Kamis, 27 November 2014

Sembalun Pelawangan Sembilan Penyesalan



SETENGAH sadar ternyata kaos kaki saya hanya terpasang sebelah ketika berlari tunggang langgang menuju Pos Pemantauan di sabana Sembalun. Sebelah kaos kaki masih tergenggam di tangan akibat terbirit-birit mengejar teman saya yang sudah berlari terlebih dahulu masuk ke dalam lebatnya hutan Bawak Nao. Misi kami menolong rekan pendaki lain yang mengeluh kram pada kakinya ketika turun dari Rinjani, disebabkan dia naik gunung menggunakan sendal jepit. Saya taksir kalau rekan pendaki itu menganggap dirinya seorang porter gunung yang sanggup menanggung beban pikulan menuju tanah setinggi 3726 meter di atas permukaan laut. Enak saja, naik gunung dikira perkara remeh-temeh. Baru tahu rasa dia.

Jauh, jauh sebelum kejadian heroik nan memukau hingga harus menggendong tas si pendaki kram itu, saya masih sibuk bekerja di depan PC, di kantor saya di Jakarta. Hingga saya memutuskan membeli tiket pesawat untuk keesokan harinya menuju Lombok. Boss saya geleng-geleng kepala, mungkin menganggap saya sakaw karena kurang menghirup hawa gunung. Padahal sudah dua bulan berturut-turut ini saya pasti pergi ke gunung setiap akhir pekan.

Saya bertemu dengan rekan-rekan pendaki Rinjani ketika nyaris telat boarding di Jakarta. Kami bersepakat membagi tenda di atas nanti. Entah bagaimana ceritanya, diangkutlah kami menggunakan minibus ke desa Sembalun Lawang. Kami ditampung di rumah mantan Kepala Desa. Bukan main, sangat berbeda dengan rumah Kepala Desa yang biasa saya bayangkan. Lumrahnya rumah Kepala Desa adalah mewah, megah, luas, sumringah. Tapi rumah mantan Kepala Desa yang kami inapi malam itu sungguh luar biasa sederhana. Ruang tamunya yang dulu berfungsi sebagai kantor Kepala Desa hanya dihiasi sebuah foto yang menempel di dinding tentang dua orang bersalaman. Laki-laki dan perempuan berjabat erat dimana tangan kiri mereka memegang secarik piagam yang ingin dipamerkan ke khalayak ramai. Sebuah pose standar ketika dua orang pejabat bersalaman.
Kawan, saya perkenalkan kedua orang yang ada di foto itu. Sang laki-laki adalah seorang Menteri Penerangan dan sang perempuan adalah seorang Kepala Desa. Foto itu diambil beberapa puluh tahun lalu dan yang saya lihat sekarang adalah seorang perempuan sederhana setengah baya yang sedang menjamu kami dengan keramah-tamahan luar biasa. Dia lah mantan Kepala Desa. Dia lah yang pernah memimpin desa Sembalun Lawang selama sembilan tahun. Ibu Kepala Desa itu bernama Rusmini.
Ibu Rusmini seperti sosok ibu rumah tangga kebanyakan. Semua urusan tetek bengek mulai dari memasak hingga mengurus suami dan anak-anak dilakukannya sepenuh jiwa. Tidak tampak sedikit pun bahwa dia pernah menjabat sebagai seorang Kepala Desa. Kepala Desa yang dipilih rakyat selama sembilan tahun. Kepala Desa yang konon hanya sebagai simbol tapi tidak berfungsi maksimal. Kepala Desa yang ada hanya sekedar milik desa. Bahwa sebuah desa tidak akan kurang suatu apa karena memiliki seorang sosok Kepala Desa. Tapi tunggu dulu kawan, tunggu ketika ibu Rusmini mulai bercerita.
Saya terkagum-kagum dengan sosok ibu Rusmini, dia mengaku telah sering kali menerima pejabat-pejabat ibukota yang gemar bertandang ke Sembalun Lawang demi menebar benih ikan di danau Segara Anakan. Menemani pejabat-pejabat ibukota yang bersorak sorai ikutan panen raya ketika hasil bawang putih melimpah ruah di Sembalun. Hingga mendirikan kantor Kepala Desa yang diresmikan langsung oleh Menteri Penerangan. Bukan main.


Seorang Rusmini juga tidak pandang bulu menampung siapa saja yang kemalaman dan membutuhkan bantuan. Termasuk menampung saya dan rekan pendaki lain yang akan merapat ke Semeru keesokan harinya. Ibu Rusmini berujar bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa, namun dengan menerima banyak tamu, maka rejeki akan datang sendiri. Dia beranggapan hartanya yang paling berharga adalah memiliki sahabat-sahabat nun dari antah berantah. Oleh ibu Rusmini, kami dianggap salah satunya.


Ibu Rusmini membekali kami sebutir kelapa yang sudah diparut untuk dibuat campuran sup kacang hijau ketika kami bermalam di Rinjani. Kami kemasi tas lalu melanjutkan perjalanan menuju Bawak Nao.

Sabana Sembalun membentang luas ke segala penjuru. Perbukitannya elok bak taman tempat bermain sapi-sapi gunung. Kami meniti jalan setapak di sabana Sembalun hingga mendekati hutan Bawak Nao. Pepohonan di Bawak Nao sedikit tersibak ketika kami mendekati dan berusaha masuk ke dalamnya. Jalur ini sebenarnya merupakan jalan pintas daripada kami harus melewati pos utama pendakian. Siang itu hutan Bawak Nao sedang kering. Daun berguguran ditanah menutupi jalan setapak menuju ke pos Pemantauan. Berhati-hati, kami takut tersesat ditipu rimbunnya Bawak Nao.

Pos pertama lebih dikenal oleh warga setempat sebagai Pos Pemantauan. Setelah berhasil keluar dari hutan Bawak Nao, ada dua jembatan tua besar yang kami sebrangi sebelum tiba di Pos Pemantauan. Tidak banyak pos yang dibangun di jalur pendakian Sembalun. Totalnya hanya ada tiga pos, yaitu Pos 1 Pemantauan, Pos 2 Tengengean, dan Pos 3 Pada Balong. Terlihat mudah dan praktis. Tapi sejatinya ujian baru dimulai setelah melewati Pos Pada Balong.

Jika kawan mendaki gunung Rinjani, harus menyiapkan persediaan air sebaik mungkin. Sebab air mudah didapat ketika berada di Pos Tengengean. Setelah itu silahkan menahan haus hingga sampai di Pelawangan Sembalun.

Lepas dari ketiga pos tadi, maka tersaji sebuah track  tanjakan yang sungguh sangat menguji nyali. Pendaki terdahulu menyebutnya sebagai tanjakan penyesalan. Entah berapa jumlah resminya itu tanjakan. Ada yang bilang sekitar sembilan kali tanjakan, tak heran jalur menuju Sembalun Pelawangan itu kerap disebut sebagai jalur Sembilan Penyesalan. Mendengar namanya saja saya sudah menyesal. Kepalang tanggung.


Jika gunung Semeru mempunyai satu tanjakan bernama Tanjakan Cinta untuk mengurai bukit dibaliknya, maka Rinjani ibarat kucing yang memiliki sembilan nyawa. Silahkan kalikan sembilan Tanjakan Cinta ditambah bumbu penyedap Tanjakan Setan dari gunung Gede, maka kalian akan menyesal telah berani-beraninya berhadapan dengan Rinjani.


Usaha kami untuk menggapai Pelawangan Sembalun berakhir di sore hari. Penyesalan bertubi-tubi tadi hilang laksana sulap, menguap entah kemana. Kami hanya diam duduk tepekur memandangi danau Segara Anakan yang mulai ditutupi awan. Kami tidak sadar bahwa kami sudah sampai di ketinggian 2600-an meter diatas permukaan laut.


Keindahan Sembalun Pelawangan semakin menjadi-jadi. Matahari berhasil menyibak awan seolah memberi aba-aba bahwa dirinya segera beringsut digantikan malam. Semburat kemerahan dari sebuah noktah berpendar mewarnai langit, mengoyak kabut hingga menyusup ke dalam danau. Lambat-lambat tapi pasti, cahaya di langit Sembalun Pelawangan meredup, berganti kelam bertabur jutaan bintang. Sungguh indah, indah tak terperi.


Kemah di Sembalun Pelawangan, -kalau boleh saya sarankan-, agar kawan mengambil posisi lebih ke arah barat daya. Disana akan lebih mudah dijumpai sumber mata air untuk persiapan menginap beberapa hari ke depan. Apa yang harus diwaspadai adalah serbuan monyet hutan, jangan sekali-kali membiarkan tenda kemah terbuka tanpa ada yang menjaga atau meletakkan barang berharga sembarangan. Pasukan bromocorah berbulu abu-abu itu tak kan segan menggasak benda tak bertuan untuk dibawa ke markasnya, di dasar jurang.

Idealnya untuk menuju ke puncak Rinjani dimulai sejak dini hari dari Pelawangan Sembalun. Namun apa daya, tim kami ada yang sakit sehingga serangan menuju puncak Rinjani harus ditunda hingga matahari benar-benar terbit.

Bukan masalah besar, sebab ketika di gunung kekompakan adalah yang utama. Kami mulai mendaki ke puncak waktu matahari sudah naik kira-kira sepenggalah. Punggungan Rinjani ibarat tulang belakang manusia. Kami mulai jelajahi dari tulang ekornya hingga melewati leher dan tiba di kepala. Punggungan Rinjani melengkung seolah ingin menoleh dengan angkuh.


Lebar punggungan itu tak seberapa, dimana kanan dan kirinya tersaji jurang menganga yang langsung menghantarkan kepada danau Segara Anakan. Tampak dari punggungan Rinjani ke arah Segara Anakan, ada sebuah gundukan menonjol yang mencuat menembus danau. Kawan, tahukah kalian siapa dia? Sini saya beri tahu, dia adalah Anak Rinjani. Aktif dan tubuhnya masih bergejolak laksana gejolak darah kawula muda.

Tiba di leher Rinjani, tabiat tanjakan mulai semakin liar. Batu berpasir membuat ayunan langkah semakin berat. Maju selangkah, mundur setengah. Tapi semangat ini pantang menyerah. Saya pasang strategi untuk tetap maju bertahan di leher Rinjani. Strategi ini saya sebut Ayunan Seratus Langkah. Dalam hati saya menghitung dan tidak boleh berhenti sesuai ayunan langkah hingga hitungan ke seratus. Rupanya strategi Ayunan Seratus Langkah itu hanya bertahan dalam tiga kali pengulangan. Medan yang saya daki tidak semudah kelihatannya. Saya ganti strategi.


Jika Ayunan Seratus Langkah terlalu berat, kali ini saya mencoba strategi Ayunan Limapuluh Langkah. Beharap Rinjani sedikit melunak, tapi ternyata sia-sia. Rinjani tak sudi di daki dengan mudah, lehernya menegang seolah ingin mengibaskan tengkuknya agar pendaki yang berada diatasnya segera turun. Benar saja, bahkan lebih parah dari sebelumnya, strategi Ayunan Limapuluh Langkah hanya bertahan sekali. Pada hitungan ke-limapuluh, ayunan kaki saya berhenti. Pasrah.


Menenggak air mineral botol, lumayan membuat semangat kembali terpercik. Saya pikirkan strategi lain agar bisa sampai di puncak Rinjani. Ternyata saya kehabisan ide. Tidak mau hilang akal, maka saya ambil mimpi-mimpi saya dan meletakkannya di atas puncak Rinjani. Tekad sudah bulat, harus saya gapai mimpi itu. Harus saya rebut kembali. Apa pun taruhannya.


Saya tengok ke belakang, beberapa teman juga sedang bersusah payah merajah Rinjani. Kali ini saya tidak lagi berstrategi menghitung langkah, tapi istighfar. Setiap kaki mengayun, keluarlah puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa. Ajaib, sisa pendakian itu terasa dekat saja. Diujung Rinjani nan terjal, mimpi-mimpi saya sudah menunggu untuk dipeluk kembali.
Tidak akan pernah saya lepas lagi mimpi itu. 3726 meter di atas permukaan laut saya dekap erat keinginan dan mimpi untuk menyambangi benua Australia. Doakan saya.



**Sedikit tips, jikalau berguna:

  1. Mengunjungi Taman Nasional Rinjani jangan di bulan Januari hingga April, karena pada bulan tersebut adalah masa pemulihan ekosistem dimana hewan-hewan sedang musim kawin. Kalau nanti mereka melihat pendaki dan jadi salah kawin bisa berabe.
  2. Ada dua jalur pendakian yang umum digunakan. Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Jalur Senaru, menurut hemat saya, lebih berat daripada Jalur Sembalu karena harus naik turun di Danau Segara Anakan. Tapi pemandangan di danaunya dapet banget dan bisa mancing.
  3. Ini rute Jalur Sembalun: Sembalun Lawang (1156mdpl) – Pos 1 Pemantauan (1300mdpl) – Pos 2 Tengengean (1500mdpl) – Pos 3 Pada Balong (1800mdpl) – Bukit Penyesalan (9x tanjakan) – Pelawangan Sembalun (2639mdpl) – Puncak Rinjani (3726mdpl).
  4. Ada juga rute Senaru: Desa Senaru (601mdpl) – Jebak Gawah – Pos 1 (915mdpl) – Pos Extra (1165mdpl) – Pos 2 (1500mdpl) – Pos 3 Mondokan Lokak (2000mdpl) – Cemara Lima (2503mdpl) – Pelawangan Senaru (2641mdpl) – Danau Segara Anakan (2000mdpl) – Pelawangan Sembalun (2639mdpl) – Puncak Rinjani (3726mdpl).
  5. Cara menuju Sembalun atau Senaru ada berbagai macam. Sewa mobil kalau perginya rame-rame. Jika hanya sedikit yang mendaki atau pergi sendirian, mainkan angkot dan ojek.
  6. Bersikap biasa aja kalau naik gunung, jangan nyampah, rendah hati, tidak sombong dan tetap rajin menabung.
  7.  Gak usah norak kalo ketemu bule. Minta tanda tangan atau foto bareng. Sumpah gak penting, yang ada juga mereka kudu minta tanda tangan kita. Secara kita yang punya negara.
  8. Gak usah ikut-ikut bule yang buka baju. Karena kulit mereka di desain untuk sunbath. Kalau masih ngeyel juga, mau ikutan buka-buka baju biar ke-tanning-tanningan, jangan salahkan saya kalau bukan tanning yang didapat. Tapi kulit ngelotok mirip kulit jambu bol yang terkelupas.
  9. Perlengkapan komplit jangan lupa dibawa. Kalau malas bawa, silahkan sewa porter dan guide. Masih menurut saya, jika naik gunung tapi barangnya dibawain, kayaknya kurang ho-oh.
  10. Lebih baik norak di gunung daripada norak di mall. *apa dah*




Jumat, 17 Oktober 2014

an Indonesian in Indochina (babak #5)

PAMAN Ho seolah mengundang saya untuk menyapa dirinya. Sejujurnya saya tidak mengenal siapa itu Paman Ho. Informasi yang saya dapatkan bahwa paman Ho adalah seorang komunis yang telah meninggal pada tanggal 2 September 1969, disebuah rumah di kota Hanoi ketika berusia 79 tahun. Kematiannya meninggalkan kesan sedih yang mendalam bagi rakyat Vietnam. Seolah abadi, Paman Ho hingga kini tetap muncul di sudut-sudut kota, di lembaran uang, di gedung-gedung publik seantero Vietnam. Bahkan kontribusi Paman Ho dibidang budaya, pendidikan, seni, kemakmuran rakyat, perdamaian, demokrasi dan sosial telah diakui oleh UNESCO. Paman Ho telah menunggu lama di Ho Chi Minh City. Mari berangkat.


Tiket pesawat dari Jakarta ke Ho Chi Minh City itu tidak memiliki nilai rupiah. Harganya nol alias gratis, pulang pergi. Saya tidak membayar sepeser pun untuk harga tiket, hanya harus membayar pajak bandara-nya saja yang sudah dimasukkan dalam tiket kepulangan. Terserah kawan mau percaya atau tidak, yang pasti saya ke HCMC, -Ho Chi Minh City-, hanya bermodalkan tujuh lembar sempak disposable karena menurut saya mencuci sempak adalah perkara remeh-temeh tapi amat sangat penting. Lebih penting daripada gonjang-ganjing dan kisruh demi memutuskan aturan untuk memilih seorang kepala desa.

Uncle Ho greets you


Niatnya pergi seorang diri menuju HCMC. Siang itu di bandara Soekarno Hatta saya mendapatkan kejutan. Ada lima teman saya yang ternyata juga akan ke HCMC. Jadilah kami pergi berenam dengan prinsip the more the merrier. Kami berenam langsung membuat grup bertajuk Power Rangers Jelajah Indochina. Maksa. Amat sangat terpaksa.



###




Matahari di HCMC sudah tenggelam ketika kami tiba. Kota HCMC tipikal kota di Asia yang masih macet dan ramai lalu lalang kendaraan ugal-ugalan. Pengendara sepeda motornya sama seperti Jakarta, banyak sekali seumpama laron yang berkerubung ketika lampu lalu-lintas berpenjar merah. Kami menumpang taksi menuju pasar Ben Tanh. Di dekat pasar ada losmen murah yang akan kami sewa. Semalam saja.





“Pengendara motor di HCMC sama banyaknya dengan di Jakarta, mirip laron yang berkerubung ketika lampu lalu-lintas berpenjar merah”




Tidak mau membuang waktu, malam itu juga kami langsung menuju pusat kota HCMC dan mengunjungi beberapa bangunan unik yang ada di sana. Saya teringat kesan kota Paris sewaktu blusukan di HCMC. Pernah sekali saya berkesempatan mengunjungi Paris akibat menang lotere. Di Paris ada sebuah gereja cantik yang bernama Notre Dame. Tak dinyana saya pun menemukan Notre Dame lain di HCMC.

HCMC's Notre Dame


Akhirnya pertemuan pertama kami dengan Paman Ho terjadi ketika kami menyusuri pasar Ben Tanh ke arah pusat kota.  Paman Ho sedang berpose di depan sebuah rumah besar berwarna putih, yang baru belakangan kami tahu nama bangunan itu adalah Bac Ho. Entah artinya apa.

Bac Ho


Pertemuan kedua dengan Paman Ho, terjadi ketika kami mengunjungi kantor pos di seberang Notre Dame. Kali ini Paman Ho menyambut kami dalam sebuah bingkai lukisan besar. Setelah berpamitan dengan Paman Ho, kami luntang-lantung tak tentu arah menyeruak di HCMC. Malam semakin larut tapi penjelajahan kami belum tuntas. HCMC terasa bagai kota labirin karena kami tersesat didalamnya dalam rangka kembali menuju losmen.

HCMC's Post Office

Get lost and drunk

###

Sinh travel, nama agensi tur yang akan membawa kami menuju Kamboja. Mereka menyediakan bus menuju Phnom Penh, ibukota Kamboja. Du lich alias turis, itulah sebutan kami selama berada di Vietnam. Semangat kami sebagai Power Rangers semakin berkobar menuju Kerajaan Kamboja.

Go go Power Rangers


Heading to Kingdom of Cambodia


Royaume du Cambodge begitulah bangsa Perancis yang sempat menjajah Kamboja menyebut negara ini. Sebuah negara dengan isi pasukan khmer Rouge atau Khmer Merah yang kejam. Sebenarnya Khmer adalah nama suku bangsa yang ada di Kamboja. Baru kemudian partai komunis yang ada di Kamboja memiliki cabang militer yang berisikan pasukan Khmer. Lalu pada tahun 1960-1970 dimulailah perang gerilya pasukan Khmer untuk melawan rezim Pangeran Shihanouk dan Jenderal Lon Nol. Pasukan Khmer berhasil menggulingkan pemerintahan di Kamboja dibawah pimpinan Pol Pot. Secara sadis Pol Pot mengamini pembunuhan massal terhadap kaum intelektual. Saat itu kamboja berdarah-darah hingga datang bantuan dari Vietnam. Tentara Vietnam mengusir pasukan Khmer. Konon pasukan ini masih bercokol di hutan-hutan dan kami dengan sukarela akan menerabas Kamboja melalui Phnom Penh hingga ke Sieam Reap. Semoga tidak bertemu dengan si Khmer Rouge itu.



Berulang kali saya melihat peta dan yakin bahwa tidak ada laut diantara Vietnam dan Kamboja. Tapi bus yang membawa saya dan pasukan Power Rangers ini berhenti di sebuah pelabuhan, bersiap masuk ke lambung kapal. Saya taksir besarnya serupa kapal fery yang ada di Bakauheni. Saya intip sekali lagi peta dengan seksama, namun tetap tidak ada laut. Apakah kami sedang berada di sungai Mekong yang termasyhur? Ini kali pertama saya menyebrang sungai harus menggunakan kapal fery laksana menyebrang pulau. Begitu lebarnya sang sungai, menjadi pembatas antar negara. Sisi sungai yang kami sebrangi masih berada di teritori Vietnam.


###

Imigrasi birokrasi terasi basi, semuanya hanyalah kata yang berakhiran –si. Di perbatasan negara antara Vietnam dan Kamboja itu, masih saja saya menemukan calo. Sebagai pemegang paspor berlogo Garuda, harusnya sudah bebas visa untuk masuk ke Kamboja. Namun apa lacur, birokrasi menyatakan bahwa warganegara Indonesia masih harus memperoleh visa untuk masuk ke Kamboja. Calo-calo tengik pun beraksi di perbatasan. Mereka meminta upah 5 USD dari setiap sticker visa yang berhasil ditempelkan di lembaran buku paspor. Padahal tarif resminya hanya 20 USD. Intimidasi perbatasan yang memuakkan.



Kami terkena jebakan calo demi lolos dari Bavet border. Setelah urusan remeh-temeh perbatasan tadi, kami meluncur menuju Phnom Penh.




Tujuh jam perjalanan dari HCMC menuju Phnom Penh belum berarti apa-apa. Singgah sejenak di ibukota Kamboja hanya untuk berganti bus. Lagu-lagu dalam Bahasa Kamboja mengiringi sepanjang perjalanan. Petang hari kami tiba di Sieam Reap setelah perjalanan datar yang mana di kanan-kiri jalan hanya ditumbuhi pohon pinang. Kalau di Indonesia, pohon pinang itu pasti ludes ketika bulan Agustus tiba.




Tulip Garden Hostel bertarif 12USD per kamar. Isi 3 tempat tidur. Sangat nyaman dan murah. Pemandu wisata kami pun ramah sekaligus bertindak sebagai supir tuk-tuk yang akan mengantarkan keliling Angkor Wat esok hari. Selamat malam Sieam Reap.


###

Kami mendapatkan setangkup roti bakar dan jus, jatah dari hostel untuk sarapan. Terburu-buru kami menuju tuk-tuk karena sudah tidak sabar ingin menjelajah Angkor Wat. Kawan, saya ceritakan sedikit tentang apa itu Angkor Wat. Mungkin bisa menjadi penyemangat jika kawan ingin bertandang ke Kamboja.



Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota Angkor. Kapan candi ini dibangun, konon pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Suryawarman II dan memakan waktu sekitar 30 tahun lamanya. Disekitar dataran Angkor juga terdapat beberapa kuil lain yang indah, tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Menurut kepercayaan Hindu yang meletakan gunung Meru sebagai pusat dunia  dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, maka menara tengah di Angkor Wat adalah menara tertinggi sekaligus merupakan menara utama dalam kompleks Angkor Wat.

Angkor's main gate


Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mewakili dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar susur pegangan tangan dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut Baray. Gerbangnya di ujung jembatan pelangi seolah menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.



Bisnis pariwisata di Angkor Wat sangat baik. Untuk turis lokal, tarif resmi yang dipatok adalah 20 USD untuk seharian berkeliling. Tiket masuk tercetak jelas disertai foto. Sedangkan biaya tuk tuk, kami sewa terpisah. Silahkan tawar-menawar dengan pengemudi tuk tuk, harga yang wajar adalah 15-25 USD per hari.


Happy moments :)

Kami berkeliling di komplek Angkor Wat patungan menyewa tuk tuk seharga 20 USD. Kalau kawan punya waktu lebih banyak, bisa mencoba berkeliling dengan sepeda atau berjalan kaki. Lebih murah dan menantang. Komplek Angkor Wat sangat luas laksana sebuah kota. Kuil-kuil yang kami sambangi selain Angkor adalah Kuil Bayon, Kuil Ta Phrom dan Kuil Banteay Srei. Kuil-kuil utama yang wajib dikunjungi.



Climbing the same tree as Angelina Jolie did

Hitam legam, terbakar matahari. Kulit kami menjadi gelap akibat seharian full berkeliling komplek Angkor Wat. Ketika maka malam, kami mendapatkan suguhan tari-tarian khas Kamboja. Kali ini tariannya sangat berbeda dengan tarian di Phuket tempo hari. Pantaslah saya sebut tariannya sebagai sendra tari. Sangat memukau.



Malam terakhir di Sieam Reap kami habiskan dengan berjalan-jalan. Grup ibu-ibu pergi belanja, sementara grup bapak-bapak mencoba pijat tradisional ala Kamboja. Mari rileks, karena hidup sudah terlalu berat.

Cambodia's traditional dance

###

Kami berkemas keesokan harinya dan kembali ke Phnom Penh. Di ibukota Kamboja itu kami berpisah. Teman-teman saya ingin melanjutkan eksplorasi kota Phnom Penh, namun saya berhasrat mengunjungi kota Da Lat di Vietnam. Padahal saya tidak tahu ada apa di kota Da Lat. Hanya asal menunjuk peta.



Untuk menuju Da Lat dari Phnom Penh, saya harus kembali ke HCMC. Itu berarti 7 jam perjalanan. Tidak apa, saya sudah terbiasa bolak-balik jalur darat. Melewati rute yang sama akhirnya saya tiba di HCMC malam hari. Beristirahat sebentar di warung kopi, lalu saya melanjutkan menumpang bus Mai Linh menuju Da Lat. Sekaligus bermalam di dalam bus.






            Seorang pelancong selayaknya harus paham yang namanya geografi. Setidaknya riset dulu kecil-kecilan tentang tempat tujuan. Jangan seperti saya, main langsung hajar bleh yang penting happy. Berbekal hanya sepotong celana pendek, kini saya kena batunya. Tidak tahu bahwa hawa di Da Lat dinginnya minta ampun.

“Seorang pelancong selayaknya harus paham yang namanya geografi”

            Terletak pada 1500 meter diatas permukaan laut, ternyata Da Lat merupakan salah satu dataran tinggi yang ada di Vietnam. Jam 4 dini hari, bus yang saya tumpangi merapat di Da Lat. Begitu keluar terminal, hawa dingin langsung menyergap. Tanpa persiapan untuk cuaca dingin, terpaksa saya meringkuk di dalam terminal menunggu dijemput matahari.



            Setahu saya yang sering sok tahu, nama kota Da Lat adalah sebuah singkatan dari bahasa latin ‘Dat Aliis Laetitiam Aliis Temperiem’ yang berarti It gives pleasure to some, freshness to others. Saya percaya saja. Pasalnya selama saya berada di Da Lat merasa benar-benar santai dan damai. Suhu kota yang dingin, menjadikan bunga-bunga tumbuh subur seantero kota. Sangat cantik sekali.



            Kawan, jika kalian sedang stress dan perlu pelarian, saya sarankan agar mengunjungi Da Lat. Di kota ini benar-benar pas untuk menyepi menenagkan diri. Saya termasuk anak pelarian, maka saya tidak salah pilih untuk berkunjung ke Da Lat. Jangan lupa untuk membawa baju hangat selama berada di kota ini. Saya berikan beberapa tempat rekomendasi yang bisa menghilangkan setres atau tekanan hidup. Berat bener kesannya. Cukup sewa motor bisa berkeliling ke tempat-tempat berikut:

Taman Bunga Da Lat
Tempat ini cocok dikunjungi ketika pagi atau sore hari. Sangat memanjakan mata. Tanaman dan bunga warna-warni tertata amat sanagat rapi. Mereka juga memiliki pasar kupu-kupu awetan.





Istana Bao Dai
Rumah peninggalan penguasa terakhir dari Dinasti Nguyen yang berkuasa di Vietnam. Rumah ini merupakan rumah besar yang dijadikan istana. Halaman istana Bao Dai sangat luas dan juga cantik. Pengunjung bisa bebas menikmati seluruh penjuru rumah dan bisa berfoto layaknya kerabat dari Dinasti Nguyen ini. Saya adalah salah satu keluarga mereka dan bersedia mewarisi istana Bao Dai.




Pasar Da Lat
Hanya sekedar pasar tradisional, tapi jajanan lokal kudu wajib dicoba. Saya mencoba cendol Vietnam. Wah rasanya manis segar gurih lezat enak tak tersisa.
Kuil Van Hanh
Kuil ini terletak diatas bukit dengan patung Budha bersila besar yang menjadi landmark-nya. Dari kejauhan mudah dicari karena sang Budha duduk bersila seolah mengawasi seluruh kota. Pemandangan dari kuil Van Hanh juga cadas. Pasti akan lebih dari sejepret-dua jepret jika kawan membidikan kamera.




Little Eiffel
Sudah tidak perlu ke Paris untuk melihat menara Eiffel. Di Da Lat ada replika Eiffel setinggi tiang BTS. Bedanya Eiffel mini ini tidak memancarkan sinyal telepon. 




            Puas berkeliling di Da Lat, saya langsung kembali menuju HCMC. Sekali lagi bermalam di bus karena keesokan harinya saya harus mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Kalau mikirin capek, saya tidak bisa melihat tempat-tempat indah dalam waktu singkat karena cuti kantor terbatas. Jadi kawan, selagi ada waktu dan kesempatan untuk melihat belahan dunia lain, sikat. Karena saya setuju, amat sangat setuju dengan pepatah Who lives sees, who travels sees more.


@arkilos