Selasa, 10 Desember 2013

Waktu Indonesia Bagian Barat

WIB - Waktu Indonesia Bagian Barat. Di zona waktu ini saya mengunjungi beberapa Provinsi dan Kota. Walau belum semuanya dikunjungi, saya akan runut dari nun ujung di Aceh sana.

Cita-cita saya adalah menjelajah seluruh provinsi di pulau Sumatera, bagaimanapun caranya. Doa ngetrip gratisan pun terkabul, hinggaplah saya diujung Aceh, tapi nyesel tidak ke pulau Weh.

Pengalaman mengunjungi Serambi Mekkah, julukan Daerah Istimewa Aceh, suasana paska bencana tsunami berhasil meningkatkan tingkat keimanan dan ketakwaan saya hingga nyaris 100%. Betapa besarnya kuasa Tuhan memberikan cobaan, tapi rakyat Aceh -sesuai lagu favorit saya- tetap berprinsip Jangan Menyerah.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Sungguh indah bukan buatan melihat Masjid Raya Baiturrahman. Sejak SD saya sudah mengenal masjid ini dari tayangan azan maghrib di televisi. Niat teguh dan lurus harus melihat masjid ini suatu saat nanti pun terkabulkan. Berdiri di depan masjid ini seolah berasa turut serta di tayangan azan maghrib.

Saksikan saya nongol di TV tiap maghrib
 Dari Aceh, saya melanjutkan perjalanan menuju Sumatera Utara. Nge-hitchhike alias nebeng kapal patroli Bea Cukai yang sedang berlayar menyusuri selat Malaka. Jangan tanya saya gimana caranya nebeng kapal patroli ini. Yang pasti kapal pemecah ombak yang saya naiki, menyingkat waktu perjalanan hingga sampai di Belawan. Pelabuhan besar Sumatera Utara ini sibuk dengan bongkar muat barang ke negeri seberang. Keluar dari Belawan, saya masuk ke kota Medan. Disana saya sempat menginap di Masjid Agung Medan dan Masjid Raya Maimun. Beberapa tempat wisata di kota Medan seperti Rumah Tjong A Fie dan Istana Maimun wajib dikunjungi. tapi yang paling seru adalah kulinernya. 

Misi Pak, nebeng ya. Makasih.
Kota Medan, menurut saya, bersaudara dengan pulau Penang di Malaysia. Suku melayu dengan leluhurnya dari keturunan Cina Peranakan menyemarakkan peninggalan bersejarah di dalam kota. Buktinya yaitu rumah tua Tjong A Fie. Pernah sekali waktu saya mengunjungi pulau Penang dan disana ada rumah sejenis yang berciri khas Baba Nyonya. Selain itu ada istana Maimun beserta masjidnya yang turut andil dalam memberikan ciri khas kota Medan.

Istana Maimun Medan
Masjid Raya Maimun, letaknya bersebrangan dengan Istana
Tjong A Fie muda
Sekilas cerita tentang Tjong A Fie, untuk lengkapnya akan saya ceritakan nanti kawan. Tjong A Fie alias Tjong Fung Nam dilahirkan pada tahun 1860 di Sung Kow, sebuah desa di Cina. Tjong A Fie tumbuh sebagai pemuda dan merantau keluar dari daratan Cina hingga sampai di pesisir timur laut Sumatera. Saat itu tahun 1877 ketika dirinya berlabuh di Belawan. Tjong A Fie memulai membangun kehidupannya dibawah kesultanan Deli. Hidupnya dimulai dengan berdagang dan ternyata sukses. Saat itu pemerintahan Belanda melihat bakat yang dimiliki Tjong A Fie dan mengangkatnya sebagai pegawai pemerintah dengan pangkat Letnan. Hingga berpangkat Mayor, Tjong A Fie mengurusi pemerintahan di bidang sosial terutama yang menyangkut keturunan Tionghoa. Hingga pada akhirnya dia membangun kota Medan dengan membangun masjid, kuil, gereja, rumah sakit, panti asuhan, dan pemukiman penduduk. Karena jasanya, Tjong A Fie juga mendapatkan penghargaan dari Cina pada masa Dinasti Ching. Mansion-nya dibangun pada areal kurang lebih satu hektar pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Tjong A Fie sendiri meninggal pada 4 Februari 1921 dalam usia 61 tahun.

Keluarga besar Tjong A Fie, sekarang masih ada keturunannya yang tinggal di Mansion

 "There on the earth where I stand I hold the sky, success and glory consists not in what I have gotten but in what I have given" 
- Tjong A Fie -

Ahli waris Tjong A Fie yang masih hidup :)
Lelah tidur di masjid di kota Medan, saya berniat mencari losmen sekedar meluruskan punggung diatas kasur. Malam nanti saya bertekad tidak mau tidur beralas karpet. Merantaulah saya ke Berastagi. Dataran tinggi di Sumatera Utara yang hawanya mirip Bandung. Sampai Berastagi masih pagi. Saya naik bus sekitar dua jam perjalanan dari Padang Bulan. Cukup bayar sepuluh ribu rupiah, sampai di dekat Tugu Pahlawan Berastagi, saya turun. Tempat ini berdekatan dengan Taman Mejuah-juah, salah satu tempat rekreasi.  Saya suka hawa Berastagi yang sejuk. Losmen disini pun murah meriah tanpa AC. Cukup bayar 75 ribu per malam, sudah dapat penginapan lumayan. Tanpa buang tempo, saya langsung mengunjungi tujuan utama yaitu Air Terjun Sipisopiso dan Danau Toba.

Air Terjun Sipisopiso mengucur deras dari dalam perut Karo Plateau
Aliran air terjun Sipisopiso mengalir terus dan bermuara ke Danau Toba. Penasaran ingin melihat danau Toba, kembali saya cegat angkot jurusan Kabanjahe ke Tongging. Berkali-kali angkot penuh sesak. Hingga saya harus berdesakkan sampai ke Tongging. Umpel-umpelan di angkot pun terbayar ketika saya melihat langsung riak-riak Danau Toba. 


Di pinggiran danau banyak orang berjualan. Ada dagangan yang menarik yaitu Mangga Udang, ukurannya mini. Manis kecil-kecil. Cara makan mangga udang langsung gigit, macam makan apel. Terlena sejenak menikmati danau dan dataran tinggi Karo yang berderet-deret mengepung Toba. Santai di Tongging, hanya saya dan kamera. Betah rasanya.

Mangga Udang, goceng tiga
Memang Toba melenakan, tau-tau sudah menjelang sore. Angkot semakin jarang. Saya coba cari ojek untuk mengantar sampai ke atas, ke jalan raya menuju Kabanjahe. Tapi nihil. Pedagang mangga kecil pun mulai membereskan dagangan. Waktu saya semakin sedikit. Kalau sampai gelap dan masih di Tongging bisa bahaya. Saya tidak membawa perlengkapan. Nun di warung kopi di pinggir Toba, saya melihat ada kendaraan terparkir. Isinya seorang ibu dan dua anak lelakinya menghabiskan sore di tepi danau. Sang sopir tampak kurang senang ketika saya mendekat. Dia mencium gelagat saya mau nebeng. Tetap saya harus mencoba, permisi mohon tumpangan kepada sang ibu. Ajaib! Ibu itu begitu ramah, dan mempersilahkan ikut hingga -paling tidak- ketemu jalan raya. Keluarga Sitompul, begitu nama mereka, sengaja datang ke Tongging untuk bersantai sore. Keramahtamahan keluarga Sitompul  sangat berarti. Mereka menurunkan saya di jalan raya, persis di depan toko kelontong. Saya rasa cukup, selanjutnya tinggal menunggu angkot kembali ke Kabanjahe lalu ke Berastagi.


Bersambung...


Tentang Kresecker

KENAPA bukan Kreseker tapi Kresecker pakai "c" dari Charlie? Biar keren aja. Walau norak biarlah, karena memang saya jarang berpergian yang mahal-mahal. Semurah-murahnya orang nge-trip paling gak modal backpack, nah ibaratnya saya cuman modal kantong kreseck. Gratis tiada tara.

Kemasan tulisan berbungkus kreseck ini adalah perjalanan saya dimulai dari Indonesia. Mulai dari Jakarta, as the starting point, menuju Aceh hingga Papua. Keluar sedikit dari Indonesia, kreseck itu akan berkibar di Asia Tenggara. Jauhan sedikit lagi menyusuri Asia Timur hingga mendarat di Eropa.

Jangan berharap liat kantong kresek ya. tapi akan saya berikan perjalan murah, semurah-murahnya, karena saya cinta gratisan. Kalau ada yang murah ngapain cari yang mahal, kalau ada yang gratis ngapain cari yang murah. Selamat menikmati, mumpung gratis!