saya perlihatkan. Mereka girang bukan kepalang. Heran gambar mereka bisa pindah ke dalam kamera digital dalam ukuran kecil, akhirnya giliran satu-persatu adegan motret mereka.


Say cheese!

###

Semakin sore, semakin banyak lagi yang saya lihat di Hampi. Mulai dari batu besar yang konon terbelah menjadi dua gara-gara efek tsunami yang disebut batu the sister, hingga batu menyerupai kepalan tangan yang ukurannya segede-gede Gaban. Sudah dirasa cukup sore itu, Aslam membawa saya ke Sebuah bendungan di Hospet.

The sister stone

Mirip kepalan tangan gak?

 Dari pintu masuknya harus jalan kaki lumayan jauh sampai ke tepian bendungan. Rupanya pemerintah India membangun taman disamping bendungan. Tidak begitu ramai, tapi lumayanlah ada taman bunga. Pintu air bendungan ini saya taksir merupakan salah satu sumber pembangkit listrik juga. Kami tidak berhasil naik keatas bendungan, hanya sekedar jalan-jalan saja di taman.

Bendungan sekaligus PLTA

Nice park dekat bendungan


Seharian Aslam menemani kami berkeliling Hampi. Terakhir dia mengantarkan kami ke terminal Hospet. Deru bajajnya meninggalkan kami di depan terminal. 


Terminal Hospet, bau pesing

Kami menunggu sleeper bus yang akan berangkat malam nanti. Sleeper bus, benar-benar bisa tidur didalamnya. Nyaman sekali. Bus tujuan Bangalore.

###

Hari Ketujuh
Hiruk-pikuk Bangalore, kota besar di India. Konon dunia teknologi India berpusat di kota ini. Terminal Bangalore pagi hari tak ubahnya terminal Purbaya di Surabaya dikali tiga. Ramai sekali. Kami mencari losmen untuk beristirahat.

Aku anak terminal. Sampai juga di terminal Bangalore

            Andri sebenarnya yang mencari losmen, karena hari ini kami akan berpisah di Bangalore. Malam nanti saya akan menerukan perjalanan menuju Chennai sedangkan Andri akan menginap di Bangalore. Kami mencari losmen di belakang ruko-ruko dekat terminal bus. Gelandangan kota merayap di pinggir-pinggir jalan mirip dengan yang ada di film Slumdog Millionaire. Kasihan, sungguh kasihan. Berupa-rupa wujud penghuni dunia.

Ini bukan jemuran, ini orang dagang kaos

            Losmen kami mungkin terletak di daerah pelacuran Bangalore. Entah apa namanya, yang pasti losmen itu bersebrangan dengan tempat prostitusi berkedok pasar. Kami intip salah satu bar yang ada disana, bahkan di siang hari bolong pun, bar-bar iru tetap buka. Lantai satu tempat cukur rambut, lantai dua restoran dan bar.

###

            Kami berkeliling tak tentu arah seputaran kota Bangalore. Melihat apa saja yang bisa dilihat. Mulai dari Freedom Park hingga taman Sri Mahatma Gandhi. Semuanya dengan berjalan kaki. Beberapa hal unik kami temui di kota besar ini.

Bebas


Lupa gedung apa hahaha

            Alkisah kami berjalan di trotoar sebuah perkantoran. Tiba-tiba ada seekor sapi besar yang lari terbirit-birit dari dalam parkiran sebuah gedung. Sapi melewati persis depan kami, menyebrang jalan tapi tidak tuntas. Dia berhenti seenaknya di tengah jalan dan membuat kemacetan. Uniknya tidak ada yang mengusir atau membunyikan klakson agar si sapi minggir. Lalu lintas terhalang, tapi lumrah saja.

         
Dont make mess with me

           Sapi pun bermalas-malasan di tengah jalan. Dia rebahkan tubuhnya diatas aspal. Pengemudi mulai menghindari sapi, perjalanan tersendat karena badan jalan terhalang badan sapi. Kami hanya melongo melihat pemandangan itu. Kalau kejadiannya di Jakarta, niscaya sapi itu sudah berakhir menjadi menu hidangan sedap malam.

Find me everywhere

            Sapi adalah hewan suci, di India dilarang untuk mengganggu sapi apalagi makan daging sapi. Bisa terkutuk tujuh turunan delapan tanjakan sembilan belokan kalau sampai melakukannya. Jadi kawan, hormatilah sapi di India.

###

Sedikit kisah tentang Mohandas Karamchand Gandhi. Dikenal sebagai Mahatma Gandhi, lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania, pada 2 Oktober 1869. Gandhi adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Gandhi kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.

Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara. Saya setuju banget tuh.

Gandhi meninggal di New Delhi, India, 30 Januari 1948, di usia 78 tahun karena dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.

Aksi protes Gandhi dituangakan dengan berjalan kaki dan diikuti pengikutnya, mumpung berada di taman Mahatma Gandhi di Bangalore, saya sempatkan berpose jalan kaki seperti Gandhi.

Mirip gak sama patung dibelakang.. Ekspresinya manaaaa!

            “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.”

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.”

-Mahatma Gandhi-

###

Kami berjalan tak tentu arah di trotoar keramaian terminal bus Bangalore. Saya melihat dari kejauhan ada orang yang berjalan kearah kami. Tiba-tiba orang itu membuka celananya dan berjongkok.  Ya, dia buang hajat di keramaian. Buang hajat!!! Oh my God! Saya tak percaya atas apa yang saya lihat. Kalau buang air kecil saja mungkin sudah biasa walau tidak sopan. Tapi ini buang air besar alias boker alias eek alias berak di keramaian -maaf, yang terakir terlalu vulgar-. Seolah tidak terjadi apa-apa. Santai saja, hanya saya shock melihat adegan barusan. Uniknya India. 

Menurut buku, padahal ada Toilet umum dekat sini.

            Perjalanan di Bangalore berakhir sore hari. Kami kelelahan dan kembali ke losmen. Sekedar beristirahat dan  bersih-bersih. Saya berkemas dan pamit dengan Andri. Kami berpisah. Andri berencana akan lebih ke selatan India mengunjungi Mysore. Sedangkan saya harus menuju Madras atau Chennai, di tepian timur India sana. Dari Chennai itulah akan ada pesawat yang akan membawa saya kembali ke Kuala Lumpur.

See ya bro. Till we meet again.

            Andri mengantarkan saya menuju terminal bus Bangalore. Kembali saya menjadi solo kresecker. Bus kota yang saya tumpangi menuju terminal di pinggiran kota Bangalore. Dari sana nanti akan ada bus antar kota antar propinsi. Madras bersiaplah, here i come.

###

Hari Kedelapan
Semalaman saya berada di bus dari Bangalore menuju Chennai. Tepar terkapar di kursi bus. Semalam tanpa bed. Regular bus. Dengan kursi saja. Terminal bus Chennai lumayan besar dan agak kebingungan ketika ingin menuju pusat kota.

Bus Bangalore - Chennai

            Saya janjian dengan Vinoth. Lagi-lagi teman Couchsurfing yang mempunyai nama belakang Kumar. Sidarth Kumar dan Vinoth Kumar bukan saudara, hanya namanya sama. Ketika saya mem-posting akan berkunjung ke Chennai di website Couchsurfing, ada beberapa tawaran mampir yang bersedia mengantar keliling-keliling Chennai. Ada yang menyediakan motor, ada yang mengajak makan siang, ada yang hanya menjelaskan tempat keren yang wajib dikunjungi, hingga balasan Vinoth yang akan mengajak berkeliling Chennai dengan angkot. Terakhir saya setuju. Ngangkot lebih merakyat.

Luntang lantung di Chennai

            Janjian dengan Vinoth di kedai depan stasiun kereta Chennai Beach. Untuk menuju kesana saya harus menuju stasiun Egmore terlebih dahulu. Masalahnya adalah, saya buta daerah terminal Chennai. Malu bertanya sesat dijalan. Kebetulan orang yang saya tanya akan meuju stasiun Egmore juga. Dia menawarkan sharing ongkos bajaj. Saya setuju.

Kayaknya nyasar nih

###

            Perjalanan menuju Egmore agak sadis. Banyak sekali saya melihat kemiskinan disudut kota Chennai. Di Jakarta rasa-rasanya jika melihat daerah Manggarai, atau pinggiran rel yang kumuh tidak separah di Chennai. Menurut saya, kemiskinan di kota ini  lebih parah. Bahkan ada yang modal selembar terpal dan mepet ke tembok, hidup bersama keluarga. Ingin rasanya membidikkan lensa dari atas bajaj ini. Tapi saya tidak tega. Anak-anaknya yang dekil, bayi-bayi menangis, ah sudah lebih baik datang sendiri kalau mau melihat. Sisi kelam kota yang tragis.

            Sampai di stasiun Egmore, suasana agak mendingan. Saya membeli karcis dan menuju stasiun Chennai Beach. Nanti saya akan sarapan Poori, –kue bulat mirip kue bantal-, sambil menunggu Vinoth.

Poori hangat, laziss

            Vinoth datang agak terlambat, tapi tidak masalah. Saya masih punya banyak waktu sebelum menuju bandara nanti sore. Kami mengunjungi Gereja St. Thomas Basilica sebagai pemberhentian pertama. Gereja ini adalah gereja tua di Chennai dengan dinding berwarna putih. Arsitekturnya sangat cantik. Saya tidak begitu paham dengan penjelasan Vinoth karena aksen Bahasa Inggrisnya ketika menjelasakan gereja ini.

St. Thomas Basilica Church - Chennai

###

            Selanjutnya kami mengunjungi tepian pantai Chennai. Bisa dibilang ini salah satu landmarknya kota Chennai. Indonesia mungkin punya pantai seperti ini di Bengkulu, Pantai Panjang.

Pantai Timur Chennai

          Tapi di Chennai ini bentangan pesisir pantai mencapai puluhan kilometer dengan jarak menuju bibir pantainya nyaris 500 meter. Niscaya jika ada acara sunbath di pantai ini bisa singkat cepat padat. Panasnya minta ampun.

Gosong instant, panas gila!

            Pemberhentian terakhir kami adalah kampus di Chennai. Sekaligus makan siang. Entah kenapa saya jauh-jauh ke India, piknik di kampus. Ini bukan sembarang kampus, konon tersohor seantero negeri. Namanya Indian Institute of Technology Madras. Tenar nian. Suasana kampus ini mirip kampus saya di Universias Indonesia Depok, rindang rimbun penuh pohon. Tersedia fasilitas bus dalam kampus juga untuk berkeliling.

Ini kampus HITS bener

            Chennai dulunya bernama Madras, karena kepentingan politik, nama kota pun berubah. Puas bermain-main di Chennai ini, saya harus kembali pulang. Berat rasanya meninggalkan India. Rasanya sekejap saja mengunjungi negara ini. Vinoth memberi catatan rute angkot saya menuju bandara. Saya berterimakasih kepada Vinoth atas waktunya menemani jalan-jalan. Giliran saya nanti menemaninya jika dia berkunjung ke Jakarta. 

Bareng Vinoth, host saya di Chennai

            Ternyata bandara Chennai sudah modern. Paspor saya distempel oleh petugas Imigrasi. Kali ini mereka sangat ramah sekali. Tapi tetap saya harus membongkar tas karena fridge magnet untuk oleh-oleh yang saya bawa terlalu banyak. Hanya memeriksa. Pesawat lepas landas, meninggalkan India menuju Kuala Lumpur.



###

Hari Kesembilan
Lepas tengah malam saya mendarat di Kuala Lumpur. Setelah proses formil imigrasi, kembali saya gelar lapak tidur di bandara. Tidur sepuas-puasnya. Penerbangan saya menuju Jakarta masih malam nanti. Masih ada waktu banyak. Daripada berdiam diri di bandara, lebih baik berkeliling menuju pusat kota.

Transit sejenak

            Hari terakhir perjalanan ini saya habiskan dengan shopping. Deileh, mantap betul. Uang yang tersisa dihabiskan. Kesannya belanja macam turis Jakarta yang heboh ketika ke Singapur atau KL, padahal saya hanya window shopping alias cuci mata. Biarlah, biar ceritanya masih punya ribuan dollar, padahal hanya sereceh dua receh. Sejenak saja transit di KL setelah perjalanan dari Barat ke Timur India, target saya selanjutnya adalah India Utara ke Selatan. Tumbar miri jahe.

@arkilos